123Berita – 27 April 2026 | Seorang jemaah haji asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, meninggal dunia di kota suci Madinah, Arab Saudi, pada pekan lalu. Nursidah Sinrang Sijarra, warga berusia 63 tahun, yang tengah menunaikan rangkaian ibadah haji bersama rombongan UMRAH, mengalami komplikasi kesehatan yang berujung pada wafatnya di rumah sakit setempat.
Kejadian ini menjadi kabar duka bagi keluarga, sahabat, serta komunitas Muslim Indonesia di Tanah Suci. Menurut keterangan resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Nursidah sempat dirawat di rumah sakit Al‑Madinah Al‑Munawwarah setelah mengalami serangan jantung mendadak pada sore hari. Tim medis setempat melakukan upaya penyelamatan, namun kondisi tubuhnya tidak dapat dipulihkan.
Setelah dipastikan meninggal, proses pemakaman dijalankan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh otoritas Saudi. Nursidah dimakamkan di Kompleks Makam Baqi, sebuah kawasan pemakaman bersejarah yang terletak tidak jauh dari Masjid Nabawi. Makam Baqi dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi sahabat Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam. Pemakaman jemaah haji di lokasi ini dianggap sebagai kehormatan tersendiri, meskipun biasanya hanya diberikan kepada warga negara Saudi atau tokoh internasional yang memiliki perjanjian khusus.
Pejabat KBRI Riyadh menjelaskan bahwa proses pemakaman berjalan lancar berkat koordinasi intensif antara Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh, Kementerian Agama Saudi, serta otoritas pengelola makam Baqi. “Kami memastikan semua prosedur sesuai syariat dan hukum setempat, serta menghormati hak keluarga almarhum,” ujar Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Dr. Ahmad Riza Patria, dalam sebuah pernyataan resmi.
Keluarga Nursidah, yang berada di Makassar, menerima kabar duka melalui telepon dan video call. Mereka menyatakan rasa terima kasih yang mendalam kepada pemerintah Indonesia dan Arab Saudi atas pelayanan yang diberikan. “Kami sangat bersyukur karena almarhum dapat dimakamkan di tempat yang mulia. Doa kami selalu menyertai beliau,” ungkap istri almarhum, Siti Fatimah, sambil menahan air mata.
Di sisi lain, para santri dan jamaah haji yang masih berada di Mekah dan Madinah mengadakan doa bersama untuk menghormati Nursidah. Kegiatan ini diorganisir oleh biro perjalanan haji yang menjemput Nursidah pada awal perjalanan. “Kami mengajak semua jamaah untuk mendoakan almarhum, semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya dan menempatkannya di tempat terbaik,” kata pimpinan biro haji, H. Abdul Rahman.
Fenomena wafatnya jemaah haji di Tanah Suci tidaklah asing. Setiap tahun, ribuan jamaah Indonesia menunaikan ibadah haji, dan sejumlah kecil di antaranya mengalami komplikasi kesehatan karena faktor usia, cuaca ekstrem, maupun kondisi medis yang sudah ada sebelumnya. Kementerian Agama RI secara rutin mengeluarkan pedoman kesehatan pra‑haji, termasuk pemeriksaan medis lengkap, vaksinasi, serta larangan bepergian bagi yang memiliki riwayat penyakit berat.
Kasus Nursidah menjadi pengingat penting bagi calon jemaah haji untuk memprioritaskan kesiapan fisik dan mental sebelum berangkat. Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan fasilitas medis di Tanah Suci, termasuk kerjasama dengan rumah sakit Saudi yang memberikan layanan 24 jam bagi jamaah Indonesia. Selain itu, pelatihan penanganan darurat bagi pemandu haji juga semakin intensif guna meminimalisir risiko selama pelaksanaan ibadah.
Dengan berlalunya Nursidah Sinrang Sijarra, keluarga, sahabat, serta umat Muslim di Indonesia kembali diingatkan akan nilai kebersamaan dan kepedulian antar sesama. Semoga almarhum diberikan tempat yang mulia di sisi Allah SWT, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan untuk melanjutkan hidup.





