123Berita – 07 April 2026 | Pertandingan antara Portsmouth dan Oxford United yang berstatus sebagai “six-pointer” dalam perebutan tempat aman dari degradasi Liga Championship berakhir dengan hasil imbang 2-2. Namun, sorotan utama tidak datang dari hasil akhir, melainkan dari sebuah keputusan arbitrase yang dianggap aneh dan menimbulkan tawa di antara rival serta kebingungan mendalam di pihak kepemimpinan English Football League (EFL).
Detik-detik menjelang jeda pertama, Oxford United berhasil mencetak gol lewat serangan balik cepat. Gol tersebut awalnya dibatalkan karena dugaan pelanggaran offside, namun setelah peninjauan VAR yang singkat, wasit mengubah keputusannya dan mengizinkan gol tersebut tetap dihitung. Kejadian ini memicu kegaduhan di tribun penonton, terutama di antara pendukung Portsmouth yang menilai keputusan tersebut tidak beralasan. Beberapa suporter bahkan melontarkan komentar sarkastik, mengingatkan bahwa keputusan itu hampir mengundang tawa mengingat situasi pertandingan yang sangat penting.
Keputusan kontroversial tersebut tidak hanya memengaruhi dinamika pertandingan, tetapi juga memicu reaksi keras dari pihak EFL. Kepala Eksekutif EFL, David Slade, secara terbuka menyatakan kebingungannya dalam sebuah konferensi pers singkat yang diadakan setelah pertandingan. Slade mengungkapkan, “Saya pribadi sangat terkejut melihat keputusan yang tampaknya tidak konsisten dengan pedoman VAR yang telah ditetapkan. Kami berharap standar penegakan hukum permainan tetap tinggi, terutama pada momen-momen krusial seperti ini.”
Di sisi lain, manajer Portsmouth, Kenny Jackett, menyatakan kekecewaannya atas keputusan tersebut. Jackett menilai bahwa gol Oxford United seharusnya dibatalkan karena terjadi pelanggaran handball di area pertahanan sebelum bola masuk gawang. “Kami sudah menyiapkan strategi untuk menahan serangan Oxford, namun keputusan ini membuat kami kehilangan momentum,” ujar Jackett. Meskipun begitu, Jackett memuji semangat timnya yang berhasil kembali bangkit dan menyamakan kedudukan pada menit-menit akhir pertandingan.
Oxford United, di bawah asuhan manajer Karl Robinson, memanfaatkan situasi tersebut untuk menambah satu poin penting dalam pertempuran klasemen. Robinson menyampaikan, “Kami menghargai keputusan wasit, meskipun ada kontroversi. Fokus kami tetap pada performa tim di lapangan. Poin ini sangat membantu kami dalam upaya mengamankan posisi di zona aman.”
Pertandingan ini menjadi sorotan tidak hanya karena keputusan VAR, tetapi juga karena implikasinya terhadap klasemen akhir musim. Sebelum pertandingan, Portsmouth berada di posisi 21 dengan 53 poin, sedangkan Oxford United berada di posisi 20 dengan 55 poin. Hasil imbang menempatkan Portsmouth tetap di zona degradasi, sementara Oxford United tetap berada satu posisi di atas mereka. Kedua tim kini harus bersaing ketat dalam beberapa pertandingan tersisa untuk menghindari nasib terburuk.
Pengamat sepak bola lokal menilai bahwa keputusan kontroversial ini dapat berdampak pada kepercayaan publik terhadap sistem VAR. Seorang analis senior dari BBC Sport, Martin Atkinson, berpendapat bahwa “konsistensi dalam penerapan VAR masih menjadi tantangan. Kejadian seperti ini menyoroti perlunya pelatihan tambahan bagi ofisial VAR serta transparansi yang lebih besar dalam proses peninjauan.”
Selain itu, para pemain juga merasakan dampak emosional dari keputusan tersebut. Kapten Portsmouth, Jamal Lowe, mengungkapkan, “Kami merasa frustasi karena kami bekerja keras untuk mempertahankan hasil, namun keputusan yang tidak jelas membuat kami harus kembali mengatur strategi di menit-menit akhir.” Di sisi lain, striker Oxford United, Matt Grimes, mengatakan, “Kami berusaha tetap fokus pada permainan dan tidak terpengaruh oleh kontroversi di luar lapangan. Poin ini penting bagi kami, dan kami akan melanjutkan perjuangan hingga akhir musim.”
Pihak EFL menegaskan komitmennya untuk meningkatkan transparansi proses VAR. Sebuah pernyataan resmi menyebutkan bahwa EFL akan menyelenggarakan workshop khusus bagi wasit dan tim VAR menjelang akhir musim, dengan tujuan memperbaiki standar penilaian dan mengurangi potensi kontroversi serupa.
Di tengah kegelisahan para suporter dan tim, keputusan kontroversial ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak yang terlibat dalam kompetisi sepak bola profesional. Sebagai penutup, Slade menegaskan kembali bahwa “kita semua menginginkan kompetisi yang adil dan transparan. Kami akan terus belajar dari setiap insiden untuk memastikan integritas permainan tetap terjaga.”