123Berita – 10 April 2026 | NASA mengumumkan rangkaian prosedur keselamatan yang akan memastikan pendaratan aman (splashdown) kru misi Artemis II pada hari Jumat mendatang. Misi bersejarah ini menandai perjalanan manusia pertama kembali ke luar angkasa sejak program Apollo, dan kali ini menggunakan roket berat Saturn V pengganti, Space Launch System (SLS), serta kapsul Orion yang dilengkapi teknologi terbaru. Sebelum menutup perjalanan mengorbit Bulan, kru empat astronot harus kembali ke Bumi dengan selamat melalui pendaratan di laut, sebuah tahap yang memerlukan koordinasi intens antara tim penerbangan, kapal penyelamat, dan unit medis.
Tim NASA telah merinci serangkaian langkah kritis yang mencakup pemantauan posisi kapsul, penentuan zona pendaratan, serta persiapan kapal penyelamat yang dilengkapi peralatan medis darurat. Proses ini dimulai sejak tiga jam sebelum reentry, ketika Orion akan menembus atmosfer Bumi pada kecepatan lebih dari 25.000 km/jam. Selama fase ini, sensor suhu dan tekanan pada heat shield akan mengirimkan data real‑time ke pusat kontrol di Houston, memastikan bahwa lapisan pelindung berfungsi sebagaimana mestinya.
Setelah kapsul meluncur dari lintasan orbital, sistem parachute berlapis tiga akan diaktifkan secara berurutan. Parasut drogue berukuran besar pertama kali terbuka untuk menstabilkan Orion, diikuti oleh parasut utama yang menurunkan kecepatan hingga sekitar 23 km/jam. Pada tahap akhir, sebuah parasut pendukung (sea‑retrieval) akan menahan kapsul agar tetap mengapung di permukaan laut. Semua prosedur ini telah diuji secara simulasi di laboratorium serta dalam penerbangan sub‑orbital sebelumnya, namun Artemis II menjadi uji coba paling komprehensif karena melibatkan awak manusia.
Lokasi pendaratan dipilih di Samudra Pasifik, tepat di wilayah yang dikelola oleh US Navy dan Coast Guard. Area tersebut berada di sekitar 300 mil selatan Pulau Hawaii, yang menawarkan akses logistik cepat bagi tim penyelamat. Selama 24 jam sebelum splashdown, tiga kapal penyelamat — USS Portsmouth, USNS John L. Sleaves, dan kapal kargo milik NASA — akan berlayar ke zona yang telah ditentukan, masing‑masing dilengkapi dengan tim medis, dokter darurat, serta peralatan pemulihan hipoksia dan cedera termal.
Para astronot yang mengemban misi Artemis II terdiri dari Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, Spesialis Misi Christina Koch, serta Spesialis Misi Kanada Jeremy Hansen. Selama perjalanan mengorbit Bulan, mereka melakukan serangkaian eksperimen mikrogravitasi, menguji sistem navigasi Orion, serta melatih prosedur darurat. Menjelang akhir misi, mereka mengungkapkan rasa syukur atas dukungan tim darat, sambil menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam program Artemis yang melibatkan mitra seperti Badan Antariksa Kanada (CSA) dan Badan Antariksa Eropa (ESA).
Persiapan splashdown tidak hanya melibatkan aspek teknis, melainkan juga psikologis. NASA telah menyelenggarakan sesi simulasi “water landing” di kolam khusus, di mana para astronot berlatih keluar dari kapsul dalam kondisi air dingin serta memakai pakaian selam khusus. Simulasi ini bertujuan mengurangi risiko hipotermia dan memastikan prosedur evakuasi berjalan lancar. Seluruh tim medis juga dilatih untuk menangani potensi cedera akibat g‑force tinggi yang terjadi saat reentry, termasuk pendarahan internal dan stres termal.
Pengamat industri antariksa menilai bahwa langkah-langkah keselamatan yang diambil NASA mencerminkan pelajaran berharga dari insiden Apollo 13 serta misi berawak lainnya. “Setiap detail, mulai dari pemantauan suhu hingga koordinasi kapal penyelamat, menunjukkan bahwa NASA tidak menganggap enteng risiko kembali ke Bumi,” kata Dr. María López, pakar penerbangan luar angkasa di Universitas Texas. “Jika Artemis II berhasil melakukan splashdown tanpa insiden, itu akan menjadi bukti kuat bahwa program Artemis berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan.”
Selain itu, media sosial menampilkan antisipasi tinggi dari masyarakat global. Di platform seperti Twitter dan Reddit, ribuan pengguna menunggu siaran langsung pendaratan, sementara komunitas ilmiah menyiapkan analisis data reentry secara real‑time. Pemerintah Amerika Serikat juga menyiapkan pernyataan resmi yang akan disampaikan oleh Administrator NASA Bill Nelson setelah kru dinyatakan aman.
Keseluruhan, rangkaian langkah aman yang dirancang NASA tidak hanya berfokus pada teknis pendaratan, tetapi juga pada kesiapan medis, logistik, dan komunikasi publik. Keberhasilan splashdown akan menutup bab pertama program Artemis dengan catatan positif, menegaskan kembali komitmen Amerika Serikat untuk kembali menjadi pelopor dalam penjelajahan luar angkasa.