123Berita – 04 April 2026 | Kereta api Probowangi yang melayani rute antara Banyuwangi dan Surabaya kembali menjadi sorotan publik pada akhir Maret 2026 setelah sebuah video yang memperlihatkan percikan api di dalam gerbong beredar luas di media sosial. Video tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan penumpang dan memicu spekulasi tentang kemungkinan kerusakan pada sistem kelistrikan atau sabotase. Menanggapi situasi tersebut, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengeluarkan pernyataan resmi untuk menjelaskan kronologi kejadian, hasil investigasi awal, serta langkah-langkah yang akan diambil guna mencegah insiden serupa di masa mendatang.
Setelah video tersebut diunggah ke platform daring, sejumlah netizen menuduh adanya kelalaian prosedur pemeliharaan atau bahkan potensi tindakan kriminal. Reaksi cepat KAI mencakup penarikan kereta yang terlibat dari layanan operasional untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh oleh tim teknis dan keamanan. KAI menegaskan bahwa tidak ada penumpang yang mengalami luka akibat percikan api tersebut, dan evakuasi dilakukan secara tertib tanpa menimbulkan kepanikan.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui situs resmi perusahaan dan akun media sosial resmi, Direktur Operasional KAI, Budi Santoso, menyampaikan bahwa tim investigasi telah mengidentifikasi bahwa percikan api berasal dari konslet listrik pada sistem penerangan interior gerbong. “Kami menemukan bahwa kabel listrik yang menghubungkan lampu baca mengalami keausan pada titik sambungan, sehingga terjadi lonjakan arus yang memicu percikan api. Pada saat itu, sistem pemadam kebakaran otomatis pada gerbong berfungsi dengan baik, sehingga api tidak menyebar lebih luas,” kata Budi.
Pernyataan tersebut juga menambahkan bahwa KAI telah menurunkan semua unit Probowangi untuk pemeriksaan menyeluruh terhadap jaringan kelistrikan, terutama pada sambungan kabel yang berpotensi berkarat atau aus. Selain itu, KAI bekerja sama dengan Badan Pengawas Kereta Api (BPKA) serta tim ahli independen untuk melakukan audit teknis secara mendalam.
Langkah-langkah perbaikan yang dijanjikan mencakup penggantian seluruh kabel kelistrikan pada gerbong- gerbong yang menunjukkan tanda keausan, peningkatan prosedur inspeksi berkala, serta pelatihan ulang bagi teknisi lapangan mengenai deteksi dini kerusakan listrik. KAI juga berkomitmen menambah frekuensi inspeksi visual pada sambungan kabel selama jam operasional, serta memasang sensor suhu pada titik-titik rawan untuk memberi peringatan dini bila terjadi peningkatan suhu yang tidak normal.
Selain aspek teknis, KAI menegaskan pentingnya edukasi kepada penumpang mengenai prosedur darurat. “Kami akan memperkuat sosialisasi penggunaan tombol pemadam kebakaran darurat yang tersedia di setiap gerbong, serta menambah materi edukasi dalam bentuk video pendek yang dapat diakses melalui aplikasi KAI Access,” ujar Budi.
Reaksi publik terhadap pernyataan KAI beragam. Sebagian mengapresiasi transparansi perusahaan dalam mengakui adanya masalah teknis, sementara yang lain tetap skeptis dan menuntut tindakan yang lebih tegas. Aktivis konsumen di media sosial menuntut KAI untuk memberikan kompensasi kepada penumpang yang merasa terganggu dan khawatir atas keamanan perjalanan mereka.
Menanggapi tuntutan tersebut, KAI mengumumkan bahwa penumpang yang berada di dalam kereta pada saat insiden akan mendapatkan voucher perjalanan gratis senilai Rp150.000 dan prioritas pemesanan tiket pada layanan Probowangi selama tiga bulan ke depan. Kebijakan ini diharapkan dapat meredakan kekecewaan sekaligus menunjukkan komitmen perusahaan terhadap kepuasan pelanggan.
Pihak berwenang, termasuk Polri dan BPKA, juga terlibat dalam penyelidikan untuk memastikan tidak ada unsur kriminal. Hingga kini, hasil awal menunjukkan bahwa insiden merupakan kecelakaan teknis yang dapat dicegah dengan pemeliharaan yang lebih ketat. Namun, proses penyelidikan masih berlanjut dan hasil final diharapkan akan dipublikasikan dalam dua minggu ke depan.
Insiden ini menjadi pengingat penting bagi industri transportasi massal di Indonesia bahwa standar keamanan harus terus ditingkatkan seiring dengan peningkatan volume penumpang. KAI, sebagai operator kereta api terbesar di tanah air, diharapkan menjadi contoh dalam menerapkan prosedur pemeliharaan proaktif serta respons cepat terhadap situasi darurat.
Secara keseluruhan, langkah-langkah yang diambil KAI mencerminkan upaya untuk menanggapi kekhawatiran publik secara transparan dan bertanggung jawab. Dengan melakukan perbaikan pada infrastruktur kelistrikan, memperkuat prosedur inspeksi, serta meningkatkan edukasi penumpang, diharapkan kejadian serupa tidak akan terulang di masa mendatang. Penumpang dapat kembali menumpang kereta Probowangi dengan rasa aman, sementara KAI bertekad menjaga reputasi sebagai penyedia transportasi yang handal dan aman.





