Pemkab Bekasi Perkuat Kearifan Lokal Lewat Festival Lebaran Bekasi 2024

Pemkab Bekasi Perkuat Kearifan Lokal Lewat Festival Lebaran Bekasi 2024
Pemkab Bekasi Perkuat Kearifan Lokal Lewat Festival Lebaran Bekasi 2024

123Berita – 05 April 2026 | Pemerintah Kabupaten Bekasi kembali menegaskan komitmennya dalam melestarikan kearifan lokal melalui rangkaian acara tahunan Lebaran Bekasi. Festival yang digelar setiap musim mudik ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi antarwarga, melainkan juga menjadi benteng budaya yang menegakkan identitas daerah di tengah arus multikulturalisme yang kian kuat.

Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bekasi, Budi Santoso, menyampaikan bahwa Lebaran Bekasi dirancang sebagai platform interaktif yang mengintegrasikan unsur tradisi, seni, kuliner, serta nilai-nilai gotong royong. “Kami ingin setiap warga, baik yang tinggal di kota maupun di desa, merasakan bahwa warisan budaya Bekasi tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dihidupkan kembali melalui partisipasi aktif masyarakat,” ujarnya dalam sambutan resmi pada pembukaan festival di Balai Kota Bekasi, 12 April 2024.

Bacaan Lainnya

Berbagai elemen budaya ditampilkan secara bersamaan, mulai dari pertunjukan musik tradisional jaipongan, tari topeng, hingga lomba masak khas Lebaran Bekasi yang menonjolkan bahan lokal seperti ketan hitam, kelapa, dan rempah-rempah asli Jawa Barat. Kegiatan tersebut tidak hanya menarik perhatian warga setempat, melainkan juga mengundang kunjungan wisatawan domestik yang ingin menyaksikan keunikan budaya Bekasi.

Untuk memperkuat pesan pelestarian budaya, panitia festival menyusun serangkaian program edukatif yang melibatkan sekolah-sekolah menengah pertama dan atas di seluruh wilayah Kabupaten. Salah satu program unggulan adalah “Warisan Lebaran dalam 5 Menit”, di mana siswa diminta menyiapkan presentasi singkat tentang asal‑usul tradisi Lebaran Bekasi, termasuk makna simbolik kue tradisional, permainan anak‑anak, serta ritual adat yang masih dipraktikkan.

  • Penampilan Seni Tradisional: Suku bangsa Betawi, Sunda, dan Tionghoa menampilkan kolaborasi tarian yang memadukan gerakan klasik dengan sentuhan modern.
  • Lomba Kuliner Khas: 30 tim dari 12 desa berkompetisi memasak ketupat beras merah, opor ayam kampung, dan kue lapis legit yang menggunakan bahan organik.
  • Pameran Kriya dan Kerajinan: Pengrajin lokal memamerkan anyaman bambu, batik motif Bekasi, serta kerajinan kulit yang diproduksi secara berkelanjutan.
  • Dialog Budaya: Forum diskusi panel melibatkan sejarawan, budayawan, serta perwakilan komunitas Muslim, Kristen, dan Hindu untuk membahas peran Lebaran dalam mempererat kerukunan antarumat beragama.

Selain menonjolkan nilai-nilai budaya, Pemerintah Kabupaten Bekasi juga mengoptimalkan festival sebagai sarana promosi ekonomi kreatif. Melalui program “Pasar Lebaran Bekasi”, pedagang UMKM diberikan ruang khusus untuk memasarkan produk mereka, termasuk barang-barang kerajinan tangan, pakaian tradisional, dan makanan ringan khas Lebaran. Statistik sementara menunjukkan peningkatan penjualan sebesar 18 % dibandingkan dengan festival tahun sebelumnya.

Inisiatif lain yang mendapat sorotan adalah upaya pelestarian bahasa daerah. Selama acara, pengunjung dapat berpartisipasi dalam lomba puisi berbahasa Sunda dan Betawi, serta workshop penulisan naskah drama lokal. Budi Santoso menegaskan, “Bahasa adalah jantung budaya. Jika bahasa kita mati, maka identitas kita juga akan tergerus. Oleh karena itu, Lebaran Bekasi menjadi wadah strategis untuk menjaga bahasa daerah tetap hidup dalam generasi muda.”

Keberhasilan festival ini tidak lepas dari dukungan lintas sektor. Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) berkolaborasi menyediakan dana, fasilitas logistik, serta tenaga relawan. Sementara itu, pihak keamanan memastikan keamanan dan ketertiban selama rangkaian acara yang berlangsung selama tiga hari.

Para pengunjung juga mengapresiasi upaya kebersihan lingkungan yang dijalankan secara intensif. Selama Lebaran Bekasi, tim kebersihan kota menempatkan lebih dari 200 tempat sampah daur ulang di titik-titik strategis, serta mengadakan kampanye “Zero Waste Lebaran” yang mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Dalam menutup rangkaian acara, Budi Santoso mengumumkan rencana pengembangan Lebaran Bekasi menjadi festival berskala nasional pada tahun 2026, dengan menambah segmen seni digital dan kompetisi e‑sport yang menyesuaikan dengan tren generasi milenial. “Kami percaya, dengan menggabungkan tradisi dan inovasi, Lebaran Bekasi akan menjadi contoh bagi daerah lain dalam menjaga kearifan lokal tanpa mengorbankan kemajuan,” tutupnya.

Secara keseluruhan, Lebaran Bekasi 2024 tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, melainkan juga arena strategis bagi Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk menegakkan dan memperkuat identitas budaya, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. Upaya berkelanjutan ini diharapkan dapat menjadi model bagi wilayah lain dalam menghadapi tantangan globalisasi, sekaligus menjaga agar kearifan lokal tetap relevan bagi generasi mendatang.

Pos terkait