123Berita – 10 April 2026 | Penggunaan alat kontrasepsi intrauterin (IUD) memang menjadi pilihan populer bagi banyak wanita Indonesia karena efektivitasnya yang tinggi dan kemudahan penggunaan. Namun, beredar persepsi bahwa IUD dapat memicu keputihan berbau tidak sedap. Untuk menyingkirkan keraguan tersebut, para dokter spesialis kebidanan dan penyakit menular seksual memberikan penjelasan ilmiah mengenai hubungan antara IUD dan perubahan cairan vagina.
Secara umum, IUD terbagi menjadi dua jenis, yaitu IUD tembaga dan IUD hormonal (sering dikenal dengan merk seperti Mirena). Kedua jenis ini bekerja dengan cara yang berbeda, namun keduanya tetap menempati ruang rahim untuk mencegah pembuahan sel telur. Karena berada di dalam rahim, IUD dapat menimbulkan respons fisiologis tertentu pada tubuh wanita, termasuk perubahan pada lendir serviks dan cairan vagina.
Dokter kebidanan menjelaskan bahwa keputihan merupakan proses alami tubuh dalam membersihkan vagina dari sel-sel mati, bakteri, dan lendir. Warna, konsistensi, serta aroma keputihan dapat berubah-ubah tergantung pada fase siklus menstruasi, tingkat hormon, serta keberadaan infeksi. Keputihan yang berbau tidak sedap biasanya menjadi indikasi adanya infeksi bakteri atau jamur, atau perubahan mikroflora vagina.
Berikut adalah beberapa poin penting yang diungkapkan oleh para ahli terkait IUD dan keputihan:
- Respons Iritasi Lokal: Penempatan IUD dapat menyebabkan iritasi ringan pada dinding rahim, terutama pada minggu-minggu pertama setelah pemasangan. Iritasi ini dapat memicu peningkatan produksi lendir serviks yang kemudian keluar sebagai keputihan. Pada umumnya, perubahan ini bersifat sementara dan akan berkurang seiring tubuh beradaptasi.
- Perubahan pH Vagina: IUD hormonal melepaskan progestin dalam jumlah kecil, yang dapat mempengaruhi pH vagina. Perubahan pH dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik (lactobacillus) sehingga memungkinkan pertumbuhan bakteri patogen yang menghasilkan bau tidak sedap.
- Risiko Infeksi: Jika prosedur pemasangan IUD tidak dilakukan dengan sterilisasi yang tepat atau jika ada kebersihan pribadi yang kurang, risiko infeksi dapat meningkat. Infeksi inilah yang paling sering menyebabkan keputihan berwarna kuning atau hijau disertai bau tidak sedap.
Para dokter menekankan bahwa tidak semua wanita yang menggunakan IUD akan mengalami keputihan berbau. Faktanya, sebagian besar pengguna melaporkan tidak ada perubahan signifikan pada cairan vagina setelah masa adaptasi awal. Namun, bila muncul keputihan yang tidak biasa, wanita disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter kebidanan atau dokter spesialis infeksi menular seksual.
Berikut langkah-langkah yang biasanya disarankan oleh dokter ketika seorang wanita mengalami keputihan berbau setelah pemasangan IUD:
- Melakukan anamnesis lengkap, termasuk riwayat pemasangan IUD, siklus menstruasi, dan gejala lain yang muncul (misalnya nyeri, demam, atau perdarahan).
- Memeriksa vagina secara visual untuk menilai warna, konsistensi, dan bau cairan.
- Melakukan pemeriksaan laboratorium seperti kultur cairan vagina atau pemeriksaan mikroskopis (wet mount) untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab.
- Jika ditemukan infeksi bakteri, biasanya dokter akan meresepkan antibiotik oral atau topikal. Untuk infeksi jamur, antijamur akan menjadi pilihan.
- Dalam kasus iritasi ringan tanpa infeksi, dokter dapat menyarankan penggunaan probiotik vagina atau perubahan kebersihan pribadi, seperti menghindari sabun berbahan kimia keras dan memakai pakaian dalam berbahan katun.
Penting untuk dicatat bahwa tidak disarankan untuk mencabut IUD secara mandiri karena dapat menimbulkan komplikasi seperti perforasi rahim atau peningkatan risiko kehamilan. Jika dokter memutuskan bahwa IUD menjadi penyebab utama infeksi yang tidak dapat diatasi, maka pencabutan dapat dilakukan dengan prosedur yang aman.
Selain itu, dokter menambahkan bahwa faktor lain seperti pola makan, stres, dan kebersihan sehari-hari juga berperan dalam kesehatan vagina. Konsumsi makanan kaya probiotik (yogurt, kefir) dan asam lemak omega-3 dapat membantu menjaga keseimbangan mikroflora, sementara mengurangi stres dapat menstabilkan hormon yang memengaruhi produksi lendir.
Secara keseluruhan, IUD tetap merupakan metode kontrasepsi yang efektif dan aman bagi kebanyakan wanita, asalkan dipasang oleh tenaga medis yang terlatih dan diikuti dengan pemantauan kesehatan rutin. Keputihan berbau bukanlah efek samping yang umum, melainkan tanda adanya gangguan lain yang perlu diidentifikasi dan diobati secara tepat.
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai mekanisme kerja IUD dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan vagina, wanita dapat membuat keputusan kontrasepsi yang lebih informatif dan mengurangi kekhawatiran yang tidak berdasar.
Kesimpulannya, IUD tidak secara langsung menyebabkan keputihan berbau; namun, iritasi lokal, perubahan pH, atau infeksi sekunder dapat menjadi pemicu. Pengawasan medis secara berkala dan penanganan cepat terhadap gejala abnormal menjadi kunci utama menjaga kesehatan reproduksi wanita yang menggunakan IUD.