123Berita – 05 April 2026 | Israel kembali menambah daftar insiden militer yang menimbulkan keprihatinan internasional setelah pasukan daratnya menghancurkan tujuh belas unit kamera pengawas (CCTV) yang terhubung ke markas utama Pasukan Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (UNIFIL) di wilayah selatan Lebanon. Aksi tersebut dilaporkan terjadi dalam rentang waktu dua puluh empat jam, menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan yang telah berlangsung lama antara Israel dan Lebanon.
UNIFIL, yang didirikan pada tahun 1978 setelah invasi Israel ke Lebanon, memiliki mandat untuk memastikan stabilitas di wilayah perbatasan, memfasilitasi bantuan kemanusiaan, serta mengawasi pelaksanaan gencatan senjata antara pihak-pihak yang berkonflik. Keberadaan jaringan kamera pengawas merupakan bagian penting dari kemampuan operasional mereka, memungkinkan pemantauan real‑time terhadap pergerakan militer, penyelundupan senjata, dan potensi pelanggaran gencatan senjata.
Berikut rangkaian kejadian yang dilaporkan selama 24 jam terakhir:
- 09:00 WIB: Tim teknis UNIFIL menemukan kerusakan pada tiga unit kamera di pos pengawasan dekat desa Marjayoun.
- 12:30 WIB: Patroli darat Israel melintasi zona buffer dan menembakkan peluru ke arah dua kamera tambahan di area yang sama.
- 15:45 WIB: Sumber militer Israel mengkonfirmasi bahwa operasi tersebut bertujuan menghentikan “pencurian intelijen” oleh pasukan penjaga perdamaian.
- 18:00 WIB: Tim UNIFIL melaporkan total tujuh belas kamera yang rusak, dengan kerusakan parah pada unit utama yang terhubung ke pusat komando.
Israel membenarkan tindakan tersebut dengan menyatakan bahwa kamera-kamera tersebut telah digunakan untuk mengumpulkan data intelijen yang dianggap mengancam keamanan nasional Israel. Pihak militer Israel menegaskan bahwa operasi tersebut bersifat terbatas dan bertujuan melindungi warga sipil dari ancaman yang mereka identifikasi sebagai “spionase” oleh pasukan penjaga perdamaian.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengecam keras aksi tersebut dan menuntut agar Israel menghentikan semua bentuk sabotase terhadap operasi UNIFIL. Dalam pernyataannya, Guterres menekankan bahwa setiap upaya mengganggu mandat PBB akan memperburuk situasi keamanan di wilayah yang sudah rapuh, serta berpotensi memicu konflik yang lebih luas.
Kementerian Luar Negeri Lebanon juga mengeluarkan protes resmi, menuduh Israel melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB yang melarang tindakan militer di wilayah perbatasan tanpa persetujuan internasional. Menteri Luar Negeri Lebanon, Abdallah Bou Habib, menambahkan bahwa Lebanon siap mengambil langkah diplomatik dan hukum untuk menuntut pertanggungjawaban Israel atas kerusakan infrastruktur penting ini.
Para pengamat politik menilai bahwa aksi Israel ini bisa menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk menekan Hezbollah, kelompok militan berbasis di Lebanon yang telah lama menjadi sumber ketegangan dengan Israel. Hezbollah sendiri belum memberikan komentar resmi, namun para analis memprediksi bahwa aksi tersebut dapat memicu balasan diplomatik atau bahkan militer di masa mendatang.
Dalam konteks yang lebih luas, insiden ini menambah daftar pelanggaran yang terjadi sejak pecahnya konflik bersenjata antara Israel dan Hamas di Gaza pada Oktober 2023. Meskipun UNIFIL tidak terlibat langsung dalam konflik di Gaza, keberadaannya di Lebanon selalu menjadi titik sensitif, terutama mengingat hubungan historis antara Hezbollah dan rezim Iran yang mendukungnya.
Para ahli keamanan menekankan pentingnya mempertahankan jaringan pengawasan yang utuh untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Mereka mengingatkan bahwa gangguan terhadap sistem pemantauan dapat mempersulit upaya penegakan gencatan senjata, meningkatkan risiko kesalahpahaman, dan memperburuk kondisi kemanusiaan bagi penduduk sipil di daerah perbatasan.
Sejumlah negara anggota PBB, termasuk Amerika Serikat, Prancis, dan Arab Saudi, telah mengirimkan pernyataan yang menyerukan dialog dan penarikan kembali tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan. Namun, belum ada respons konkret dari pemerintah Israel mengenai langkah selanjutnya setelah penghancuran kamera tersebut.
Ke depan, UNIFIL diperkirakan akan melakukan evaluasi teknis untuk memperbaiki atau mengganti kamera yang rusak, sekaligus meninjau prosedur keamanan guna mencegah serangan serupa. PBB juga berencana mengadakan rapat darurat Dewan Keamanan untuk membahas insiden ini dan menentukan langkah-langkah respons internasional yang tepat.
Dengan situasi yang semakin tidak menentu, masyarakat internasional menantikan perkembangan selanjutnya, sambil berharap bahwa diplomasi dapat meredam potensi konflik yang lebih luas di wilayah Timur Tengah.





