123Berita – 08 April 2026 | Jakarta, 8 April 2026 – Mantan anggota DPR Rismon Sianipar kembali menjadi sorotan publik setelah mengklaim bahwa sebuah video yang menampakkan dirinya sedang menanggapi tuduhan pendanaan kepada mantan Menteri Komunikasi Roy Suryo merupakan hasil kecerdasan buatan (AI). Klaim tersebut menimbulkan pertanyaan tentang keabsahan video dan niat di balik penyebarannya, sementara Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa Rismon tidak membantah isi pokok pernyataan dalam video tersebut.
Dalam pernyataan publiknya, Rismon menegaskan bahwa video yang beredar di media sosial tidak menampilkan dirinya secara langsung, melainkan merupakan rekayasa digital yang dihasilkan oleh teknologi AI. “Saya tidak pernah merekam video tersebut, dan saya yakin bahwa video itu adalah deepfake,” ujar Rismon dalam sebuah konferensi pers singkat di kantor legislatifnya. Ia menambahkan bahwa ia siap memberikan klarifikasi lebih lanjut jika ada pihak berwenang yang dapat membuktikan keaslian video itu.
Sementara itu, Presiden Jokowi, dalam wawancara dengan tim media Istana, menanggapi pernyataan Rismon dengan sikap netral. “Rismon memang membela dirinya, namun ia tidak membantah pernyataan mengenai tuduhan pendanaan kepada Roy Suryo,” kata Jokowi. Ia menekankan pentingnya proses hukum yang transparan dan menolak spekulasi yang dapat mengaburkan fakta. “Kita harus menunggu hasil penyelidikan resmi, bukan mengandalkan video yang belum terbukti keabsahannya,” pungkasnya.
Kasus ini bermula ketika sebuah video beredar luas di platform-platform media sosial, menampilkan Rismon seolah-olah mengakui bahwa ia menerima dana dari Roy Suryo untuk kampanye politik pada masa lalu. Video tersebut memicu kegemparan publik karena mengaitkan dua tokoh politik yang sebelumnya tidak terlibat dalam kontroversi serupa. Namun, tidak lama setelah video menjadi viral, muncul laporan dari beberapa ahli teknologi yang menyatakan bahwa video tersebut kemungkinan merupakan hasil manipulasi AI, atau yang lebih dikenal dengan istilah deepfake.
Berikut ini rangkuman poin-poin utama terkait peristiwa tersebut:
- Klaim Rismon: Video bukan rekaman asli, melainkan hasil AI.
- Respons Jokowi: Tidak menolak isi utama video, namun menekankan pentingnya proses hukum.
- Tuduhan pendanaan: Mengaitkan Rismon dengan Roy Suryo dalam konteks dana politik.
- Analisis ahli: Indikasi video adalah deepfake, namun belum ada konfirmasi resmi.
- Implikasi politik: Potensi dampak pada citra kedua tokoh dan dinamika politik menjelang pemilihan berikutnya.
Para ahli teknologi informasi dari beberapa universitas terkemuka di Indonesia menyoroti bahwa pembuatan deepfake kini semakin mudah dengan adanya perangkat lunak berbasis pembelajaran mesin. Mereka mengingatkan publik untuk lebih kritis dalam menilai konten visual yang beredar di internet, terutama yang berpotensi memengaruhi opini publik atau menimbulkan fitnah.
Di sisi lain, pihak kepolisian telah membuka penyelidikan terkait penyebaran video tersebut. Menurut pernyataan resmi, penyelidikan difokuskan pada identitas pembuat video serta motif di balik penyebarannya. “Kami akan mengusut tuntas apakah ada unsur pidana pencemaran nama baik atau penyebaran informasi palsu,” ujar juru bicara kepolisian setempat.
Kasus ini menambah deretan kontroversi yang melibatkan tokoh politik Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, Roy Suryo sendiri pernah menjadi sorotan karena dugaan keterlibatan dalam proyek-proyek politik yang meragukan, meskipun tidak ada bukti kuat yang mengaitkannya dengan tindakan kriminal.
Para pengamat politik menilai bahwa dinamika ini dapat menjadi ujian bagi integritas proses demokrasi di Indonesia. “Jika video ini terbukti palsu, maka akan menjadi contoh penting bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi persepsi publik,” kata seorang analis politik senior. “Sebaliknya, jika ada bukti bahwa video tersebut memang otentik, maka konsekuensi hukum bagi pihak-pihak yang terlibat harus ditegakkan tanpa pandang bulu,” tambahnya.
Sejumlah organisasi masyarakat sipil juga menyerukan agar media massa lebih berhati-hati dalam memberitakan konten yang belum diverifikasi. Mereka menekankan pentingnya verifikasi fakta sebelum menyebarkan informasi yang dapat merusak reputasi individu atau memicu keresahan sosial.
Menjelang akhir pekan, Rismon berjanji akan mengajukan permohonan resmi kepada lembaga independen untuk melakukan audit digital terhadap video tersebut. Ia berharap hasil audit dapat memberikan kepastian hukum dan membersihkan nama baiknya dari tuduhan yang belum terbukti.
Kasus Rismon Sianipar dan video AI ini masih dalam tahap penyelidikan. Sementara itu, publik diimbau untuk menahan diri dari menyebarkan materi yang belum terverifikasi, guna menghindari penyebaran hoaks yang dapat memperkeruh situasi politik nasional.
Dengan berjalannya proses hukum dan audit digital, diharapkan kebenaran akan terungkap secara objektif, sehingga kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi dapat tetap terjaga.