123Berita – 08 April 2026 | Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menegaskan peran strategisnya dalam meredam narasi radikal yang kerap menyederhanakan konflik di Timur Tengah menjadi isu sektarian. Dalam sebuah pernyataan resmi yang disampaikan oleh Ketua Umum PBNU, Gus Musbah, organisasi tersebut mengingatkan bahwa perang tidak pernah menjadi solusi, melainkan hanya memperluas penderitaan bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama warga sipil yang terjebak di antara pertempuran.
Gus Musbah menyoroti bahwa konflik yang berkepanjangan di wilayah tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa, melainkan juga menambah rentang kebencian antar komunitas agama. Ia menegaskan bahwa PBNU berkomitmen untuk menjadi suara moderasi, menolak segala bentuk ekstremisme yang berusaha memanfaatkan situasi kemanusiaan untuk agenda politik sempit.
Berikut beberapa poin utama yang diangkat dalam pernyataan PBNU:
- Penolakan terhadap narasi sektarian: PBNU menolak interpretasi konflik yang membagi umat manusia menjadi dua kubu berlawanan, melainkan mengajak semua pihak untuk melihat akar permasalahan secara holistik.
- Penghormatan terhadap nilai kemanusiaan: Organisasi menekankan pentingnya menghormati hak asasi manusia, termasuk hak atas kehidupan, keamanan, dan kebebasan beragama bagi semua warga, tanpa memandang latar belakang.
- Seruan kepada pemimpin dunia: PBNU mengimbau para pemimpin internasional untuk meningkatkan upaya diplomatik, mempercepat proses perdamaian, dan menyediakan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi korban.
- Peran aktivis dan ormas keagamaan: Organisasi menilai peran aktif lembaga keagamaan dalam menegakkan dialog lintas agama, serta menolak segala bentuk propaganda yang menstimulasi kebencian.
Dalam konteks ini, PBNU menyoroti bagaimana beberapa kelompok radikal cenderung memanfaatkan situasi konflik untuk menyebarkan ideologi intoleran. Menurut Gus Musbah, “Ketika perang terus berkecamuk, ruang bagi radikalisme semakin lebar. Kita harus menutup celah itu dengan pesan damai yang kuat dan konsisten.”
Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan laporan internasional yang menunjukkan peningkatan jumlah pengungsi dan korban sipil di wilayah konflik. Data terbaru dari badan bantuan kemanusiaan mencatat ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal, akses kesehatan, serta pendidikan. Kondisi ini, menurut PBNU, menuntut respons cepat dan terkoordinasi dari semua pihak, termasuk organisasi keagamaan, pemerintah, dan lembaga internasional.
PBNU juga menekankan pentingnya pendidikan damai dalam jangka panjang. Organisasi tersebut berencana memperluas program-program edukatif di pesantren dan madrasah yang menekankan nilai toleransi, dialog, serta pemahaman sejarah yang objektif. “Jika generasi muda dibekali dengan pengetahuan yang seimbang, mereka tidak akan mudah terjebak dalam propaganda sektarian,” ujar Gus Musbah.
Selain itu, PBNU mengajak umat Muslim di Indonesia untuk bersolidaritas dengan saudara-saudara di Timur Tengah melalui aksi sosial, penggalangan dana, dan kampanye kesadaran. Namun, organisasi menegaskan bahwa bantuan harus diarahkan kepada kebutuhan dasar korban, bukan disalurkan kepada kelompok yang dapat memperpanjang konflik.
Komunitas internasional pun dipanggil untuk meninjau kembali kebijakan militer yang selama ini dianggap memperparah situasi. PBNU menyoroti bahwa penempatan senjata, blokade, serta serangan udara yang tidak terkontrol justru menambah penderitaan warga sipil dan menghambat proses perdamaian. Dalam pernyataannya, PBNU menyerukan peninjauan kembali kebijakan tersebut serta peningkatan dialog multilateral yang melibatkan semua pemangku kepentingan.
Secara historis, PBNU telah berperan sebagai jembatan dialog antaragama di Indonesia. Dari upaya memediasi konflik antarkelompok di Aceh hingga menengahi perselisihan di Papua, organisasi ini selalu menekankan pentingnya pendekatan damai berbasis nilai-nilai Islam moderat. Kini, dengan situasi Timur Tengah yang semakin memanas, PBNU berupaya mengulangi peran serupa di kancah internasional, meski tanpa otoritas resmi, melalui advokasi moral dan dukungan moral kepada korban.
Kesimpulannya, pernyataan PBNU menegaskan bahwa perang bukanlah jalan keluar bagi konflik apa pun. Organisasi tersebut mengajak semua pihak—baik pemerintah, lembaga internasional, maupun masyarakat sipil—untuk menempatkan kepentingan kemanusiaan di atas kepentingan politik sempit. Dengan menolak narasi radikal dan memperkuat nilai damai, PBNU berharap dapat mengurangi penderitaan rakyat di wilayah Timur Tengah dan membuka peluang bagi solusi jangka panjang yang adil dan berkelanjutan.