123Berita – 05 April 2026 | Luna Maya, aktris sekaligus presenter ternama Indonesia, mengungkapkan secara terbuka keengganannya untuk kembali mengambil peran dalam film horor. Dalam sebuah wawancara eksklusif, ia menyatakan bahwa pengalaman terakhirnya menyusuri genre menakutkan membuatnya mempertimbangkan untuk menunda karier filmnya jika tawaran serupa muncul kembali.
“Saya merasa prosesnya memakan waktu yang cukup lama, dan itu berdampak pada keseimbangan hidup pribadi serta pekerjaan lain yang saya jalani,” ujar Luna Maya dengan nada serius. Ia menambahkan bahwa sebagai seorang publik figur, ia harus mampu mengatur jadwal dengan cermat agar tidak mengorbankan kualitas karya maupun kesehatan mental.
Keputusan Luna untuk menolak kembali peran horor bukan berarti menutup pintu bagi genre lain. Sebaliknya, ia menegaskan kesiapan untuk kembali ke layar lebar dengan genre yang lebih variatif, seperti drama, komedi, atau bahkan film aksi yang menuntut pendekatan berbeda. Luna menilai bahwa keberagaman peran dapat memperkaya portofolio aktingnya tanpa harus terjebak dalam proses yang monoton.
Selain menyoroti tantangan teknis, Luna juga mengungkapkan sisi psikologis yang tak kalah penting. “Setiap kali harus menjiwai karakter horor, ada tekanan emosional yang cukup berat. Saya harus masuk ke dalam suasana menakutkan yang kadang berlarut lama, dan itu tidak selalu mudah untuk dipisahkan dari realitas sehari-hari,” jelasnya.
Pengakuan ini muncul di tengah meningkatnya minat penonton Indonesia terhadap film horor, terutama yang mengusung tema mistis dan supranatural. Produksi film horor lokal selama beberapa tahun terakhir mengalami lonjakan, dengan sejumlah judul yang berhasil menembus pasar internasional. Namun, Luna Maya menilai bahwa tidak semua aktor harus terjebak dalam tren tersebut jika tidak sesuai dengan kebutuhan pribadi atau profesional.
Para pengamat industri film menilai keputusan Luna Maya sebagai langkah yang bijak dalam mengelola karier jangka panjang. Mereka menekankan pentingnya keseimbangan antara tantangan kreatif dan kesejahteraan pribadi, terutama di tengah industri yang semakin kompetitif. “Artis yang mampu mengatur batasan diri akan lebih tahan lama dan tetap relevan di mata publik,” kata seorang kritikus film senior.
Sementara itu, para produser film horor mengaku masih berharap dapat menggandeng kembali Luna Maya di masa depan. Mereka berargumen bahwa kehadiran Luna dalam genre tersebut dapat memberikan nilai jual lebih tinggi, mengingat popularitasnya yang luas di kalangan penonton. Namun, mereka juga menghormati keputusan sang aktris untuk menolak tawaran yang tidak selaras dengan kondisi pribadi.
Secara keseluruhan, pernyataan Luna Maya mencerminkan dinamika yang terjadi di balik layar industri hiburan Indonesia. Kebutuhan untuk menyeimbangkan antara ambisi profesional, kesehatan mental, dan kehidupan pribadi menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan oleh setiap pelaku seni. Keputusan Luna untuk memilih hiatus jika kembali ditawari peran horor menegaskan komitmennya pada kualitas hidup yang berkelanjutan.
Kesimpulannya, Luna Maya menegaskan bahwa ia akan menunda keterlibatan dalam film horor jika tawaran serupa muncul kembali, demi menjaga keseimbangan waktu dan kesehatan emosional. Keputusan ini sekaligus membuka ruang bagi aktris tersebut untuk mengeksplorasi genre lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan kreatifnya, sekaligus memberi sinyal kepada industri bahwa kesejahteraan artis harus menjadi prioritas dalam proses produksi.





