Misa Paskah 2024: Kardinal Suharyo Tekankan Pentingnya Tobat Ekologis untuk Menghadapi Konsumerisme

Misa Paskah 2024: Kardinal Suharyo Tekankan Pentingnya Tobat Ekologis untuk Menghadapi Konsumerisme
Misa Paskah 2024: Kardinal Suharyo Tekankan Pentingnya Tobat Ekologis untuk Menghadapi Konsumerisme

123Berita – 05 April 2026 | Jakarta, 31 Maret 2024 – Dalam rangka perayaan Paskah yang jatuh pada Minggu ini, Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, memimpin Misa Paskah di Gereja Katedral Jakarta dengan pesan moral yang melampaui dimensi rohaniah. Di tengah sorotan liturgi tradisional, sang Kardinal menekankan urgensi kembali melakukan “tobat ekologis” sebagai respons terhadap maraknya keserakahan dan degradasi lingkungan yang mengancam masa depan umat manusia.

Kata sambutan Kardinal Suharyo yang disampaikan setelah konsekrasi Ekaristi menegaskan, “Kita dipanggil untuk kembali menyesali dosa-dosa ekologis kita, mengakui bahwa tindakan manusia yang serakah telah menggerogoti bumi yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Tobat ekologis bukan sekadar simbol, melainkan langkah konkret dalam memulihkan keadilan lingkungan.”

Bacaan Lainnya

Pesan tersebut diulang-ulang sepanjang ibadah, dengan penekanan pada peran setiap umat Katolik sebagai penjaga ciptaan. Kardinal Suharyo mencontohkan beberapa tindakan sederhana yang dapat diadopsi, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, beralih ke transportasi ramah lingkungan, serta mendukung program penghijauan di kawasan perkotaan. Ia menambahkan, “Kita tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga harus menghidupkan kembali komitmen kita terhadap bumi yang telah diciptakan.

Selain menyoroti pentingnya tindakan pribadi, Kardinal Suharyo mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berkolaborasi dengan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat. “Kebijakan publik yang mendukung energi terbarukan, perlindungan hutan, dan pengelolaan sampah yang efisien harus menjadi prioritas bersama,” ujar beliau. Pernyataan tersebut mencerminkan kesadaran Gereja Katolik Indonesia akan peranannya dalam wacana lingkungan hidup nasional.

Sejumlah tokoh keagamaan dan aktivis lingkungan yang hadir dalam ibadah menyambut baik seruan Kardinal Suharyo. Sr. Maria Lestari, Ketua Dewan Lingkungan Gereja Katolik Indonesia (DLGKI), menyatakan, “Seruan tobat ekologis ini menjadi panggilan moral yang kuat. Kami siap menggerakkan jaringan paroki untuk mengimplementasikan program-program hijau yang berkelanjutan.”

Pengalaman pribadi Kardinal Suharyo dalam menggelar inisiatif hijau di paroki-paroki di wilayah Jakarta juga menjadi contoh nyata. Selama lima tahun terakhir, beberapa gereja di wilayah metropolitan telah menanam ribuan pohon, mengadakan program daur ulang, dan mengadakan pelatihan bagi umat tentang cara mengurangi jejak karbon dalam kehidupan sehari-hari.

Pengaruh pesan ini tidak hanya terbatas pada kalangan Katolik. Media lokal dan nasional melaporkan bahwa seruan tobat ekologis pada momen Paskah ini menambah sorotan publik terhadap isu perubahan iklim yang sedang mengglobal. Sebuah survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Nasional (LSN) pada akhir pekan menunjukkan peningkatan kesadaran akan isu lingkungan di antara responden yang mengikuti ibadah Paskah, naik dari 48% pada tahun lalu menjadi 62%.

Para ekonom dan pakar kebijakan juga menilai bahwa dorongan moral dari institusi keagamaan dapat menjadi katalisator perubahan perilaku konsumen. Dr. Andi Prasetyo, pakar kebijakan publik di Universitas Indonesia, berkomentar, “Ketika tokoh agama menekankan nilai moral dalam konteks ekologis, hal itu dapat memperkuat regulasi lingkungan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program hijau.”

Namun, tidak semua pihak menyambut seruan tersebut tanpa pertanyaan. Sebagian kalangan menyoroti tantangan implementasi kebijakan hijau di tengah ketimpangan ekonomi dan kurangnya infrastruktur yang memadai. “Kita harus memastikan bahwa ajakan tobat ekologis tidak menjadi beban tambahan bagi masyarakat berpendapatan rendah,” ujar Budi Santoso, aktivis sosial dari LSM Peduli Lingkungan.

Menanggapi hal ini, Kardinal Suharyo menekankan pentingnya keadilan sosial dalam upaya ekologi. “Tobat ekologis harus bersifat inklusif, memberi ruang bagi semua lapisan masyarakat untuk berkontribusi tanpa mengorbankan kebutuhan dasar mereka,” tegasnya. Ia menambahkan, “Kita perlu mengintegrasikan kebijakan lingkungan dengan kebijakan kesejahteraan sosial agar hasilnya berkelanjutan dan adil.

Selama Misa, umat juga diajak untuk merenungkan makna simbolik telur Paskah yang melambangkan kelahiran kembali. Kardinal Suharyo mengaitkan simbol tersebut dengan harapan akan kebangkitan bumi yang lebih bersih dan sejahtera. “Seperti telur yang menutup benih kehidupan, kita harus melindungi bumi agar benih harapan generasi mendatang dapat tumbuh dengan subur,” ujarnya.

Berbagai paroki di seluruh Indonesia diperkirakan akan melanjutkan kampanye tobat ekologis ini dengan mengadakan program-program edukatif, seperti workshop daur ulang, lomba menanam pohon, serta seminar tentang perubahan iklim. Gereja Katolik Indonesia berencana merilis panduan praktis “Tobat Ekologis dalam Kehidupan Sehari-hari” yang akan disebarluaskan melalui media sosial dan buletin paroki.

Kesimpulannya, Misa Paskah yang dipimpin Kardinal Suharyo tidak hanya menjadi perayaan kebangkitan Kristus, melainkan juga menjadi panggilan moral untuk memulihkan hubungan manusia dengan alam. Dengan menekankan pentingnya tobat ekologis, sang Kardinal menegaskan bahwa tanggung jawab spiritual umat Katolik meluas ke dimensi lingkungan, menuntut tindakan nyata yang berlandaskan keadilan, solidaritas, dan kepedulian terhadap bumi yang kita warisi.

Pos terkait