123Berita – 05 April 2026 | Jakarta – Pada laga pekan ini, Lommel SK menurunkan skuad tanpa nama tengah asal Belanda‑Indonesia, Joey Pelupessy, dalam pertemuan melawan RWDM di Belgia. Keputusan itu muncul bersamaan dengan sorotan tajam terkait permasalahan paspor Indonesia yang kini menjerat sejumlah pemain berkewarganegaraan ganda yang berkarier di benua Eropa.
Pelupessy, yang baru bergabung dengan Lommel pada musim panas lalu setelah menandatangani kontrak tiga tahun, sebelumnya menjadi andalan lini tengah klub. Namun pada malam pertandingan tanggal 3 April, nama pemain berusia 23 tahun tidak tercantum dalam daftar resmi. Menurut sumber klub, absennya Pelupessy disebabkan oleh kendala administratif yang belum terselesaikan, yakni paspor Indonesia yang masih dalam proses perpanjangan.
Masalah paspor ini bukan pertama kalinya mencuat di kalangan pemain Indonesia yang berkompetisi di luar negeri. Beberapa tahun terakhir, sejumlah pemain muda seperti Rizky Dwi Pangestu, Arif Satria, dan bahkan bintang senior seperti Evan Dimas mengalami penundaan penerbitan atau perpanjangan dokumen identitas mereka. Hal tersebut berimbas pada keterbatasan mobilitas, pemenuhan regulasi liga, serta kemampuan untuk kembali ke tanah air dalam jangka waktu yang ditentukan.
Manajer teknis Lommel SK, Bart De Roover, dalam konferensi pers pasca‑pertandingan mengungkapkan kekecewaannya. Ia menegaskan bahwa klub sangat menghargai potensi Pelupessy, namun tanpa dokumen resmi pemain tidak dapat terdaftar pada tim utama. “Kami telah berkoordinasi dengan agen pemain dan Kedutaan Besar Indonesia, namun prosesnya masih memakan waktu,” ujar De Roover. “Keputusan ini diambil demi mematuhi peraturan kompetisi Belgia serta melindungi hak pemain.”
Situasi ini juga memicu kekhawatiran di kalangan pemain Indonesia lainnya yang berkompetisi di liga‑liga Eropa. Sebagai contoh, winger asal Bandung yang bermain di klub Belanda mengaku harus menunda proses transfer karena dokumen paspornya masih dalam antrian. Di sisi lain, pemain tengah yang berkarier di Liga Portugal melaporkan kesulitan dalam mengurus visa kerja setelah paspor lama tidak dapat diperpanjang tepat waktu.
Pihak PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) kemudian memberikan komentar resmi melalui akun media sosialnya. Ketua Komite Nasional Sepakbola (KONI) menegaskan bahwa federasi sedang berupaya mempercepat proses perpanjangan paspor bagi para pemain yang berstatus dual citizenship. “Kami berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri serta perwakilan diplomatik di Eropa untuk memastikan tidak ada hambatan administratif yang mengganggu karier para pemain,” tulis pernyataan tersebut.
Para pengamat menilai bahwa masalah paspor ini mencerminkan kurangnya sinergi antara lembaga pemerintah, federasi sepakbola, dan agen pemain. Dalam sebuah laporan khusus, salah satu analis sepakbola menyebutkan bahwa kurangnya sistem pelacakan dokumen serta prosedur yang berbelit‑belit menjadi faktor utama. Ia menambahkan, jika tidak ada perbaikan struktural, kasus serupa dapat terulang, bahkan berpotensi menurunkan jumlah pemain Indonesia yang berkarier di liga‑liga top Eropa.
Keputusan Lommel SK untuk tidak menurunkan Joey Pelupessy pada laga tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa klub mengutamakan kepatuhan regulasi di atas ekspektasi performa. Bagi Pelupessy, situasi ini menjadi momentum penting untuk menyelesaikan urusan administrasi sekaligus menunjukkan profesionalisme. Ia menyatakan kesiapan untuk kembali ke lapangan sesegera mungkin setelah paspor Indonesia diperbaharui, serta berharap peristiwa ini dapat menjadi pelajaran bagi generasi pemain Indonesia berikutnya dalam menyiapkan dokumen perjalanan sejak dini.





