123Berita – 05 April 2026 | Ujian Surat Izin Mengemudi (SIM) di Indonesia tidak hanya menguji pengetahuan aturan lalu lintas, melainkan juga menilai kemampuan visual pengemudi. Salah satu komponen penting yang sering muncul adalah tes Ishihara, sebuah rangkaian gambar berwarna yang dirancang khusus untuk mendeteksi buta warna. Pertanyaan “Bisa lihat buah apa di gambar ini?” menjadi contoh klasik yang menguji sejauh mana mata calon pengemudi dapat membedakan nuansa warna.
Tes Ishihara pertama kali dikembangkan oleh Dr. Shinobu Ishihara pada tahun 1917 di Jepang. Tujuannya adalah menyediakan metode cepat, murah, dan akurat untuk mengidentifikasi defisiensi persepsi warna, terutama tipe deuteranopia dan protanopia. Setiap lembar tes menampilkan puluhan titik berwarna dengan intensitas berbeda, membentuk angka atau pola yang hanya dapat dilihat oleh orang dengan penglihatan warna normal. Jika seseorang melihat angka yang salah atau tidak melihat sama sekali, kemungkinan besar ia memiliki gangguan penglihatan warna.
Di Indonesia, Kementerian Perhubungan menjadikan tes Ishihara sebagai bagian wajib dalam proses penerbitan SIM A dan SIM C. Hal ini bukan sekadar formalitas; kemampuan membedakan warna sangat krusial bagi keselamatan berkendara. Lampu lalu lintas, rambu peringatan, dan marka jalan semuanya menggunakan kode warna standar. Seorang pengemudi yang tidak dapat membedakan merah dengan hijau atau kuning dapat menimbulkan risiko kecelakaan yang serius.
Data terbaru menunjukkan bahwa mayoritas pelamar SIM yang berhasil melewati tahap tes mata mampu menjawab pertanyaan “buah apa yang terlihat pada gambar ini?” dengan tepat. Menurut survei internal Korlantas Polri, lebih dari 85% peserta yang lulus ujian mata mengidentifikasi buah berwarna merah atau hijau dengan akurat. Angka ini menegaskan korelasi kuat antara kemampuan membedakan warna dan kelulusan ujian SIM.
Bagaimana sebenarnya tes Ishihara dilaksanakan dalam konteks ujian SIM? Prosesnya biasanya meliputi tiga langkah utama:
- Persiapan visual: Calon pengemudi diminta duduk pada jarak standar (sekitar 75 cm) dari lembar tes yang ditempatkan pada permukaan datar.
- Pembacaan gambar: Setiap lembar berisi satu atau dua angka/objek tersembunyi yang hanya dapat dilihat jika mata dapat membedakan kontras warna tertentu.
- Evaluasi hasil: Petugas menilai jawaban berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Jika jawaban sesuai dengan angka yang seharusnya terlihat, pelamar dianggap lolos pada bagian ini.
Selain menilai kemampuan membedakan warna, tes Ishihara juga membantu mengidentifikasi jenis buta warna yang paling umum. Misalnya, seseorang yang terus-menerus melihat angka yang sama pada lembar dengan warna merah-hijau kemungkinan mengalami deuteranopia, sedangkan kesulitan pada kombinasi biru-kuning dapat mengindikasikan tritanopia.
Pentingnya kesadaran akan buta warna tidak hanya berhenti pada proses pengujian SIM. Banyak perusahaan transportasi, baik publik maupun swasta, kini mewajibkan karyawan pengemudi untuk menjalani pemeriksaan mata secara berkala. Langkah preventif ini bertujuan menurunkan angka kecelakaan yang diakibatkan oleh kesalahan interpretasi warna pada situasi darurat.
Bagi masyarakat umum yang ingin menguji kemampuan visualnya secara mandiri, tersedia versi digital tes Ishihara yang dapat diakses melalui aplikasi kesehatan atau situs resmi Kementerian Kesehatan. Meskipun tidak menggantikan pemeriksaan resmi, tes mandiri ini dapat menjadi indikator awal dan mendorong orang untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut jika ada indikasi gangguan.
Kesimpulannya, tes Ishihara bukan sekadar tantangan visual dalam ujian SIM, melainkan alat vital yang melindungi keselamatan di jalan raya. Kemampuan mengidentifikasi buah berwarna dalam gambar mencerminkan kesiapan pengemudi dalam menanggapi rangkaian sinyal warna yang mengatur alur lalu lintas. Dengan menekankan pentingnya pemeriksaan mata secara rutin, diharapkan angka kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahan persepsi warna dapat ditekan secara signifikan.