123Berita – 09 April 2026 | Indonesia tengah bergulat dengan lonjakan harga plastik yang mencapai level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Konflik bersenjata di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, memicu gangguan rantai pasok bahan baku petrokimia global. Akibatnya, harga resin plastik dasar naik tajam, menambah beban biaya produksi bagi berbagai sektor industri, termasuk bisnis makanan dan minuman.
Berbagai laporan pasar menunjukkan bahwa harga polietilen tereftalat (PET) dan polipropilena (PP) meningkat hingga 30‑40 persen sejak awal tahun 2024. Kenaikan ini langsung dirasakan oleh usaha kopi kekinian yang mengandalkan gelas plastik sekali pakai sebagai wadah utama. Bagi pemilik kedai, biaya pembelian gelas, tutup, serta kantong kemasan menjadi beban tambahan yang menggerogoti margin keuntungan.
Seiring tekanan biaya, sejumlah kedai kopi di kota‑kota besar mulai mengubah kebijakan layanan. Alih‑alih menyajikan minuman dalam gelas plastik, mereka mengajak konsumen untuk membawa tumbler pribadi. Inisiatif ini tidak hanya dipandang sebagai upaya menekan pengeluaran, tetapi juga sebagai respons terhadap meningkatnya kepedulian konsumen terhadap isu lingkungan.
Strategi “bawa tumbler sendiri” telah diimplementasikan oleh jaringan kedai kopi lokal dan internasional. Beberapa tempat bahkan menawarkan potongan harga sebesar 5‑10 ribu rupiah bagi pelanggan yang menggunakan wadah pribadi. Penawaran ini dianggap menarik karena memberikan insentif finansial sekaligus menumbuhkan citra merek yang lebih hijau.
Di luar insentif harga, pemilik kedai juga melakukan penyesuaian operasional lain. Mereka mengoptimalkan penggunaan bahan baku alternatif, seperti kertas ramah lingkungan, serta mengurangi ukuran porsi untuk menurunkan konsumsi plastik. Langkah‑langkah tersebut membantu menyeimbangkan antara kebutuhan bisnis dan tanggung jawab sosial.
- Mengganti gelas plastik dengan tutup logam atau bahan biodegradable.
- Menyediakan stasiun pengisian ulang untuk minuman dingin.
- Memberikan diskon khusus bagi pelanggan yang membawa tumbler.
- Mengedukasi konsumen lewat poster dan media sosial tentang dampak plastik.
Para ahli ekonomi menilai bahwa fenomena ini mencerminkan dinamika inflasi struktural. Kenaikan harga bahan baku utama, termasuk plastik, akan menambah tekanan pada indeks harga konsumen (IHK). Jika tidak ditangani, tren ini dapat berujung pada penurunan daya beli rumah tangga, terutama kelas menengah yang menjadi target utama kedai kopi.
Di sisi lain, regulator pemerintah juga mulai memperhatikan masalah ini. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berencana memperketat regulasi penggunaan plastik sekali pakai, sekaligus mendorong program daur ulang yang lebih efektif. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menstabilkan permintaan plastik dan memberikan ruang bagi produsen untuk menyesuaikan harga.
Secara keseluruhan, kenaikan harga plastik menimbulkan tantangan signifikan bagi industri kopi, namun juga membuka peluang inovasi layanan yang lebih berkelanjutan. Dengan menggabungkan strategi penghematan biaya, insentif bagi konsumen, serta dukungan kebijakan publik, kedai kopi dapat tetap kompetitif sekaligus berkontribusi pada pengurangan sampah plastik. Upaya kolektif ini diharapkan menjadi contoh bagi sektor lainnya dalam menghadapi tekanan biaya yang serupa.