123Berita – 09 April 2026 | Indonesia kini menghadapi peningkatan signifikan kasus katarak, sebuah kondisi mata yang dapat berujung pada kebutaan bila tidak ditangani secara tepat. Data terbaru menunjukkan tren naik yang mengkhawatirkan, menyoroti pentingnya kesadaran publik terhadap gejala awal serta upaya pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini.
Katarak, yang secara medis dikenal sebagai opasitas pada lensa mata, mengganggu kemampuan cahaya masuk ke retina sehingga mengurangi kualitas penglihatan. Penyakit ini tidak bersifat menular, namun faktor usia, gaya hidup, serta kondisi kesehatan tertentu dapat mempercepat perkembangannya. Menurut Kementerian Kesehatan, prevalensi katarak di Indonesia meningkat sekitar 15 persen dalam lima tahun terakhir, dengan mayoritas kasus terdeteksi pada kelompok usia 50 tahun ke atas.
Berbagai faktor risiko turut berperan dalam peningkatan angka ini. Paparan sinar ultraviolet (UV) yang berlebihan, terutama di daerah tropis, dapat merusak lensa mata. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebih, serta riwayat diabetes mellitus juga menjadi kontributor utama. Selain itu, kurangnya akses layanan kesehatan mata di wilayah pedesaan memperparah situasi, karena banyak penderita belum mendapatkan diagnosis dan penanganan tepat waktu.
Gejala katarak tidak selalu muncul secara mendadak. Pada tahap awal, penderita biasanya merasakan perubahan ringan pada penglihatan, seperti:
- Peningkatan sensitivitas terhadap cahaya terang atau silau.
- Penglihatan yang terasa buram atau kabur, terutama pada malam hari.
- Persepsi warna yang menjadi kurang tajam atau terasa pudar.
- Kesulitan membaca tulisan kecil atau menilai jarak.
Jika gejala tersebut dibiarkan, kondisi mata akan semakin menurun, mengakibatkan kebutuhan akan bantuan visual tambahan seperti kacamata atau lensa kontak menjadi tidak efektif. Pada fase lanjutan, penderita dapat mengalami penurunan drastis dalam kemampuan mengemudi, membaca, atau melakukan aktivitas sehari-hari yang memerlukan ketajaman visual.
Penanganan katarak modern sebagian besar melibatkan prosedur operasi pengangkatan lensa yang sudah keruh, digantikan dengan lensa buatan (intraokular). Prosedur ini terbukti aman dengan tingkat keberhasilan tinggi, terutama bila dilakukan oleh tenaga medis terlatih di fasilitas yang memenuhi standar sterilisasi. Namun, operasi tetap memerlukan biaya dan akses layanan kesehatan yang memadai, sehingga pencegahan menjadi langkah krusial dalam menurunkan beban penyakit.
Berikut beberapa langkah pencegahan yang dapat diadopsi oleh masyarakat umum untuk mengurangi risiko terkena katarak:
- Lindungi mata dari sinar UV: Gunakan kacamata hitam dengan perlindungan UV 100% saat berada di luar ruangan, terutama pada siang hari.
- Hindari merokok dan batasi konsumsi alkohol: Kedua kebiasaan tersebut diketahui mempercepat kerusakan lensa mata.
- Kelola diabetes dengan baik: Kontrol gula darah secara rutin untuk mengurangi komplikasi mata.
- Perbanyak asupan antioksidan: Konsumsi buah-buahan dan sayuran kaya vitamin C, E, serta beta-karoten dapat membantu melindungi sel-sel mata.
- Rutin melakukan pemeriksaan mata: Pemeriksaan tahunan atau setidaknya dua kali setahun bagi usia di atas 40 tahun dapat mendeteksi perubahan awal.
- Jaga pola makan seimbang dan berat badan ideal: Obesitas berhubungan dengan risiko katarak yang lebih tinggi.
Pemerintah Indonesia, melalui program Kesehatan Mata Nasional, telah meningkatkan upaya edukasi publik serta memperluas jaringan puskesmas yang menyediakan layanan skrining mata gratis. Selain itu, kerja sama dengan organisasi non‑pemerintah dan lembaga internasional diharapkan dapat mempercepat distribusi peralatan diagnostik serta pelatihan tenaga medis di daerah terpencil.
Namun, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Kesadaran akan pentingnya pemeriksaan rutin serta perubahan gaya hidup sehat menjadi kunci utama dalam menurunkan angka kejadian katarak. Masyarakat diimbau untuk tidak menunda konsultasi bila merasakan gejala perubahan penglihatan, terutama pada kelompok usia rentan.
Secara keseluruhan, peningkatan kasus katarak di Indonesia menuntut sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan warga negara. Dengan mengedukasi masyarakat tentang gejala awal, faktor risiko, serta langkah pencegahan yang praktis, beban kebutaan yang dapat dicegah dapat diminimalisir. Upaya kolektif ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup individu, namun juga mengurangi tekanan pada sistem layanan kesehatan nasional.