123Berita – 06 April 2026 | Pesawat Orion yang menjadi bagian penting dalam program Artemis II baru saja meluncur menuju Bulan, menandai langkah besar dalam upaya manusia kembali ke satelit alami kita. Tidak hanya mengangkat para astronot, kapal luar angkasa ini juga membawa koleksi lengkap bekal makanan dan minuman yang dirancang khusus untuk mendukung kebutuhan gizi dan kenyamanan selama perjalanan panjang ke luar angkasa.
Berikut adalah beberapa kategori utama yang termasuk dalam bekal misi Artemis II:
- Makanan utama berkalori tinggi: Hidangan seperti pasta dengan saus tomat, nasi beras merah, dan daging sapi kering disiapkan dalam kemasan khusus yang dapat dipanaskan dengan perangkat pemanas khusus di dalam modul Orion.
- Makanan ringan dan camilan: Biskuit gandum, kacang panggang, dan granola bar yang memberikan energi cepat serta membantu mengurangi rasa bosan selama perjalanan.
- Makanan berbasis buah dan sayur: Puree buah beri, salad quinoa dengan sayuran kering, serta jus buah dalam kantong fleksibel yang mudah dikonsumsi tanpa menghasilkan percikan cairan.
- Protein alternatif: Telur rebus dalam bentuk bubur, ikan tuna yang dikeringkan, serta produk protein berbasis kedelai yang dirancang untuk mengoptimalkan asupan asam amino.
- Minuman khusus: Air mineral dalam kantong khusus, teh herbal, kopi instan, serta minuman elektrolit yang membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Setiap makanan dilengkapi dengan label nutrisi yang jelas, mencakup kalori, protein, lemak, serta vitamin dan mineral penting. Dalam kondisi mikrogravitasi, tubuh manusia cenderung mengalami penurunan massa otot dan kepadatan tulang, sehingga asupan protein dan kalsium menjadi prioritas. Untuk mengatasi hal ini, menu Artemis II menonjolkan makanan tinggi protein dan kalsium, seperti susu kental manis yang diformulasikan khusus serta yogurt kering.
Selain aspek gizi, kenyamanan rasa juga menjadi fokus utama. Astronot telah melakukan uji rasa secara berulang kali di laboratorium Bumi, memastikan bahwa rasa makanan tetap terjaga meskipun disimpan dalam suhu rendah dan tekanan vakum. Beberapa varian rasa yang dipilih antara lain pasta bolognese, chicken curry, dan stroberi dengan krim. Keberagaman rasa diharapkan dapat mengurangi stres psikologis yang sering muncul akibat keterbatasan makanan selama misi jangka panjang.
Pembungkusan makanan juga mengalami inovasi signifikan. Menggunakan bahan ringan namun kuat, setiap paket dirancang untuk menahan goncangan, radiasi, dan perubahan suhu ekstrim. Beberapa makanan dikemas dalam bentuk “thermostabilized pouches” yang dapat dipanaskan dengan suhu hingga 80°C, sementara makanan kering disimpan dalam kantong kedap udara. Teknologi ini tidak hanya menjamin kualitas makanan, tetapi juga mengoptimalkan penggunaan ruang dalam modul yang terbatas.
Selama misi Artemis II, para astronot akan menghabiskan sekitar enam hari di luar angkasa sebelum melakukan manuver kembali ke Bumi. Selama periode tersebut, mereka akan mengonsumsi sekitar 2.400 kalori per hari, sesuai dengan kebutuhan energi yang meningkat akibat aktivitas fisik dan adaptasi terhadap mikrogravitasi. Jadwal makan diatur secara terstruktur, mencakup tiga kali makan utama dan dua hingga tiga camilan di antara waktu makan.
Keberhasilan penyediaan 189 jenis makanan ini tidak lepas dari dukungan berbagai lembaga, termasuk NASA, Jet Propulsion Laboratory, serta perusahaan swasta yang berspesialisasi dalam teknologi pangan antariksa. Kolaborasi lintas sektor ini mencerminkan betapa pentingnya aspek nutrisi dalam eksplorasi luar angkasa, sekaligus membuka peluang inovasi yang dapat diaplikasikan di Bumi, terutama dalam bidang pangan tahan lama dan nutrisi untuk kondisi ekstrem.
Selain menambah pengetahuan ilmiah, keberagaman bekal makanan Artemis II juga menjadi simbol kebudayaan. Beberapa hidangan mencerminkan citarasa internasional, termasuk pasta Italia, nasi Jepang, serta makanan tradisional Indonesia yang diadaptasi menjadi versi antariksa. Hal ini memperlihatkan bagaimana misi luar angkasa tidak hanya melibatkan teknologi tinggi, tetapi juga menjembatani keragaman budaya manusia.
Dengan keberangkatan Orion, harapan besar terletak pada kemampuan misi Artemis II untuk membuka jalan bagi pendaratan manusia di Bulan kembali pada tahun-tahun mendatang. Keberhasilan dalam penyediaan makanan yang memadai dan lezat menjadi salah satu faktor kunci dalam memastikan kesehatan, moral, dan kinerja astronot selama periode kritis perjalanan.
Secara keseluruhan, 189 jenis makanan yang dibawa ke Bulan bukan sekadar persediaan logistik, melainkan representasi dari dedikasi ilmiah, inovasi teknologi, serta semangat kolaboratif internasional. Keberhasilan Artemis II akan menjadi fondasi penting bagi misi-misi eksplorasi selanjutnya, termasuk rencana NASA untuk mengirim manusia ke Mars.