123Berita – 03 April 2026 | NASA mengonfirmasi bahwa para astronot dalam misi Artemis II berada dalam kondisi prima dan pesawat luar angkasa Orion menunjukkan performa yang memuaskan selama fase awal penerbangan. Pengamatan ini disampaikan oleh Administrator NASA, Bill Nelson, pada siaran langsung yang menampilkan misi bersejarah pertama yang mengirimkan awak manusia mengelilingi Bulan sejak program Apollo.
Artemis II, yang diluncurkan dari Launch Pad 39B di Kennedy Space Center pada 20 Desember 2024, menandai langkah penting dalam agenda kembali manusia ke Bulan. Empat anggota kru – Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen – memulai perjalanan dengan menempuh orbit Bumi sebelum melakukan manuver trans‑lunar pada hari berikutnya. Selama fase orbit pertama, tim pengendali misi mencatat bahwa semua sistem kritis, termasuk propulsi, navigasi, serta komunikasi, beroperasi sesuai standar desain.
“Astronot kami melakukan pekerjaan luar biasa, dan Orion berperilaku sangat baik,” ujar Bill Nelson dalam konferensi pers. “Kita melihat kestabilan suhu, tekanan kabin, serta tingkat radiasi yang berada dalam batas aman, yang menunjukkan kesiapan teknologi untuk misi-misi selanjutnya ke permukaan Bulan dan bahkan ke Mars.”
Berikut rangkaian utama yang telah dilalui Artemis II hingga saat ini:
- Pencapaian orbit Bumi: Setelah peluncuran, Orion berhasil masuk ke orbit rendah Bumi (LEO) pada menit ke‑10, menempatkan kru pada posisi yang tepat untuk evaluasi sistem selama 24 jam pertama.
- Uji‑coba sistem navigasi: Tim misi melakukan kalibrasi instrumen navigasi menggunakan sinyal GPS dan sistem pelacakan Deep Space Network, memastikan akurasi jalur trans‑lunar.
- Manuver trans‑lunar: Pada hari kedua, Orion melakukan pembakaran utama (TEI) yang mengubah lintasannya menuju Bulan, menandai fase pertama perjalanan ke luar orbit Bumi.
- Pengecekan kesehatan kru: Selama penerbangan, dokter medis misi melakukan pemeriksaan rutin melalui telemedicine, mencatat bahwa semua anggota kru berada dalam kondisi fisik dan mental yang optimal.
Para astronot juga melaporkan pengalaman mereka secara langsung melalui kanal komunikasi internal. Reid Wiseman menekankan pentingnya kerja tim dalam mengatasi tantangan mikrogravitasi, sementara Christina Koch menyoroti efektivitas sistem life‑support yang mempertahankan kualitas udara dan tekanan kabin. Victor Glover dan Jeremy Hansen menambahkan bahwa kontrol termal Orion berhasil menjaga suhu interior tetap konstan meski menghadapi fluktuasi radiasi di luar angkasa.
Keberhasilan awal Artemis II tidak hanya menjadi bukti kemajuan teknologi, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap program antariksa Amerika Serikat. ESA (European Space Agency) dan mitra internasional lainnya turut memantau perkembangan misi ini, mengingat Orion menggunakan modul layanan yang dikembangkan bersama dengan Boeing serta beberapa komponen kritis yang dipasok oleh perusahaan-perusahaan Eropa.
Sejumlah analis menilai bahwa Artemis II berhasil mengurangi ketidakpastian teknis yang sempat muncul pada program Artemis sebelumnya. Di antara tantangan yang berhasil diatasi adalah:
- Pengendalian suhu eksternal pada fase trans‑lunar, yang sebelumnya menjadi risiko utama karena radiasi matahari yang intens.
- Stabilitas sistem propulsi berbasiskan hidrogen‑oksigen, yang terbukti dapat menghasilkan dorongan yang diperlukan tanpa mengorbankan keamanan kru.
- Integrasi modul layanan dengan kapsul Orion, memastikan transfer daya dan data yang mulus sepanjang misi.
Selanjutnya, Artemis II dijadwalkan akan melakukan fly‑by orbit lunar selama enam hari, memberikan kesempatan bagi tim ilmiah untuk mengumpulkan data tentang medan magnet Bulan, radiasi kosmik, serta kondisi mikrogravitasi di sekitar satelit alami tersebut. Setelah menyelesaikan fase lunar, Orion akan kembali ke Bumi untuk melakukan pendaratan di Samudra Pasifik pada pertengahan Januari 2025.
Keberhasilan Artemis II menjadi landasan penting bagi Artemis III, yang direncanakan akan mendaratkan astronot pertama – termasuk seorang wanita – di permukaan Bulan pada tahun 2026. Artemis III akan menggunakan modul pendaratan yang dikembangkan oleh SpaceX dalam program Starship HLS, serta melibatkan kolaborasi lebih intens dengan mitra internasional dalam hal eksplorasi ilmiah dan pembangunan infrastruktur lunar.
Kesimpulannya, laporan positif dari NASA tentang kesehatan kru dan kinerja Orion menegaskan bahwa program Artemis berada pada jalur yang tepat untuk mengembalikan manusia ke Bulan dengan aman dan efisien. Keberhasilan misi ini tidak hanya mengukir sejarah baru, tetapi juga membuka peluang bagi eksplorasi lebih jauh ke Mars dan destinasi antariksa lainnya dalam dekade mendatang.

