Ratusan Warga Cirebon Ikuti Istigasah Kiai Ilyas Khaelani, Doa Lindungi Indonesia dari Praktik Hukum Tidak Adil

Ratusan Warga Cirebon Ikuti Istigasah Kiai Ilyas Khaelani, Doa Lindungi Indonesia dari Praktik Hukum Tidak Adil
Ratusan Warga Cirebon Ikuti Istigasah Kiai Ilyas Khaelani, Doa Lindungi Indonesia dari Praktik Hukum Tidak Adil

123Berita – 04 April 2026 | Jumat, 3 April 2026, Cirebon, Jawa Barat – Suasana lapangan terbuka di kawasan Istigasah Kubro berubah menjadi arena silaturahmi dan doa bersama ketika ratusan warga berkumpul untuk menyaksikan acara istigasah dan halalbihalal yang dipimpin oleh Kiai Ilyas Khaelani. Acara yang bertemakan “Doa agar Negeri Ini Terjaga dari Praktik Hukum Tidak Adil” ini menjadi sorotan karena mengusung isu keadilan hukum yang belakangan banyak dibicarakan di ruang publik.

Kiai Ilyas Khaelani, tokoh agama yang dikenal luas di kalangan masyarakat Cirebon dan sekitarnya, membuka acara dengan bacaan doa yang mengajak seluruh peserta memohon perlindungan Tuhan atas bangsa Indonesia. Ia menegaskan pentingnya kesadaran kolektif dalam menolak praktik hukum yang tidak adil, sekaligus menyerukan komitmen moral bagi setiap warga untuk menjadi agen perubahan.

Bacaan Lainnya

“Negeri ini memang sedang berada pada persimpangan kritis,” ujar Kiai Ilyas dalam sambutan singkatnya. “Jika kita biarkan praktik hukum yang tidak adil terus mengakar, maka rasa kepercayaan publik akan semakin terkikis. Oleh karena itu, doa bersama ini menjadi wujud konkret keinginan kami agar keadilan dapat kembali menjadi pilar utama dalam sistem hukum Indonesia.”

Acara istigasah, yang biasanya diisi dengan tadarus Al-Qur’an, dilanjutkan dengan ceramah singkat mengenai pentingnya integritas dalam penegakan hukum. Kiai Ilyas menyinggung beberapa kasus yang menimbulkan kontroversi publik, termasuk penetapan hukuman yang dianggap tidak proporsional dan penggunaan prosedur hukum yang tidak transparan. Ia menekankan bahwa keadilan bukan sekadar istilah, melainkan harus terwujud dalam tindakan nyata di lapangan.

Setelah ceramah, para hadirin diajak untuk melakukan halalbihalal, sebuah tradisi yang menggabungkan unsur sosial dan religius, di mana makanan dibagikan secara merata sebagai simbol persatuan. Lebih dari seratus porsi nasi tumpeng, ketupat, serta lauk tradisional Jawa Barat disajikan, menambah nuansa kebersamaan dalam acara tersebut.

Beberapa tokoh masyarakat dan aktivis hak asasi manusia yang hadir memberikan komentar positif terhadap inisiatif Kiai Ilyas. Salah satu aktivis, Siti Aisyah, menyatakan, “Kami menyambut baik upaya spiritual seperti ini karena doa dapat menjadi kekuatan moral yang menyokong perjuangan keadilan. Namun, doa harus diikuti dengan aksi konkret, seperti advokasi hukum yang transparan dan penegakan aturan tanpa pandang bulu.”

Acara tersebut tidak hanya menjadi momen religius, tetapi juga menjadi platform dialog terbuka. Beberapa warga menyampaikan keluhan mereka terkait penegakan hukum di daerah masing-masing. Salah satunya, Budi Santoso, warga Kelurahan Kertajaya, mengungkapkan, “Kami pernah mengalami kasus sengketa tanah yang prosesnya sangat berbelit. Harapan kami, melalui doa dan kesadaran bersama, pihak berwenang dapat memberikan solusi yang adil dan cepat.”

Selain itu, Kiai Ilyas menekankan pentingnya pendidikan hukum bagi masyarakat luas. Ia mengajak para tokoh agama, pemuka desa, serta lembaga pendidikan untuk menyelenggarakan program literasi hukum yang dapat meningkatkan pemahaman warga tentang hak dan kewajiban mereka.

Berikut beberapa poin utama yang disampaikan Kiai Ilyas dalam ceramahnya:

  • Penegakan hukum harus bersifat objektif, tidak memihak kelompok manapun.
  • Transparansi proses hukum diperlukan untuk membangun kepercayaan publik.
  • Peran aktif masyarakat dalam mengawasi implementasi kebijakan hukum sangat krusial.
  • Pendidikan hukum harus dimasukkan dalam kurikulum sekolah dan kegiatan keagamaan.
  • Doa bersama dapat memperkuat niat kolektif untuk menolak praktik hukum yang tidak adil.

Acara berakhir dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh Kiai Ilyas, diikuti dengan nyanyian spiritual yang mengiringi harapan akan masa depan Indonesia yang lebih adil. Suasana haru tampak di wajah para peserta, menandakan betapa kuatnya rasa kebersamaan dalam memperjuangkan nilai keadilan.

Secara keseluruhan, istigasah di Cirebon ini berhasil menggabungkan elemen keagamaan, sosial, dan politik dalam satu rangkaian kegiatan. Kegiatan semacam ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap pentingnya keadilan hukum, sekaligus memperkuat solidaritas antarwarga.

Dengan dukungan dari tokoh agama, aktivis, dan masyarakat, harapan besar tetap menyertai doa yang dipanjatkan pada hari itu: agar Indonesia terjaga dari praktik hukum tidak adil dan dapat terus melangkah menuju negara hukum yang sejati.

Pos terkait