123Berita – 05 April 2026 | Tim pemadam kebakaran yang dikenal dengan sebutan Manggala Agni kembali menampilkan kegigihan luar biasa dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda wilayah Bengkalis, Provinsi Riau. Pada minggu ini, api melanda lima desa di Kecamatan Bantan serta Desa Titi Akar di Pulau Rupat Utara, memaksa tim Manggala Agni melakukan operasi pemadaman secara intensif meski dihadapkan pada kendala kritis seperti keterbatasan pasokan air dan karakteristik khusus kebakaran gambut.
Karhutla yang terjadi di kawasan tersebut dipicu oleh kombinasi faktor cuaca kering, suhu tinggi, serta kondisi tanah gambut yang mudah terbakar. Pada pagi hari, api pertama kali terdeteksi di Desa Bantan Tengah, kemudian dengan cepat menyebar ke Desa Bantan Selatan, Bantan Utara, Bantan Barat, dan akhirnya mencapai Desa Titi Akar. Luas area terbakar diperkirakan mencapai lebih dari 150 hektar, mengancam pemukiman, lahan pertanian, serta habitat satwa liar setempat.
Tim Manggala Agni yang dipimpin oleh Komandan Penyelamat Kebakaran (Pusdikbangtan) Budi Santoso, segera dikerahkan setelah menerima laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bengkalis. “Kami tidak dapat menunggu lagi. Setiap menit yang berlalu menambah risiko bagi warga dan memperbesar dampak lingkungan,” ujar Budi dalam briefing awal.
Operasi pemadaman mengandalkan tiga elemen utama: personel lapangan, peralatan pemadam, dan strategi penanggulangan yang disesuaikan dengan kondisi gambut. Tim yang terdiri dari lebih dari 40 relawan, termasuk petugas pemadam profesional, anggota TNI, serta warga setempat, bekerja secara bergiliran selama 12 jam nonstop. Sumber daya air yang tersedia terbatas, mengingat wilayah tersebut tidak memiliki jaringan hydrant atau sumber air bersih yang memadai. Sebagai solusi sementara, tim memanfaatkan truk tanker yang diisi air dari sungai terdekat, sekaligus mengoperasikan mesin pompa portable untuk mengalirkan air ke area yang paling terdampak.
- Keterbatasan air: Hanya tersedia tiga truk tanker dengan kapasitas masing-masing 8.000 liter, yang harus diputar bergantian untuk menjangkau titik-titik kebakaran.
- Api gambut: Kebakaran pada lapisan gambut cenderung menyebar ke bawah tanah, membuatnya sulit dipadamkan hanya dengan semprotan air. Tim harus menggunakan teknik penggalian tanah dan penyebaran bahan kimia pemadam khusus.
- Cuaca ekstrem: Angin kencang dan suhu mencapai 35°C memperparah penyebaran api, sekaligus menambah risiko kelelahan bagi petugas.
Selain upaya pemadaman, Manggala Agni juga melaksanakan evakuasi darurat bagi warga yang tinggal di zona merah. Lebih dari 200 keluarga dipindahkan ke posko darurat yang dibangun di balai desa Bantan. Selama proses evakuasi, tim medis yang tergabung dalam unit SAR memberikan pertolongan pertama bagi korban luka bakar ringan serta menyediakan kebutuhan pokok seperti makanan, air bersih, dan selimut.
Upaya koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam penanggulangan. BPBD, Dinas Lingkungan Hidup Riau, serta Pusat Pengendalian Kebakaran (Pusdikbangtan) berkolaborasi dalam penyusunan peta hot spot menggunakan citra satelit, yang membantu tim Manggala Agni menargetkan area api secara lebih tepat. “Teknologi satelit memberi kami gambaran real‑time tentang penyebaran api, sehingga kami dapat mengalokasikan sumber daya secara optimal,” kata Dr. Siti Nurhaliza, ahli kebakaran hutan dari Universitas Riau.
Hingga saat penulisan, api berhasil dipadamkan di empat desa, sementara Desa Titi Akar masih menjadi titik fokus operasi karena kondisi tanah gambut yang dalam. Tim kini mengimplementasikan metode pemadaman berlapis: pertama, menurunkan intensitas api dengan aliran air, kemudian menutup permukaan tanah menggunakan pasir dan tanah liat untuk menghentikan penyebaran bawah tanah.
Komunitas setempat memberikan apresiasi terhadap dedikasi tim Manggala Agni. Kepala Desa Bantan, H. Ahmad Fauzi, menyatakan, “Tanpa keberanian dan kerja keras mereka, desa kami bisa hancur total. Kami berdoa semoga api segera padam dan tidak ada yang terluka lagi.”
Secara nasional, kebakaran hutan di Riau menjadi sorotan karena kontribusinya terhadap emisi karbon dan degradasi ekosistem. Pemerintah Provinsi Riau menegaskan komitmen untuk meningkatkan kapasitas penanggulangan kebakaran, termasuk memperluas jaringan pompa air, menambah armada pemadam, serta melatih lebih banyak relawan lokal.
Menutup laporan ini, upaya pemadaman yang dijalankan oleh Manggala Agni menunjukkan contoh nyata dari sinergi antara aparat, militer, ilmuwan, dan masyarakat dalam menghadapi bencana alam. Meskipun tantangan masih besar, khususnya terkait dengan karakteristik kebakaran gambut dan keterbatasan sumber daya air, ketangguhan tim serta dukungan komunitas diharapkan dapat mengakhiri ancaman kebakaran di Bengkalis, sekaligus menjadi pelajaran penting bagi penanganan Karhutla di wilayah lain.





