Trump Ancaman Blokade Selat Hormuz Pasca Negosiasi Iran Gagal: Dampak Global

123Berita – 13 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan tegas pada Rabu (12/04) bahwa Washington siap mengerahkan Angkatan Lautnya untuk menutup Selat Hormuz bila negosiasi damai dengan Republik Islam Iran yang dilangsungkan di Pakistan berujung pada kegagalan total. Ancaman tersebut muncul setelah pertemuan rahasia antara delegasi tinggi kedua negara tidak menghasilkan kesepakatan terkait program nuklir Iran dan jalur pengiriman minyak yang melintasi selat strategis itu.

Negosiasi yang diharapkan dapat menurunkan ketegangan di kawasan Teluk Persia sejak awal tahun ini diadakan di kota Rawalpindi, Pakistan, dengan mediasi pihak ketiga yang tidak diungkapkan secara resmi. Pihak Amerika menuntut Iran menghentikan program pengayaan uranium yang dianggap melanggar perjanjian non-proliferasi, sementara Tehran menolak tekanan tersebut dengan menegaskan haknya atas program nuklir damai serta menolak intervensi asing dalam kebijakan energi nasionalnya.

Bacaan Lainnya

Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump menegaskan, “Jika Iran tidak mau berdialog, kami tidak akan ragu untuk menutup Selat Hormuz, jalur paling penting bagi pengiriman minyak dunia. Kami memiliki kapal perang, kapal selam, dan pesawat tempur yang siap beroperasi 24 jam nonstop.” Pernyataan itu diikuti dengan rencana pengiriman kapal perusak kelas Arleigh Burke dan pesawat patroli maritim ke pangkalan di Teluk Persia sebagai bentuk demonstrasi kesiapan militer.

Pejabat senior Iran, yang meminta namanya tidak disebutkan, menanggapi ancaman tersebut dengan menegaskan bahwa Tehran tidak akan tunduk pada tekanan eksternal dan siap membela kedaulatan negara. “Kami memiliki kemampuan pertahanan yang kuat, dan setiap upaya menghalangi jalur laut internasional akan kami balas dengan tindakan yang proporsional,” ujar juru bicara tersebut.

Potensi blokade Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran serius bagi pasar energi global. Selat Hormuz menyumbang sekitar 20 persen volume minyak dunia, sehingga penutupan sementara dapat memicu lonjakan harga minyak mentah hingga puluhan dolar per barel. Pedagang komoditas di New York dan London sudah mencatat kenaikan harga Brent Futures sejak pernyataan Trump, sementara perusahaan penerbangan dan pelayaran memperkirakan biaya tambahan signifikan akibat rute alternatif yang lebih jauh.

Negara-negara yang bergantung pada ekspor minyak melalui selat tersebut, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, menyatakan keprihatinan mendalam. Menteri Energi Arab Saudi menegaskan komitmennya untuk menjaga kebebasan navigasi di perairan internasional, sementara Uni Emirat Arab mengajak semua pihak menahan diri dari tindakan provokatif yang dapat mengganggu stabilitas regional. China dan Rusia, yang memiliki investasi besar dalam proyek energi di Timur Tengah, menyerukan dialog diplomatik dan menolak penggunaan kekuatan militer sebagai solusi.

Pengamat militer menilai ancaman blokade bukan hal baru dalam kebijakan luar negeri Trump, yang sebelumnya pernah mengancam tindakan serupa pada 2018 ketika Iran menembak jatuh pesawat militer Amerika di zona konflik. Namun, menutup Selat Hormuz akan menimbulkan implikasi hukum internasional yang kompleks, mengingat jalur tersebut merupakan bagian dari Laut Internasional yang dijamin kebebasan navigasi oleh Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS). Penindakan unilateral dapat memicu sanksi atau tindakan balasan dari negara-negara anggota PBB.

Selama beberapa minggu terakhir, diplomasi kembali menjadi arena utama. PBB mengirimkan misi khusus untuk menilai situasi, sementara negara-negara ASEAN mengusulkan pembentukan forum regional guna meredakan ketegangan. Di sisi lain, Washington menegaskan bahwa tekanan ekonomi dan militer tetap menjadi alat utama dalam menegakkan kepatuhan Iran terhadap perjanjian nuklir yang diharapkan dapat diganti dengan kesepakatan baru di masa depan.

Dengan ketegangan yang terus memuncak, dunia menantikan langkah selanjutnya. Apabila blokade benar-benar dilaksanakan, konsekuensinya tidak hanya akan dirasakan oleh negara-negara produsen minyak, melainkan juga oleh konsumen di seluruh dunia yang akan menghadapi kenaikan harga energi. Sebaliknya, upaya diplomatik yang berhasil dapat membuka peluang dialog kembali, menurunkan risiko konflik terbuka, dan memastikan kelancaran arus perdagangan di salah satu jalur pelayaran paling penting di planet ini.

Pos terkait