123Berita – 04 April 2026 | Jakarta – Di era modern, psikiatri mengidentifikasi ego yang tidak terkelola sebagai sumber utama kecemasan dan stres. Namun, lebih dari tujuh abad silam, Jalaluddin Rumi telah menawarkan sebuah metode pengendalian ego melalui tarian berputar para dervish, yang kini kembali dipelajari sebagai alat psikologis.
Dalam sebuah diskusi publik bersama Prof. Dr. Nevzat Tarhan, yang bertajuk “Between Brain and Soul: A Psychiatrist’s Perspective on Tasawuf and Mental Health”, terungkap bahwa setiap elemen pakaian para penari Rumi tidak sekadar ornamen ritual, melainkan simbol yang dirancang untuk mengarahkan kesadaran menuju “kematian ego”. Menurut Tarhan, proses simbolik ini membantu menstabilkan kesehatan mental dengan mengurangi dominasi diri yang berlebihan.
Sikke: Batu Nisan Bagi Kesombongan
Sikke, topi tinggi berwarna cokelat yang dipakai oleh dervish, melambangkan batu nisan. Dalam konteks psikologis, mengenakan “batu nisan” pada kepala menjadi pengingat konstan akan kefanaan manusia. Kesadaran akan kematian menggerakkan individu untuk menekan sifat narsisme dan kesombongan, sehingga beban mental yang dipicu ekspektasi duniawi berkurang secara signifikan.
Prosesi Melepaskan Jubah: Katarsis Jiwa
Sebelum memulai gerakan, penari mengenakan jubah hitam besar yang melambangkan kegelapan nafsu duniawi atau alam kubur. Pada saat tarian dimulai, jubah hitam tersebut dilepas, menandakan proses penyucian jiwa dan kesiapan meninggalkan keterikatan materi. Di balik jubah hitam terdapat jubah putih yang menyerupai kain kafan, menegaskan bahwa penari telah “mati” secara spiritual sebelum kematian fisik, yakni dengan mematikan keinginan pribadi demi kehendak Ilahi.
Ikat Pinggang Hitam: Pengendalian Nafsu
Ikat pinggang hitam yang melingkar kuat di pinggang dervish melambangkan komitmen untuk mengikat nafsu. Dalam pandangan psikiatri, ikat ini menjadi metafora manajemen emosi; seseorang yang mentalnya kuat mampu mengendalikan dorongan internalnya, bukan menjadi budak keinginan yang tak terkendali.
Empat Tahap Menuju “Nihilnya Ego”
- Menuntut Ilmu: Upaya memahami hakikat kebenaran secara mendalam.
- Cinta kepada Allah: Mengarahkan kasih sayang pada sumber yang abadi.
- Cinta Hakiki: Merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.
- Meleburkan Diri: Tahap akhir di mana ego benar‑benar hilang, menyisakan pengabdian dan kedamaian batin.
Keempat tahapan ini bukan sekadar teori, melainkan rangkaian transformasi psikologis yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari‑hari. Dengan menginternalisasi makna masing‑masing simbol, individu belajar menurunkan identitas ego dan membuka ruang bagi keseimbangan emosional.
Prof. Dr. Nevzat Tarhan menekankan bahwa kesehatan mental yang optimal dimulai dari keberanian mengakui bahwa ego sering menjadi penjara batin. Praktik tasawuf Rumi menawarkan sebuah peta simbolik untuk keluar dari penjara tersebut. Misalnya, mengadopsi mentalitas “Sikke” dalam pikiran berarti selalu mengingat keterbatasan diri, sehingga kerendahan hati menjadi landasan dalam berinteraksi dengan dunia.
Selain itu, ritual melepaskan jubah hitam dapat diadaptasi menjadi teknik visualisasi dalam terapi, di mana klien membayangkan diri mereka menanggalkan beban emosional sebelum memasuki fase konsentrasi penuh. Ikat pinggang hitam dapat dijadikan metafora penguatan batas pribadi, membantu individu menetapkan batasan yang sehat terhadap rangsangan eksternal.
Penggabungan simbolisme spiritual dengan pendekatan psikologis modern membuka peluang baru dalam bidang kesehatan mental. Dengan memanfaatkan warisan tasawuf, terapis dapat menambah dimensi simbolik dalam proses penyembuhan, khususnya bagi mereka yang mencari makna lebih dalam dari sekadar teknik kognitif‑perilaku.
Secara keseluruhan, simbolisme Rumi mengajarkan bahwa mematikan ego bukanlah tindakan penolakan diri, melainkan proses transformasi menuju kebebasan batin. Ketika ego meredup, ruang untuk empati, kebijaksanaan, dan ketenangan mental menjadi lebih luas. Dengan menginternalisasi nilai‑nilai ini, masyarakat modern dapat menemukan cara baru untuk mengelola stres, meningkatkan kesejahteraan, dan mencapai keseimbangan psikologis yang lebih stabil.