123Berita – 02 April 2026 | Gorontalo dilanda gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 pada dini hari kemarin, menimbulkan kerusakan signifikan pada jaringan jalan raya. Beberapa ruas jalan utama mengalami retakan lebar, penurunan permukaan, bahkan sebagian meluruh menjadi longsor. Dampak tersebut menghambat mobilitas warga, mengganggu distribusi logistik, serta memicu kepanikan di daerah rawan bencana.
Tim inspeksi Kementerian PU, yang dipimpin oleh Kepala Direktorat Jalan Nasional, melakukan survei lapangan menggunakan kendaraan beroda empat dilengkapi peralatan laser scanning. Hasil temuan mengungkapkan adanya retakan longitudinal hingga 30 sentimeter lebar, penurunan tanah hingga 1,5 meter, serta material aspal yang terkelupas akibat guncangan seismik. Beberapa titik mengalami longsor batuan kecil yang menghalangi alur lalu lintas, menambah kompleksitas penanganan.
Selain kerusakan fisik, gempa juga memicu tanah longsor di daerah pegunungan sekitar Kabupaten Gorontalo Selatan. Tanah yang sebelumnya stabil menjadi tidak menahan beban, menyebabkan material batuan meluncur menuruni lereng. Longsor ini menutup jalan akses desa-desa terpencil, mengisolasi penduduk yang membutuhkan bantuan medis dan kebutuhan pokok.
Kementerian PU menegaskan komitmen untuk menyelesaikan perbaikan dalam waktu singkat. Dalam pernyataan resmi, kementerian menyatakan akan mengalokasikan dana khusus untuk rehabilitasi jalan darurat, termasuk pengerjaan penambalan aspal, penguatan pondasi, dan pembersihan material longsor. Tim teknis juga akan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memastikan keselamatan kerja serta prioritas pemulihan pada jalur strategis.
Langkah awal yang diambil meliputi penutupan sementara jalur yang paling berbahaya, pemasangan rambu peringatan, serta penyebaran kendaraan pemadam kebakaran untuk membantu evakuasi. Pada sore hari, unit pemulihan jalan mulai melakukan pengerjaan penambalan di beberapa titik kritis, dengan menggunakan material cepat kering yang dapat menahan beban kendaraan ringan. Proses ini diharapkan dapat membuka kembali akses sementara bagi layanan darurat.
Para ahli geologi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa wilayah Gorontalo terletak pada zona tektonik aktif, sehingga kejadian gempa dengan intensitas tinggi tidak dapat dihindari. Mereka menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang tahan gempa, termasuk penggunaan teknologi anti‑seismic pada lapisan jalan serta pengawasan ketat terhadap kualitas material konstruksi.
Warga setempat menyuarakan keprihatinan atas keterlambatan perbaikan penuh. Sebagian mengeluhkan kenaikan biaya transportasi karena harus melewati jalur alternatif yang lebih panjang. Namun, sebagian besar masyarakat menyambut positif kehadiran tim Kementerian PU yang bergerak cepat, menilai upaya tersebut sebagai langkah tepat untuk memulihkan konektivitas wilayah dalam jangka pendek.
Dalam jangka menengah, pemerintah provinsi berencana mengajukan proposal kepada pemerintah pusat untuk memperkuat jaringan jalan dengan standar mitigasi bencana. Usulan tersebut mencakup pemasangan sensor gempa pada jembatan utama, pembangunan drainase yang lebih baik, serta penataan kembali kontur lereng di daerah rawan longsor.
Kesimpulannya, gempa magnitudo 7,6 yang mengguncang Gorontalo menimbulkan kerusakan jalan yang luas serta memicu longsor di beberapa area. Kementerian PU telah mengerahkan tim khusus untuk menilai kerusakan, melakukan perbaikan darurat, dan berkoordinasi dengan BNPB serta instansi terkait. Upaya pemulihan dipercepat melalui penambalan cepat, pembersihan longsor, dan perencanaan pembangunan infrastruktur yang lebih tahan gempa. Dengan sinergi antara pemerintah, ahli teknis, dan partisipasi masyarakat, diharapkan jaringan transportasi Gorontalo dapat pulih sepenuhnya dan lebih siap menghadapi risiko seismik di masa depan.
