123Berita – 05 April 2026 | Tradisi Cheng Beng yang kerap dijumpai di kepulauan Bangka Belitung bukan sekadar serangkaian ritual, melainkan wujud nyata dari nilai-nilai penghormatan kepada leluhur dan penguatan ikatan kekerabatan antarwarga. Praktik ini, yang telah diwariskan secara turun-temurun, menjadi cerminan identitas budaya lokal yang kuat dan menjadi agenda penting dalam upaya pelestarian warisan budaya Indonesia.
Gubernur Bangka Belitung baru-baru ini menegaskan pentingnya Cheng Beng sebagai simbol penghormatan kepada para pendahulu. Dalam sebuah sambutan resmi, beliau menyoroti bahwa ritual ini tidak hanya menyatukan anggota keluarga yang tersebar di berbagai pulau, melainkan juga memperkuat rasa kebersamaan dalam menghadapi tantangan modernisasi. Menurutnya, Cheng Beng menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan nilai‑nilai tradisional yang lestari.
Secara historis, Cheng Beng berasal dari istilah “Cheng” yang berarti bersih dan “Beng” yang berarti bersatu. Upacara dimulai dengan persiapan bahan-bahan tradisional seperti kelapa, kue beras, dan anyaman rotan yang melambangkan keberkahan. Seluruh anggota keluarga, mulai dari orang tua hingga anak-anak, berpartisipasi dalam proses persiapan, memotong kelapa bersama, serta menata sesaji di altar kecil yang biasanya ditempatkan di rumah atau balai desa.
- Persiapan sesaji: Kelapa dipukul hingga pecah, simbolisasi membuka jalan bagi keberuntungan.
- Penyajian makanan: Kue beras dan hasil bumi lainnya diletakkan rapi sebagai tanda rasa syukur.
- Doa bersama: Seluruh keluarga mengucapkan doa untuk memohon perlindungan leluhur dan kesejahteraan bersama.
Setelah tahapan persiapan selesai, acara utama Cheng Beng dilaksanakan pada sore hari, ketika matahari mulai meredup. Upacara dimulai dengan pemukulan gong tradisional yang menandakan panggilan kepada roh nenek moyang. Selanjutnya, kepala keluarga memimpin prosesi memutar anyaman rotan di sekeliling altar, melambangkan siklus kehidupan yang terus berputar.
Makna simbolik yang terkandung dalam setiap langkah Cheng Beng sangat mendalam. Pecahan kelapa melambangkan pemecahan hambatan, sementara anyaman rotan menegaskan keterikatan antaranggota keluarga yang tidak terputus meski berada di pulau-pulau yang terpisah. Selain itu, ritual doa bersama memperkuat rasa persaudaraan, menegaskan bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan kolektif.
Pelestarian Cheng Beng kini mendapat dukungan tidak hanya dari pemerintah daerah tetapi juga dari lembaga kebudayaan dan komunitas akademis. Program pendidikan budaya di sekolah-sekolah setempat mulai memasukkan materi Cheng Beng dalam kurikulum, sehingga generasi muda dapat memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai tradisi dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan dokumentasi video dan publikasi artikel juga dilakukan untuk memperluas jangkauan pengetahuan tentang tradisi ini ke luar wilayah Bangka Belitung.
Keberhasilan pelestarian tradisi Cheng Beng terbukti dari meningkatnya partisipasi masyarakat pada setiap tahunnya. Bahkan, beberapa desa kini mengadakan festival Cheng Beng yang melibatkan wisatawan domestik, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menyaksikan secara langsung keunikan budaya setempat. Dengan demikian, Cheng Beng tidak hanya menjadi simbol penghormatan leluhur, tetapi juga menjadi aset pariwisata yang potensial bagi perekonomian daerah.
Secara keseluruhan, Cheng Beng merupakan contoh konkret bagaimana sebuah tradisi dapat berfungsi sebagai pengikat sosial, pengingat sejarah, dan motor pengembangan budaya. Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah, lembaga kebudayaan, dan partisipasi aktif warga, tradisi ini dipastikan akan terus hidup dan memberikan nilai tambah bagi Bangka Belitung serta bangsa Indonesia secara keseluruhan.