Motor Listrik MBG Ribu Unit: Desain Mirip Buatan China, Apa Dampaknya?

Motor Listrik MBG Ribu Unit: Desain Mirip Buatan China, Apa Dampaknya?
Motor Listrik MBG Ribu Unit: Desain Mirip Buatan China, Apa Dampaknya?

123Berita – 09 April 2026 | Badan Gizi Nasional (BGN) baru-baru ini mengumumkan pembelian sebanyak 25.000 unit motor listrik bermerek EMMO untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menargetkan jutaan anak sekolah di seluruh Indonesia. Langkah ini dipandang sebagai upaya pemerintah untuk mempercepat distribusi makanan bergizi sekaligus mengurangi jejak karbon transportasi. Namun, tak lama setelah pengumuman tersebut, publik mulai memperhatikan kemiripan visual antara motor EMMO yang dibeli dengan model motor listrik buatan China bernama Okla, menimbulkan perdebatan sengit di media sosial.

Program MBG sendiri diluncurkan pada awal tahun 2023 dengan tujuan utama menyediakan makanan bergizi secara gratis kepada anak-anak sekolah, khususnya di daerah terpencil. Logistik menjadi tantangan utama karena banyak wilayah yang sulit dijangkau oleh kendaraan bermesin bensin konvensional. Oleh karena itu, BGN mencari solusi transportasi yang ramah lingkungan, ekonomis, dan mudah dirawat, yang pada akhirnya mengarahkan mereka pada motor listrik sebagai alternatif yang paling sesuai.

Bacaan Lainnya

Motor EMMO yang dipilih memiliki spesifikasi teknis yang menarik: motor hub drive dengan daya 3 kW, kapasitas baterai lithium‑ion 2,5 kWh, jangkauan rata‑rata 80 kilometer per pengisian, dan kecepatan maksimum 45 km/jam. Harga satu unit dilaporkan berada di kisaran Rp 12 jutaan, menjadikannya pilihan yang kompetitif dibandingkan kendaraan bensin sekelas. Selain itu, motor listrik ini dilengkapi dengan sistem telemetri yang memungkinkan BGN memantau penggunaan energi secara real‑time, sehingga dapat mengoptimalkan alokasi sumber daya.

Namun, sorotan publik tidak berfokus pada spesifikasi, melainkan pada tampilan eksterior motor tersebut. Foto-foto motor EMMO yang dipajang dalam acara serah terima mengungkapkan bodi yang hampir identik dengan motor listrik Okla buatan China, mulai dari bentuk lampu depan, desain panel instrumen, hingga pola warna yang khas. Beberapa netizen langsung menuduh adanya praktik peniruan desain, bahkan menyebutnya sebagai bentuk “plagiarisme industri”. Isu tersebut kemudian memicu perbincangan tentang perlindungan hak kekayaan intelektual dan kemandirian industri otomotif Indonesia.

Menanggapi kontroversi tersebut, juru bicara BGN, Rini Suryani, menyatakan bahwa proses pengadaan motor listrik dilakukan melalui tender terbuka yang menilai penawaran berdasarkan kriteria teknis, ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan. Ia menegaskan bahwa tidak ada pertimbangan merek atau asal produk, melainkan fokus pada kemampuan motor untuk memenuhi kebutuhan operasional program MBG. “Kami telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap performa, daya tahan baterai, serta biaya perawatan. Pilihan EMMO merupakan hasil penilaian objektif,” ujar Suryani dalam konferensi pers.

Para pakar industri otomotif memberikan perspektif yang lebih luas. Menurut Dr. Agus Prasetyo, dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia, kemiripan desain antara produk lokal dan asing tidak selalu berarti pelanggaran hak cipta. “Banyak produsen motor listrik di Asia, khususnya China, menggunakan platform desain yang seragam untuk mengurangi biaya riset dan pengembangan. Hal ini menciptakan pola visual yang serupa di pasar global,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa Indonesia masih dalam tahap pengembangan basis riset motor listrik, sehingga ketergantungan pada teknologi luar negeri masih tinggi.

Implikasi dari isu ini meluas ke sektor kebijakan industri. Pemerintah telah meluncurkan program “Made in Indonesia 2025” yang menargetkan peningkatan nilai tambah produk dalam negeri, termasuk kendaraan listrik. Jika publik terus menilai produk lokal sebagai tiruan, kepercayaan konsumen dapat menurun, menghambat upaya pemerintah untuk menumbuhkan ekosistem industri otomotif nasional. Di sisi lain, keberhasilan program MBG dalam mengirimkan makanan bergizi ke wilayah terpencil dapat menjadi studi kasus positif bagi integrasi transportasi listrik dalam layanan publik.

Kelompok konsumen dan LSM lingkungan juga mengirimkan surat terbuka kepada Kementerian Perhubungan, menuntut transparansi dalam proses pengadaan serta perlindungan desain lokal. Mereka menekankan pentingnya dukungan pemerintah terhadap inovasi domestik, baik melalui insentif pajak maupun pendanaan riset. Sementara itu, produsen motor listrik dalam negeri menanggapi dengan optimis, menyatakan akan meningkatkan kapabilitas desain dan memperkuat kerja sama dengan lembaga riset untuk menghasilkan produk yang tidak hanya kompetitif secara harga, tetapi juga unik secara estetika.

Kesimpulannya, pembelian 25.000 motor listrik EMMO oleh Badan Gizi Nasional merupakan langkah strategis dalam memperkuat program Makan Bergizi Gratis dan mengurangi dampak lingkungan transportasi. Meski desain motor tersebut menuai kritik karena kemiripan dengan produk buatan China, faktor teknis, efisiensi biaya, serta kebutuhan operasional menjadi pertimbangan utama dalam keputusan pembelian. Kontroversi ini sekaligus menjadi panggilan bagi industri otomotif Indonesia untuk mempercepat inovasi desain, memperkuat perlindungan hak kekayaan intelektual, dan menumbuhkan rasa percaya publik terhadap produk dalam negeri.

Pos terkait