Peringatan Pakar Penerbangan: Hindari Legging Saat Terbang Karena Risiko Tinggi

123Berita – 09 April 2026 | Sejumlah pakar penerbangan memperingatkan para penumpang untuk tidak menganggap enteng pilihan busana di dalam kabin, terutama penggunaan legging yang semakin populer di kalangan traveler. Menurut para ahli, pakaian yang terlalu ketat dan terbuat dari bahan elastis dapat menimbulkan bahaya serius bila terjadi insiden di udara, termasuk kecelakaan atau turbulensi yang kuat.

Legging, yang biasanya terbuat dari serat sintetis seperti spandeks atau poliester, memang menawarkan kenyamanan dan fleksibilitas gerak. Namun, ketika tekanan tiba‑tiba terjadi pada tubuh penumpang, pakaian tersebut dapat menahan aliran darah, mengganggu sirkulasi, bahkan memperparah cedera pada tulang belakang. Kondisi ini menjadi lebih kritis pada saat penumpang berada dalam posisi duduk tegak, dengan sabuk pengaman terpasang, sehingga ruang gerak terbatas.

Bacaan Lainnya

Berikut beberapa faktor risiko yang diidentifikasi oleh para pakar:

  • Tekanan pada daerah panggul dan perut: Legging yang sangat ketat menekan otot-otot inti, meningkatkan risiko cedera internal bila terjadi guncangan mendadak.
  • Penghambatan aliran darah: Bahan elastis dapat mengurangi aliran darah ke ekstremitas, menyebabkan kebas, pusing, atau bahkan hipotensi pada situasi darurat.
  • Peningkatan risiko luka pada tulang belakang: Saat turbulensi kuat, tubuh cenderung terdorong ke depan. Legging yang tidak memberi ruang gerak dapat menahan gerakan alami, sehingga beban pada tulang belakang menjadi tidak merata.
  • Keterbatasan pemakaian sabuk pengaman: Sabuk harus menempel rapat di pinggang, namun legging yang terlalu ketat dapat menggeser posisi sabuk, mengurangi efektivitasnya dalam melindungi penumpang.
  • Kesulitan evakuasi cepat: Dalam situasi darurat, penumpang harus dapat melepas pakaian dengan cepat. Legging yang melekat erat pada tubuh dapat memperlambat proses ini.

Para ahli menekankan bahwa pilihan pakaian sebaiknya mempertimbangkan faktor keselamatan, bukan sekadar tren mode. “Kami tidak melarang penumpang memakai legging, namun kami sarankan agar memilih yang tidak terlalu ketat dan terbuat dari bahan yang memungkinkan sirkulasi udara yang baik,” ujar Dr. Andrianto Widodo, pakar keselamatan penerbangan di Lembaga Penerbangan Nasional (LPN).

Selain itu, Dr. Andrianto menambahkan bahwa maskapai penerbangan juga dapat berperan aktif dengan menyampaikan informasi tentang pakaian yang aman melalui materi orientasi sebelum penerbangan. Beberapa maskapai internasional telah memasukkan panduan serupa dalam booklet keamanan, menekankan pentingnya memakai pakaian yang tidak menghambat pergerakan tubuh.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim riset LPN melibatkan simulasi guncangan pada kursi pesawat dengan berbagai jenis pakaian. Hasilnya menunjukkan bahwa penumpang yang mengenakan legging ketat mengalami peningkatan tekanan pada area perut hingga 30 persen dibandingkan dengan penumpang yang memakai celana panjang berbahan katun yang lebih longgar. Tekanan berlebih ini berpotensi memicu cedera organ internal pada situasi turbulensi ekstrim.

Selain faktor fisik, ada pula pertimbangan psikologis. Penumpang yang merasa tidak nyaman dengan pakaian yang menekan cenderung menjadi lebih gelisah, yang pada gilirannya dapat memperburuk respons tubuh terhadap stres. Stres berlebih dapat memengaruhi kemampuan penumpang untuk mengikuti instruksi kru, terutama dalam kondisi darurat.

Berbagai organisasi penerbangan dunia, termasuk International Air Transport Association (IATA), telah mengeluarkan rekomendasi serupa. IATA menyarankan penumpang untuk memilih pakaian yang “longgar di pinggang, mudah dilepas, dan terbuat dari bahan bernapas.” Rekomendasi ini sejalan dengan upaya meningkatkan keselamatan secara menyeluruh, mulai dari persiapan sebelum lepas landas hingga proses pendaratan.

Untuk wisatawan yang sering melakukan perjalanan jarak jauh, tips praktis berikut dapat membantu menjaga kenyamanan sekaligus keselamatan selama berada di udara:

  1. Pilih celana yang terbuat dari bahan katun atau campuran katun‑spandeks dengan tingkat elastisitas rendah.
  2. Pastikan sabuk pengaman dapat terpasang dengan mudah tanpa harus mengencangkan pakaian secara berlebihan.
  3. Gunakan lapisan pakaian tambahan, seperti sweater tipis, yang dapat dilepas atau dipakai kembali tanpa mengganggu sabuk.
  4. Hindari pakaian dengan aksesoris keras (misalnya kancing logam besar) yang dapat melukai diri sendiri atau penumpang lain saat turbulensi.
  5. Sebelum boarding, periksa kembali kenyamanan pakaian dan pastikan tidak ada bagian yang terasa terlalu ketat di area perut atau panggul.

Kesimpulannya, meskipun legging menawarkan gaya dan kenyamanan dalam kehidupan sehari‑hari, pemilihannya dalam konteks penerbangan harus dipertimbangkan secara matang. Memilih pakaian yang memberi ruang gerak cukup, memungkinkan aliran darah lancar, dan memudahkan penggunaan sabuk pengaman dapat mengurangi risiko cedera pada situasi darurat. Penumpang yang bijak akan menyesuaikan pilihan busana mereka demi keselamatan pribadi sekaligus keselamatan bersama di dalam kabin pesawat.

Pos terkait