123Berita – 04 April 2026 | Dua saudara kembar, Callista Elysia Angela dan Carissa Elvina Angela, mengukir prestasi gemilang dengan berhasil lolos seleksi SNBP 2026 di Fakultas Ilmu Budaya, Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Airlangga (Unair). Meskipun memiliki ikatan darah yang sama, kedua anak perempuan ini menempuh jalur belajar yang berbeda, menjadikan kisah mereka menarik untuk dijadikan contoh bagi calon mahasiswa lainnya.
Callista, yang berusia 18 tahun, dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin dalam mengatur waktu. Ia mengandalkan metode belajar terstruktur, menggabungkan catatan tulisan tangan dengan aplikasi manajemen waktu. Setiap hari, Callista menyisihkan dua jam pagi untuk membaca literatur bahasa Inggris klasik, diikuti dengan sesi latihan menulis esai yang difokuskan pada teknik argumentasi. Metode ini, menurutnya, membantu memperkuat pemahaman tata bahasa sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Berbeda dengan kakaknya, Carissa lebih memilih pendekatan belajar yang bersifat visual dan interaktif. Ia menghabiskan waktu luang di perpustakaan digital, menonton video kuliah, serta berpartisipasi dalam forum diskusi daring. Carissa mengakui bahwa belajar melalui media audiovisual memudahkan ia menangkap nuansa intonasi dan aksen dalam bahasa Inggris, yang kemudian ia praktikkan lewat klub debat sekolah. Kedua strategi belajar tersebut terbukti efektif, terbukti dari hasil ujian masuk yang mereka raih.
Proses seleksi SNBP 2026 di Unair menilai calon mahasiswa melalui serangkaian tes kemampuan akademik, psikotes, dan wawancara. Callista dan Carissa masing-masing berhasil menembus nilai ambang batas pada tes kemampuan bahasa, dengan skor yang berada di atas 85 persen. Pada tahap psikotes, mereka menunjukkan kepribadian yang adaptif dan motivasi tinggi, kualitas yang sangat dicari oleh pihak universitas untuk program studi yang menuntut kreativitas dan analisis kritis.
Wawancara yang dipimpin oleh dosen senior Fakultas Ilmu Budaya menjadi momen krusial. Callista menonjolkan kemampuan menulis akademik, sementara Carissa menekankan pengalaman berdebat dan kepiawaiannya dalam presentasi. Kedua pendekatan ini mencerminkan keunikan masing-masing, namun tetap selaras dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh Program Bahasa dan Sastra Inggris. Dosen penguji menyatakan bahwa kehadiran mahasiswa dengan pola belajar yang beragam dapat memperkaya dinamika kelas dan meningkatkan kualitas diskusi.
Berbeda dengan stereotip bahwa kembar selalu memiliki cara belajar yang serupa, kasus Callista dan Carissa menegaskan pentingnya personalisasi pendidikan. Menurut Dr. Siti Nurhaliza, dosen pembimbing akademik Unair, “Setiap mahasiswa memiliki potensi dan gaya belajar yang unik. Kami mendorong mahasiswa untuk menemukan metode yang paling efektif bagi mereka, baik itu melalui belajar mandiri, kelompok, atau teknologi digital.”
Berikut beberapa perbedaan utama dalam pola belajar Callista dan Carissa yang dapat dijadikan referensi bagi pelajar lain:
- Metode Organisasi: Callista menggunakan agenda harian dan catatan manual, sedangkan Carissa memanfaatkan aplikasi catatan digital dan video.
- Sumber Belajar: Callista fokus pada buku teks dan jurnal akademik, sementara Carissa mengandalkan video kuliah, podcast, dan forum daring.
- Praktik Bahasa: Callista menulis esai secara rutin; Carissa aktif dalam debat dan presentasi lisan.
- Waktu Belajar: Callista memprioritaskan pagi hari ketika konsentrasi tinggi; Carissa belajar kapan saja dengan fleksibilitas yang ditawarkan oleh media digital.
Kedua saudara kembar ini tidak hanya berhasil menembus jalur masuk, tetapi juga menginspirasi banyak siswa SMA di Jawa Timur dan sekitarnya. Banyak guru melaporkan peningkatan minat siswa terhadap bahasa Inggris setelah mendengar cerita mereka. Beberapa orang tua pun mulai mengevaluasi kembali strategi belajar anak-anak mereka, mempertimbangkan kombinasi antara pendekatan tradisional dan modern.
Selama proses persiapan, keluarga Callista dan Carissa memberikan dukungan moral yang konsisten. Orang tua mereka, Bapak dan Ibu Angela, menegaskan pentingnya memberikan kebebasan bagi anak untuk mengeksplorasi cara belajar yang paling cocok. “Kami tidak memaksa mereka untuk mengikuti satu pola tertentu. Kami hanya menyediakan fasilitas dan motivasi, kemudian membiarkan mereka menemukan jalan mereka sendiri,” ujar Ibu Angela.
Keberhasilan Callista dan Carissa juga mencerminkan kualitas pendidikan di Unair yang terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Fakultas Ilmu Budaya secara aktif mengintegrasikan teknologi pembelajaran, seperti platform e-learning, ke dalam kurikulum. Hal ini memungkinkan mahasiswa dengan gaya belajar yang berbeda tetap dapat mengakses materi dengan cara yang paling sesuai.
Dengan bergabung di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, kedua kembar ini berencana memperdalam kompetensi akademik sekaligus mengembangkan soft skill yang relevan dengan pasar kerja global. Callista menyatakan keinginannya untuk melanjutkan studi master di bidang linguistik, sementara Carissa menargetkan karier di bidang komunikasi internasional.
Secara keseluruhan, perjalanan Callista dan Carissa menegaskan bahwa keberhasilan akademik tidak semata-mata ditentukan oleh metode belajar konvensional. Keberagaman pendekatan, didukung oleh tekad, dukungan keluarga, dan lingkungan pendidikan yang responsif, dapat membuka peluang bagi setiap individu untuk meraih cita-cita mereka.
Semoga kisah inspiratif ini menjadi motivasi bagi generasi muda yang tengah menyiapkan diri menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi, dan membuktikan bahwa perbedaan dalam cara belajar justru dapat menjadi keunggulan kompetitif.