123Berita – 09 April 2026 | Dalam laga putaran pertama fase grup UEFA Champions League pekan ini, Liverpool harus menelan kekalahan telak 4-1 dari Paris Saint-Germain (PSG) di Stade Pierre-Mauroy. Kemenangan yang meyakinkan bagi sang tamu menimbulkan pertanyaan serius mengenai kondisi tim Asuhan Jürgen Klopp. Apakah Liverpool masih menyandang status sebagai tim juara Premier League, atau sudah mulai kehilangan identitas permainan yang selama ini menjadi ciri khasnya?
Sejak kembali ke Liga Inggris pada musim 2015/2016, Liverpool telah mengukir serangkaian prestasi gemilang, termasuk gelar Liga Inggris 2019/2020, trofi Liga Champions 2018/2019, serta konsistensi menembus fase knockout kompetisi Eropa. Namun, performa melawan PSG menampakkan sejumlah kekurangan yang tidak hanya sekadar taktik, melainkan juga mentalitas pemain di lapangan.
Sejak peluit pertama, PSG menguasai penguasaan bola dan menekan pertahanan Liverpool secara terus-menerus. Kekuatan lini serang trident mereka—Kylian Mbappé, Lionel Messi, dan Neymar—menjadi ancaman konstan. Dalam 15 menit pertama, Mbappé memanfaatkan ruang di sisi kanan dan menyumbangkan assist bagi Messi yang membuka skor lewat tembakan voli ke sudut atas gawang. Liverpool baru berhasil mencetak gol balasan lewat gol tunggal Sadio Mané pada menit ke-23, namun gol tersebut tidak mampu menahan arus serangan PSG.
Keempat gol PSG dicetak melalui kombinasi gerakan cepat, transisi yang tajam, dan pemanfaatan kesalahan lini belakang Liverpool. Kekalahan ini menyoroti beberapa masalah utama. Pertama, pertahanan Liverpool yang dulu dikenal disiplin dan agresif kini tampak kebingungan dalam mengatasi pergerakan pemain serba cepat PSG. Dua, kreativitas lini tengah, yang selama ini menjadi tulang punggung serangan, tidak mampu menembus pertahanan lawan. Luka Modrić, yang biasanya menjadi pengatur irama, tampak kehilangan kendali, sementara peran Thomas Ekpeyi dan Jordan Henderson tidak cukup menambah opsi serangan.
Selain aspek taktik, faktor kebugaran dan rotasi skuad juga menjadi sorotan. Klopp memutuskan menurunkan beberapa pemain inti, termasuk Virgil van Dijk yang masih dalam proses pemulihan dari cedera otot. Keputusan tersebut dipandang sebagai upaya menjaga kebugaran menjelang laga domestik, namun berakibat pada ketidakseimbangan di lini belakang. Penempatan Alisson Becker di gawang tetap menjadi satu-satunya titik stabil, namun ia pun kesulitan mengatur pertahanan yang terus dibobol.
Pengalaman Jürgen Klopp dalam mengelola situasi krisis tampak teruji kembali. Sebelumnya, sang manajer berhasil memulihkan tim dari kekalahan di awal musim 2022/2023, namun kali ini ia tampak terhambat oleh kurangnya opsi rotasi yang memadai. Pendekatan taktis yang mengandalkan pressing tinggi dan transisi cepat belum mampu menyesuaikan diri dengan gaya permainan PSG yang lebih mengandalkan penguasaan bola dan serangan balik cepat.
Di sisi lain, performa individu beberapa pemain menimbulkan keprihatinan. Sadio Mané, yang sebelumnya menjadi penyerang andalan, masih belum kembali ke level terbaiknya setelah cedera otot pada musim sebelumnya. Meski ia berhasil mencetak satu gol, kontribusinya dalam menciptakan peluang terasa terbatas. Di lini tengah, Thiago Alcântara tampak kurang berpengaruh dalam mengendalikan tempo permainan, sementara Fabinho yang biasanya menjadi pelindung pertahanan, tampak tidak dapat menutup ruang bagi pemain PSG.
Statistik pertandingan juga menggambarkan dominasi PSG. Tim asal Prancis menguasai bola sebanyak 62 persen, menciptakan 21 peluang tembakan, dengan 13 di antaranya mengarah ke gawang. Liverpool hanya menghasilkan 9 tembakan, dengan 4 di antaranya tepat sasaran. Tingkat akurasi passing Liverpool berada di angka 78 persen, lebih rendah dibandingkan PSG yang mencatatkan 85 persen. Data ini mengindikasikan bahwa perbedaan kualitas eksekusi taktik menjadi faktor penentu.
Kekalahan ini tentu menjadi pukulan keras menjelang jadwal padat Liverpool di Premier League dan kompetisi domestik lainnya. Namun, masih ada ruang untuk perbaikan. Klopp dapat memanfaatkan jeda internasional untuk memperbaiki koordinasi lini belakang, mengoptimalkan peran pemain tengah, serta memberi kesempatan kepada pemain muda yang telah menunjukkan potensi di tim cadangan. Perubahan taktik yang lebih fleksibel, terutama dalam menghadapi tim yang mengandalkan penguasaan bola, menjadi kunci untuk mengembalikan aura tim juara.
Secara keseluruhan, penampilan melawan PSG menegaskan bahwa Liverpool belum lagi menampilkan karakteristik tim juara Premier League yang solid, disiplin, dan sulit dikalahkan. Meski masih memiliki kualitas individu yang mumpuni, konsistensi tim secara keseluruhan masih dipertanyakan. Penyesuaian taktik, pemulihan pemain kunci, dan manajemen rotasi yang lebih cermat menjadi langkah penting bagi Liverpool untuk kembali bersaing di level tertinggi.
Dengan pertandingan selanjutnya yang menantang, harapan tetap ada bagi para pendukung Anfield. Namun, mereka harus siap menyaksikan proses perbaikan yang tidak instan, serta menunggu apakah Klopp dapat mengembalikan kejayaan timnya ke jalur kemenangan.