123Berita – 05 April 2026 | Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, menjadi saksi momen haru pada malam Sabtu, 4 April 2026, ketika jenazah Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar tiba dari luar negeri. Mayor Zulmi, seorang prajurit TNI Angkatan Darat yang gugur dalam operasi perdamaian di Lebanon, diangkut dengan pesawat militer dan disambut oleh pejabat setempat, perwakilan keluarga, serta warga yang menunggu dengan rasa hormat yang mendalam.
Penjemputan resmi dilakukan oleh Komandan Pusat Logistik Angkatan Darat (Puslogad) bersama perwakilan Komando Pasukan Garuda (KPG), yang menandai dimulainya rangkaian upacara penghormatan. Setelah proses pemeriksaan dokumen dan koordinasi keamanan, jenazah dikeluarkan dari pesawat dan dipindahkan ke sebuah kereta jenazah berwarna hitam yang dihias pita merah, simbol keberanian dan pengorbanan.
Sesaat sebelum tiba di terminal, mayoritas media lokal dan nasional telah menyiapkan perlengkapan mereka untuk meliput secara langsung. Meskipun demikian, tim editorial mematuhi aturan etika jurnalistik dengan tidak menampilkan foto-foto yang bersifat sensitif atau memuat unsur yang dapat menyinggung keluarga almarhum. Sebagai gantinya, laporan difokuskan pada proses kedatangan, sambutan resmi, dan rencana pemakaman yang akan dilaksanakan di Tanah Pusaka.
Setelah menurunkan jenazah, petugas militer melakukan serangkaian prosedur standar: penempatan bunga mawar putih di peti, penempatan bendera Merah Putih yang dikibarkan secara perlahan, serta penyematan medali penghargaan yang menandai jasa-jasa Mayor Zulmi selama bertugas. Pada saat yang sama, keluarga terdekat, termasuk istri dan dua anaknya, berada di ruang tunggu khusus yang dijaga ketat demi memberikan privasi dan ketenangan di tengah sorotan publik.
Mayor Zulmi Aditya Iskandar, yang lahir pada 12 Agustus 1990 di Bandung, menempuh karier militer sejak 2010. Ia naik pangkat secara progresif dan pada 2023 ditetapkan sebagai Mayor Inf (Anumerta) setelah menerima penghargaan pahlawan nasional atas dedikasinya dalam misi penjagaan perbatasan di wilayah konflik Lebanon. Selama penugasannya, ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas namun humanis, mampu menjaga moral pasukan di tengah tekanan operasional yang berat.
Kepergiannya di Lebanon merupakan bagian dari operasi bersama Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) yang berfokus pada stabilisasi wilayah setelah serangkaian bentrokan antara kelompok milisi lokal dan pasukan keamanan. Pada 30 Maret 2026, saat melakukan patroli rutin di zona keamanan, kendaraan tempur yang dipimpin oleh Mayor Zulmi menjadi sasaran tembakan artileri. Meskipun upaya penyelamatan dilakukan secara cepat, Mayor Zulmi tidak dapat selamat dan dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian.
Kejadian ini memicu reaksi duka cita tidak hanya di kalangan militer, tetapi juga di masyarakat sipil. Presiden Republik Indonesia, melalui juru bicaranya, menyampaikan belasungkawa resmi kepada keluarga almarhum dan menegaskan komitmen negara untuk terus mendukung pasukan yang beroperasi di luar negeri. Di sisi lain, pemerintah daerah Jawa Barat mengatur agar bendera merah putih dikibarkan setengah tiang di kantor-kantor pemerintahan sebagai penghormatan.
Rencana pemakaman Mayor Zulmi dijadwalkan berlangsung pada Senin, 6 April 2026, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Upacara akan dihadiri oleh pejabat tinggi kementerian pertahanan, perwakilan kedutaan Lebanon, serta perwakilan organisasi veteran. Sejumlah tokoh agama juga akan memberikan doa penutup, menandai dimulainya proses akhir bagi pahlawan yang telah berkorban demi perdamaian.
Berbagai inisiatif dukungan juga muncul dari masyarakat. Sekelompok relawan menggalang dana untuk membantu keluarga Mayor Zulmi, sementara komunitas veteran mengorganisir acara penghormatan di berbagai kota besar, termasuk Bandung, Surabaya, dan Medan. Kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat rasa persatuan, tetapi juga mengingatkan publik akan pentingnya menghargai jasa para pahlawan yang berada di garis depan.
Dalam konteks geopolitik, kepergian Mayor Zulmi menambah beban moral bagi pasukan TNI yang masih aktif di wilayah konflik Timur Tengah. Pemerintah menegaskan kembali komitmen untuk meningkatkan perlindungan dan peralatan keselamatan bagi personel yang ditugaskan di luar negeri, serta memperkuat kerja sama dengan lembaga internasional guna meminimalisir risiko serupa di masa mendatang.
Keberangkatan jenazah Mayor Anumerta Zulmi di Bandara Husein Sastranegara menjadi simbol nyata betapa bangsa Indonesia menghargai setiap pengorbanan. Upacara yang berlangsung secara tertib dan penuh kehormatan mencerminkan nilai-nilai kedisiplinan militer serta kepedulian masyarakat terhadap para pahlawan yang gugur. Semoga keluarga almarhum diberikan kekuatan dan ketabahan, serta nama Mayor Zulmi terus dikenang sebagai contoh keberanian yang tak tergoyahkan.