123Berita – 04 April 2026 | Jakarta – “Better Man” menjadi salah satu trek yang sering terlewatkan di album Red (Taylor’s Version), namun lagu ini menyimpan cerita dan nilai emosional yang kuat. Dirilis kembali pada 12 November 2021 sebagai bagian dari proyek pengembalian hak cipta, “Better Man (Taylor’s Version) (From The Vault)” berhasil menembus lebih dari 200 juta stream di Spotify hanya dalam waktu singkat. Meskipun tidak termasuk dalam daftar lagu utama pada album asal, keberadaan lagu ini mengundang perhatian publik karena latar belakang penulisannya yang unik serta pesan tentang proses melupakan hubungan yang menyakitkan.
Awalnya, “Better Man” ditulis oleh Taylor Swift pada era album pertamanya, namun tidak pernah masuk ke dalam rilisan resmi. Ketika hak kepemilikan enam album pertamanya kembali ke tangan Swift setelah sengketa dengan manajer musik Scooter Braun, ia memutuskan untuk mengeluarkan kembali seluruh katalognya dalam bentuk Taylor’s Version. Sebagai bagian dari upaya tersebut, ia menambahkan lagu‑lagu “From The Vault”, yakni rekaman yang sebelumnya disimpan dalam brankas produksi. “Better Man” menjadi salah satu contoh paling menonjol dari koleksi tersebut.
Sebelum kembali ke tangan Swift, lagu ini pernah diberikan kepada grup musik country Little Big Town pada tahun 2016. Kolaborasi tersebut menjadikan “Better Man” sebagai satu‑satunya lagu country yang dirilis Swift setelah peralihan gaya musiknya ke pop melalui album 1989 pada 2014. Versi bersama Little Big Town bahkan berhasil meraih nominasi Grammy, mempertegas kualitas lirik dan melodi yang dimilikinya.
Dari segi makna, “Better Man” menggambarkan perjuangan seseorang untuk melepaskan diri dari hubungan yang menimbulkan luka. Liriknya menyoroti kesadaran bahwa hidup akan lebih baik tanpa pasangan yang tidak menghargai. Pada bagian verse pertama, Swift menyatakan bahwa ia mungkin lebih baik sendirian daripada tetap terikat pada pria yang tidak menyadari nilai dirinya. Kalimat “I see the permanent damage you did to me” menegaskan adanya bekas luka emosional yang mendalam.
Pre‑chorus menampilkan dialog internal pada jam dini hari, ketika sang penyanyi meneguhkan keputusan untuk pergi. “I know the bravest thing I ever did was run” menjadi inti dari tema keberanian menghadapi perpisahan. Refrain berulang kali menegaskan kerinduan yang masih ada, namun sekaligus mengharapkan sang mantan menjadi “a better man”. Pernyataan ini mencerminkan paradoks antara rasa sayang yang masih tersisa dan kebutuhan untuk menjaga harga diri.
Bagian kedua menambah lapisan konflik dengan menyoroti ketergantungan pada pasangan yang mudah berubah hati. “Than needing a man who could change his mind at any given minute” menegaskan ketidakpastian yang dirasakan. Lirik selanjutnya menyingkap rasa frustrasi atas kecemburuan dan sikap merendahkan yang pernah dialami, memperlihatkan dinamika hubungan yang toxic.
Bridge memperlihatkan kebanggaan diri yang dipertahankan sebagai satu‑satunya sumber kekuatan saat ini. Swift menegaskan bahwa ia telah memberikan yang terbaik, namun mantan tidak dapat mengakui hal yang sama. Pada bagian breakdown, harapan terus muncul: “I wish you were a better man”, “We might still be in love if you were a better man”. Pengulangan frasa ini menegaskan betapa kuatnya imajinasi tentang apa yang bisa terjadi bila kondisi berubah.
Secara musikal, “Better Man” mengusung aransemen country‑pop dengan petikan gitar akustik, drum ringan, dan harmoni vokal yang melankolis. Kombinasi tersebut memperkuat nuansa introspektif dan menambah kedalaman emosional pada lirik. Meski tidak sepopuler single lain dalam album Red (Taylor’s Version), trek ke‑22 ini berhasil mencuri perhatian pendengar yang mengapresiasi storytelling Swift yang khas.
Popularitas “Better Man” tidak hanya terletak pada angka streaming, melainkan juga pada resonansi tema yang universal. Banyak pendengar mengidentifikasi diri dengan proses move‑on, terutama pada malam hari ketika ingatan masa lalu kembali menghantam. Lagu ini menjadi soundtrack bagi mereka yang tengah berjuang melepaskan kenangan yang menahan langkah maju.
Kesimpulannya, “Better Man” adalah contoh karya yang berhasil menggabungkan latar belakang produksi yang menarik, prestasi industri, dan pesan emosional yang kuat. Dari brankas rekaman hingga panggung Grammy, lagu ini menegaskan bahwa karya yang “underrated” sekalipun dapat menorehkan dampak signifikan bila disajikan dengan kejujuran lyrical dan melodi yang tepat. Bagi Taylor Swift, “Better Man” bukan sekadar rekaman lama yang dihidupkan kembali, melainkan cermin perjalanan pribadi dalam menghadapi perpisahan, mengukuhkan posisi dirinya sebagai penulis lagu yang mampu menyentuh hati jutaan pendengar di seluruh dunia.





