TAUD Ungkap Dugaan Keterlibatan Sipil dalam Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS

123Berita – 09 April 2026 | Tim Analisis Ungkap Dugaan (TAUD) mengeluarkan pernyataan terbaru yang menyoroti potensi keterlibatan elemen sipil dalam aksi penyiraman air keras yang menimpa aktivis KontraS, Andrie Yunus. Penemuan ini menambah dimensi baru pada penyelidikan kasus yang sebelumnya difokuskan pada kelompok militan. Menurut hasil temuan awal, ada jejak-jejak material dan saksi mata yang mengindikasikan bahwa aksi tersebut tidak sepenuhnya dilakukan oleh kelompok bersenjata, melainkan melibatkan pihak-pihak non‑militer yang memiliki akses terhadap bahan kimia berbahaya.

Insiden air keras terjadi pada akhir pekan lalu di sebuah area perumahan di Jakarta, ketika Andrie Yunus sedang melaksanakan aktivitas sosialnya. Saat itu, korban menerima serangan berupa semprotan cairan berwarna kuning yang kemudian teridentifikasi sebagai asam nitrat pekat, sebuah senyawa yang dapat menyebabkan luka bakar serius pada kulit. Andrie langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat dan berhasil bertahan setelah mendapatkan perawatan intensif. Kejadian ini memicu keprihatinan luas di kalangan aktivis hak asasi manusia serta menimbulkan pertanyaan mengenai motif di balik serangan tersebut.

Bacaan Lainnya

TAUD, yang dibentuk oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk menelusuri jejak‑jejak terorisme domestik, melaporkan beberapa temuan kunci yang mendukung dugaan keterlibatan pihak sipil. Di antara bukti yang dikumpulkan, terdapat rekaman CCTV yang memperlihatkan kendaraan pribadi melintas di sekitar lokasi serangan sebelum dan sesudah kejadian. Selain itu, saksi mata menyebutkan adanya dua orang yang tampak mengenakan pakaian kasual namun membawa tas berisi tabung kimia. Analisis laboratorium pada residu yang diambil dari tempat kejadian menunjukkan adanya campuran bahan kimia yang biasanya tersedia di toko peralatan industri, bukan di pasar gelap senjata tradisional. TAUD juga menemukan jejak digital berupa percakapan di platform pesan singkat yang mengindikasikan koordinasi antara beberapa individu yang tidak terdaftar dalam jaringan teror tradisional.

Reaksi publik dan politisi pun beragam. Koalisi partai politik oposisi menuntut transparansi penuh dari aparat keamanan, sementara pemerintah menegaskan komitmennya untuk menindak tegas siapa pun yang terbukti terlibat, baik militan maupun sipil. Pihak kepolisian telah melakukan penangkapan terhadap dua tersangka utama yang diduga memiliki peran logistik dalam penyediaan bahan kimia. Sementara itu, organisasi KontraS menekankan pentingnya perlindungan bagi aktivis yang menjadi target intimidasi, serta menyerukan pembentukan mekanisme perlindungan yang lebih kuat bagi mereka yang memperjuangkan kebebasan berpendapat.

Secara keseluruhan, temuan TAUD menegaskan bahwa ancaman terorisme di Indonesia kini tidak hanya terbatas pada kelompok bersenjata tradisional, melainkan dapat melibatkan jaringan sipil yang memiliki akses ke bahan kimia berbahaya. Kasus ini menjadi peringatan bagi aparat keamanan untuk memperluas cakupan pengawasan dan meningkatkan koordinasi lintas lembaga, termasuk lembaga regulasi bahan kimia. Pengungkapan ini juga menambah urgensi bagi masyarakat sipil untuk lebih waspada dan melaporkan aktivitas mencurigakan yang dapat mengarah pada tindakan teror.

Pos terkait