123Berita – 05 April 2026 | Seorang penyiar radio terkenal Inggris, Scott Mills, kini berada di persimpangan kariernya setelah munculnya tuduhan pelecehan seksual yang melibatkan seorang remaja di bawah umur. Tuduhan ini memicu serangkaian aksi tegas, termasuk pemecatan dari BBC dan potensi pencabutan gelar doktor honoris causa yang selama ini menjadi simbol penghargaan akademis atas kontribusinya dalam dunia media.
Skandal ini pertama kali menarik sorotan publik ketika BBC mengumumkan pemecatan Mills setelah penyelidikan internal mengungkapkan bukti bahwa ia telah melakukan pelanggaran kebijakan etika. Pada saat yang sama, pihak universitas yang sebelumnya menganugerahkan gelar doktor honoris causa kepada Mills menyatakan bahwa mereka sedang meninjau kembali keputusan tersebut. Jika hasil peninjauan tidak menguntungkan, gelar tersebut dapat dicabut secara resmi.
BBC, yang selama puluhan tahun menjadi rumah bagi Mills melalui program “Scott Mills Show”, tidak mengabaikan situasi ini. CEO BBC, Tim Davie, menyatakan bahwa keputusan pemecatan bukanlah langkah yang diambil secara sembarangan. “Kami memiliki standar integritas yang tidak dapat ditawar, dan ketika ada indikasi pelanggaran, kami harus bertindak dengan tegas,” ujar Davie dalam sebuah konferensi pers. Ia menambahkan bahwa pihak BBC telah mengetahui tentang tuduhan tersebut hampir setahun sebelumnya, namun proses internal memakan waktu karena kebutuhan akan bukti yang kuat.
Pernyataan pertama Mills setelah pemecatan datang melalui pernyataan resmi yang dirilis oleh perwakilannya. Dalam pernyataan tersebut, Mills menegaskan bahwa ia menolak semua tuduhan yang diarahkan kepadanya dan menyatakan bahwa ia siap bekerja sama dengan pihak berwajib. “Saya menghormati proses hukum dan akan membiarkan fakta-fakta yang ada berbicara,” kata Mills. Pernyataan tersebut menimbulkan perdebatan di kalangan publik, dengan sebagian mengkritik sikapnya yang dianggap terlalu tenang, sementara yang lain menilai bahwa ia berhak atas proses hukum yang adil.
Sementara itu, universitas yang memberikan gelar doktor honoris causa kepada Mills, yang tidak disebutkan namanya dalam laporan, telah membentuk komite khusus untuk menilai implikasi moral dan akademis dari skandal ini. Komite tersebut akan mempertimbangkan reputasi institusi, nilai-nilai akademik, serta dampak sosial dari mempertahankan atau mencabut gelar tersebut. Jika gelar dicabut, hal ini akan menjadi contoh langka dalam sejarah penghargaan akademis di Inggris, mengingat gelar honoris causa biasanya diberikan kepada tokoh yang dianggap memberi kontribusi positif bagi masyarakat.
Reaksi publik terhadap kasus ini pun sangat beragam. Di media sosial, banyak yang menuntut keadilan bagi korban dan menyoroti pentingnya kebijakan perlindungan anak. Di sisi lain, sejumlah pendukung Mills berargumen bahwa media terlalu cepat menghakimi tanpa menunggu proses hukum selesai. Diskusi ini juga memicu perdebatan lebih luas mengenai budaya kerja di industri penyiaran, serta bagaimana organisasi besar menangani tuduhan seksual yang melibatkan karyawan senior.
Para ahli hukum menilai bahwa pencabutan gelar doktor honoris causa bukan hanya bersifat simbolik, tetapi dapat menjadi bagian dari mekanisme rehabilitasi moral institusi. “Jika seseorang terbukti melanggar hukum, terutama yang melibatkan korban di bawah umur, institusi akademik memiliki tanggung jawab moral untuk meninjau kembali penghargaan yang diberikan,” ujar Dr. Eleanor Whitaker, profesor etika di Universitas Oxford. Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut akan menjadi preseden penting bagi universitas lain dalam menanggapi skandal serupa.
Dalam konteks industri penyiaran, kasus ini menambah daftar panjang skandal seksual yang melibatkan tokoh publik, yang telah memicu pergeseran kebijakan internal di banyak perusahaan media. BBC sendiri berjanji akan meningkatkan pelatihan tentang perilaku etis serta memperketat prosedur pelaporan insiden serupa di masa depan.
Kesimpulannya, Scott Mills kini harus menghadapi konsekuensi hukum dan reputasi yang serius. Pemecatan dari BBC, potensi pencabutan gelar doktor, serta proses hukum yang sedang berjalan menandai titik balik dalam kariernya. Kasus ini tidak hanya menjadi sorotan media nasional Inggris, tetapi juga menimbulkan perdebatan global tentang akuntabilitas, keadilan bagi korban, dan peran institusi akademik dalam menegakkan standar moral. Masa depan Mills masih belum dapat dipastikan, namun dampak kasus ini akan terus menjadi bahan diskusi dalam lingkup media, hukum, dan pendidikan selama bertahun‑tahun mendatang.





