Rektor Untar Tekankan Peran Kampus sebagai Pencipta Perubahan, Dorong Inovasi dan Kolaborasi

Rektor Untar Tekankan Peran Kampus sebagai Pencipta Perubahan, Dorong Inovasi dan Kolaborasi
Rektor Untar Tekankan Peran Kampus sebagai Pencipta Perubahan, Dorong Inovasi dan Kolaborasi

123Berita – 06 April 2026 | Prof. Dr. Amad Sudiro, Rektor Universitas Tarumanagara (Untar), menegaskan kembali komitmen institusinya untuk tidak sekadar mengikuti arus perubahan, melainkan menjadi agen utama yang menciptakan perubahan itu sendiri. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan pada acara internal kampus, ia menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam menggerakkan inovasi, memperkuat kolaborasi lintas disiplin, serta menyiapkan lulusan yang siap menjawab tantangan masa depan.

Dalam upaya mewujudkan visi tersebut, Rektor menekankan tiga pilar utama: inovasi kurikulum, kolaborasi riset, dan keterlibatan masyarakat. Pada tingkat kurikulum, Untar berencana memperkenalkan mata kuliah berbasis proyek yang mengintegrasikan teknologi terkini, seperti kecerdasan buatan, analisis data besar, dan desain berkelanjutan. Mahasiswa tidak lagi hanya menerima materi secara pasif, melainkan diharapkan menjadi kontributor aktif dalam merancang solusi untuk permasalahan nyata.

Bacaan Lainnya

Kolaborasi riset menjadi fokus selanjutnya. Amad Sudiro mengungkapkan bahwa Untar sedang memperluas jaringan kerja sama dengan lembaga riset nasional, perusahaan swasta, serta institusi internasional. “Kerja sama yang sinergis akan mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi, sekaligus membuka peluang pendanaan bagi proyek-proyek inovatif,” jelasnya. Beberapa contoh konkret yang sudah berjalan antara lain program joint research dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan kemitraan dengan startup fintech yang berpusat di Jakarta.

Tak kalah penting, keterlibatan masyarakat atau community engagement menjadi landasan bagi kampus untuk menjadi motor perubahan sosial. Rektor menyoroti program-program pengabdian masyarakat yang menargetkan peningkatan kualitas pendidikan di daerah tertinggal, pelatihan kewirausahaan bagi UMKM, serta kampanye kesehatan digital di wilayah perkotaan. “Jika kampus tidak memberikan dampak langsung bagi masyarakat sekitarnya, maka peran kami sebagai agen perubahan akan kehilangan makna,” tegas Amad Sudiro.

Strategi inovatif tersebut didukung oleh alokasi anggaran khusus yang ditetapkan dalam Rencana Strategis Universitas Tarumanagara 2024-2028. Sebanyak 15% dari total anggaran penelitian dialokasikan untuk proyek-proyek yang bersifat interdisipliner dan memiliki potensi komersialisasi. Selain itu, kampus juga memperkenalkan inkubator bisnis internal yang akan membantu mahasiswa dan dosen mengembangkan prototipe menjadi produk yang siap dipasarkan.

Rektor menekankan pentingnya budaya kolaboratif di antara civitas akademika. Ia mengajak dosen untuk menempatkan diri sebagai fasilitator, bukan sekadar penyampai materi, serta mengajak mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang mandiri. “Kolaborasi bukan sekadar kata, melainkan praktik sehari-hari. Kami ingin setiap ruangan kelas, laboratorium, maupun ruang terbuka menjadi arena diskusi yang produktif,” ujarnya.

Pernyataan Amad Sudiro juga mendapat sambutan positif dari para dekan dan ketua program studi. Mereka menyatakan komitmen untuk menyesuaikan silabus, memperluas jaringan kerja sama, dan meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam kompetisi inovasi nasional maupun internasional. Beberapa program yang sudah direncanakan meliputi hackathon tahunan, kompetisi startup, serta forum dialog kebijakan publik yang melibatkan pemangku kepentingan dari pemerintah dan sektor swasta.

Di tengah dinamika global yang terus berubah, Universitas Tarumanagara berupaya menjadikan dirinya sebagai contoh institusi yang tidak hanya responsif, tetapi juga proaktif dalam menciptakan nilai tambah. Dengan menekankan inovasi kurikulum, memperkuat kolaborasi riset, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat, kampus berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu memimpin perubahan di berbagai bidang.

Kesimpulannya, arahan Rektor Untar menegaskan bahwa perguruan tinggi harus melampaui peran tradisional sebagai tempat pembelajaran pasif. Melalui inovasi terstruktur, kolaborasi lintas sektor, dan kontribusi nyata bagi masyarakat, Universitas Tarumanagara bertekad menjadi katalisator perubahan yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta pendidikan global.

Pos terkait