123Berita – 04 April 2026 | Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu kontroversi internasional setelah melontarkan serangkaian komentar tajam mengenai kapal induk milik Angkatan Laut Inggris. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan melalui akun media sosialnya, Trump menuding bahwa dua kapal induk utama Inggris—HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince of Wales—merupakan “kapal tua” yang “rusak” serta tidak layak untuk beroperasi dalam konteks keamanan modern. Kritik tersebut sekaligus diarahkan kepada Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, yang menurut Trump “mengelak” dalam hal pengiriman kapal induk tersebut ke wilayah konflik.
Trump, yang dikenal dengan gaya retorika yang blak-blakan, menulis bahwa Inggris “mempertahankan armada kuno yang seharusnya sudah dipensiunkan”. Ia menambahkan, “Jika mereka ingin tetap relevan, mereka harus berinvestasi dalam teknologi baru, bukan mengandalkan kapal yang sudah usang dan berkarat.” Pernyataan ini muncul di tengah peningkatan ketegangan geopolitik di Eropa, khususnya terkait krisis energi dan pertarungan pengaruh antara NATO dan Rusia.
Reaksi pertama datang dari pihak Gedung Putih, yang menegaskan bahwa komentar Trump merupakan “opini pribadi” yang tidak mencerminkan kebijakan resmi Amerika Serikat. Seorang juru bicara menyatakan, “Presiden memiliki hak untuk menyuarakan pendapatnya, namun keputusan strategis aliansi NATO tetap didasarkan pada konsensus bersama antara negara anggota, termasuk Inggris.” Meski demikian, komentar tersebut dengan cepat menjadi sorotan media internasional dan menimbulkan perdebatan di kalangan ahli pertahanan.
Di Inggris, Perdana Menteri Keir Starmer menanggapi ejekan tersebut dengan nada tenang namun tegas. Dalam konferensi pers yang diadakan di London, Starmer menolak tuduhan Trump bahwa pemerintahannya “mengelak” dalam hal kesiapan militer. “Kapal induk HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince of Wales adalah aset strategis yang telah melalui proses modernisasi intensif,” ujar Starmer. “Kami berkomitmen untuk menjaga keamanan wilayah perairan Inggris dan peran kami dalam NATO tetap kuat.” Ia menambahkan bahwa keputusan terkait penempatan kapal induk selalu didasarkan pada analisis ancaman yang mendalam dan konsultasi dengan sekutu, termasuk Amerika Serikat.
Para analis pertahanan menilai bahwa pernyataan Trump, meski bersifat provokatif, menyingkapkan ketegangan yang lebih luas antara kebijakan luar negeri Amerika yang kini berada di bawah kepemimpinan baru dan ekspektasi tradisional terhadap sekutu NATO. Beberapa pakar berpendapat bahwa kritik terhadap kapal induk Inggris dapat menjadi sinyal bahwa AS menilai kebutuhan akan kemampuan proyektil maritim Inggris sebagai kurang relevan dalam era perang siber dan drone.
Namun, kebanyakan pakar menegaskan bahwa kapal induk tetap menjadi komponen penting dalam strategi maritim modern. HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince of Wales, yang masing-masing berukuran lebih dari 280 meter dan dapat menampung hingga 40 pesawat tempur, masih dianggap sebagai platform fleksibel yang mampu mengirimkan kekuatan udara ke zona konflik tanpa harus mengandalkan pangkalan darat. Modernisasi terbaru mencakup peningkatan sistem radar, peralatan komunikasi satelit, serta kemampuan untuk mengoperasikan pesawat generasi kelima seperti F-35B Lightning II.
Selain itu, pernyataan Trump juga memicu diskusi internal di parlemen Inggris mengenai anggaran pertahanan. Beberapa anggota parlemen Partai Buruh mengkritik pemerintah atas biaya tinggi pembangunan dan pemeliharaan kapal induk, yang diperkirakan mencapai miliaran poundsterling. Mereka menuntut transparansi lebih lanjut terkait manfaat strategis dibandingkan beban fiskal yang ditanggung oleh wajib pajak.
Di sisi lain, kelompok pendukung pertahanan menilai bahwa kapal induk tetap menjadi penopang utama kebijakan keamanan nasional Inggris, terutama mengingat meningkatnya aktivitas militer Rusia di Laut Utara dan Laut Baltik. “Kita tidak bisa mengabaikan peran kapal induk dalam menegakkan kebebasan navigasi dan menahan agresi,” kata seorang mantan perwira Angkatan Laut Inggris yang memilih anonim. “Jika Inggris kehilangan kemampuan ini, keseimbangan kekuatan di Eropa akan terganggu.”
Pernyataan Trump juga menimbulkan pertanyaan tentang dampak politik domestik di AS. Setelah pemilihan presiden 2024, banyak pengamat menilai bahwa Trump berusaha mempertahankan basis pendukungnya dengan mengkritik sekutu tradisional, sekaligus menonjolkan citra “pembela keamanan nasional”. Kritik terhadap sekutu seperti Inggris dapat dipandang sebagai upaya mengalihkan perhatian publik dari isu-isu domestik, termasuk inflasi dan kebijakan energi.
Meski kontroversial, komentar Trump tidak serta-merta mengubah kebijakan aliansi NATO. Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, menegaskan kembali pentingnya solidaritas di antara anggota. “Kita tetap berkomitmen pada pertahanan kolektif, dan setiap negara anggota berhak menilai kebutuhan militer mereka sendiri,” tulis Stoltenberg dalam sebuah pernyataan resmi. Ia menambahkan bahwa NATO akan terus melakukan evaluasi bersama mengenai kesiapan dan modernisasi armada maritim anggota.
Secara keseluruhan, pernyataan Trump tentang kapal induk Inggris menyoroti dinamika kompleks antara retorika politik, strategi pertahanan, dan hubungan diplomatik. Sementara Inggris berusaha mempertahankan posisinya sebagai kekuatan maritim utama, Amerika Serikat tampak berada pada titik transisi kebijakan luar negeri yang lebih skeptis terhadap sekutu tradisional. Apa pun arah kebijakan yang diambil, perdebatan ini menegaskan bahwa keamanan maritim tetap menjadi topik sentral dalam percakapan geopolitik global.





