123Berita – 06 April 2026 | Satgas Damai Cartenz berhasil mengakhiri pengejaran selama lebih dari tujuh tahun terhadap anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) bernama Pulan Wonda, yang lebih dikenal dengan alias Kamenak. Penangkapan ini menjadi sorotan utama setelah terdakwa tersebut diduga terlibat dalam penembakan terhadap rombongan mantan Kapolda Papua, Jenderal (Purn) Tito Karnavian, pada tahun 2019.
Pengungkapan kasus ini dimulai ketika tim gabungan Satgas Damai Cartenz, yang dibentuk khusus untuk menindak kelompok bersenjata di Papua, menerima informasi intelijen mengenai lokasi persembunyian Pulan Wonda. Informasi tersebut dikonfirmasi melalui pengawasan lapangan, pemantauan komunikasi, dan kerja sama dengan aparat keamanan daerah setempat. Setelah melakukan penyusupan dan pengecekan yang cermat, tim mengeksekusi penangkapan pada pagi hari di sebuah desa terpencil di wilayah Papua Barat.
Kasus penembakan yang melibatkan Tito Karnavian terjadi pada 19 Agustus 2019, saat rombongan eks Kapolda Papua tengah melakukan kunjungan kerja di wilayah Papua. Dalam insiden tersebut, seorang penembak tak dikenal menembakkan peluru ke arah mobil yang dikendarai oleh Tito Karnavian, meskipun tidak ada korban jiwa. Identitas penembak sempat menjadi misteri, namun penyelidikan awal mengaitkan aksi tersebut dengan kelompok KKB yang aktif di wilayah itu.
Pulan Wonda muncul sebagai tersangka utama setelah penyelidikan lanjutan menemukan bukti-bukti yang menghubungkannya dengan senjata api yang digunakan dalam penembakan. Selain itu, saksi mata yang berada di lokasi kejadian memberikan kesaksian yang menunjuk pada keberadaan Pulan Wonda pada malam kejadian. Dari sinilah daftar pencarian orang (DPO) untuk Pulan Wonda dimasukkan, menandai statusnya sebagai buron selama hampir tujuh tahun.
Selama masa buron, Pulan Wonda berhasil menghindari penangkapan dengan berpindah-pindah wilayah dan menggunakan jaringan pendukung lokal. Namun, peningkatan tekanan dari aparat keamanan dan intensifikasi operasi anti-KKB pada tahun-tahun terakhir membuatnya semakin terdesak. Upaya kolaboratif antara Satpas, Polri, TNI, serta aparat keamanan provinsi Papua menjadi kunci utama dalam menutup jalur pelarian dan mengidentifikasi lokasi persembunyiannya.
Penangkapan Pulan Wonda memiliki implikasi strategis yang signifikan bagi keamanan Papua. Pertama, keberhasilan operasi ini menunjukkan efektivitas kerja sama lintas lembaga dalam menindak kelompok bersenjata. Kedua, penangkapan ini dapat menjadi titik balik dalam upaya menurunkan intensitas aksi kekerasan yang selama ini mengganggu stabilitas sosial‑ekonomi di wilayah tersebut. Ketiga, kasus ini mengirimkan sinyal kuat kepada anggota KKB lain bahwa tidak ada tempat yang aman bagi pelaku kejahatan berat.
Pihak berwenang menyatakan bahwa proses hukum terhadap Pulan Wonda akan berjalan sesuai dengan ketentuan perundang‑undangan yang berlaku. Ia akan diproses di pengadilan militer, mengingat statusnya sebagai anggota KKB yang terlibat dalam aksi penembakan terhadap pejabat tinggi negara. Selama proses peradilan, tim penyidik akan melanjutkan penggalian fakta-fakta tambahan, termasuk potensi jaringan pendukung yang lebih luas.
Di sisi lain, pernyataan resmi dari Kantor Staf Presiden (KSP) menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk menegakkan supremasi hukum di Papua. KSP menekankan bahwa penangkapan Pulan Wonda merupakan bukti konkret bahwa pemerintah tidak akan toleran terhadap tindakan terorisme dan kriminalitas bersenjata. Pemerintah juga menegaskan bahwa upaya keamanan akan terus ditingkatkan, termasuk peningkatan kapasitas intelijen dan penegakan hukum di lapangan.
Reaksi masyarakat Papua pun beragam. Sebagian warga mengapresiasi keberhasilan operasi tersebut sebagai langkah positif menuju keamanan yang lebih baik. Namun, terdapat pula kekhawatiran bahwa penangkapan satu individu tidak serta‑merta menghilangkan akar permasalahan konflik bersenjata yang sudah berlangsung lama. Aktivis hak asasi manusia menyoroti pentingnya penyelesaian damai melalui dialog politik, selain tindakan penegakan hukum semata.
Kasus penangkapan Pulan Wonda juga menarik perhatian media nasional dan internasional. Beberapa portal berita menyoroti bagaimana operasi ini mencerminkan perubahan strategi keamanan Indonesia, yang kini lebih menekankan pada pendekatan intelijen terintegrasi dan kerja sama lintas sektor. Di luar negeri, observatorium keamanan regional mencatat bahwa Indonesia semakin memperkuat kontrol wilayahnya, terutama di daerah-daerah yang rawan konflik.
Secara keseluruhan, penangkapan Pulan Wonda menandai pencapaian penting dalam rangka menegakkan keadilan bagi korban penembakan Tito Karnavian serta memperkuat upaya pemerintah dalam menertibkan situasi keamanan di Papua. Meski demikian, tantangan keamanan di wilayah tersebut masih panjang, dan diperlukan langkah‑langkah komprehensif yang melibatkan pembangunan ekonomi, dialog politik, serta penegakan hukum yang konsisten.
Dengan demikian, proses hukum terhadap Pulan Wonda akan terus berjalan, sambil menunggu keputusan akhir pengadilan. Pemerintah berjanji akan terus meningkatkan koordinasi antar‑instansi keamanan demi menciptakan kondisi yang lebih aman dan damai bagi seluruh warga Papua.





