Inovasi Ekonomi Ultra Mikro: Onih Suryati Ubah Kotoran Sapi Jadi Peluang Usaha Menguntungkan

Inovasi Ekonomi Ultra Mikro: Onih Suryati Ubah Kotoran Sapi Jadi Peluang Usaha Menguntungkan
Inovasi Ekonomi Ultra Mikro: Onih Suryati Ubah Kotoran Sapi Jadi Peluang Usaha Menguntungkan

123Berita – 06 April 2026 | Seorang wanita bernama Onih Suryati berhasil mengubah limbah ternak menjadi sumber pendapatan yang signifikan, sekaligus menginspirasi ribuan pelaku usaha ultra mikro di Indonesia. Berbekal dukungan dari Program Nasional Mikro (PNM) Mekaar, Onih memanfaatkan kotoran sapi sebagai bahan baku utama dalam produksi pupuk organik berkualitas, membuka jalan baru bagi ekonomi berbasis pertanian berkelanjutan.

Berawal dari latar belakang peternakan kecil di kampungnya, Onih menyadari bahwa setiap hari peternakan menghasilkan volume kotoran yang melimpah namun tidak dimanfaatkan secara optimal. Kotoran tersebut biasanya dibuang ke sungai atau lahan terbuka, menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan. Dengan semangat kewirausahaan, ia memutuskan untuk mengolah limbah tersebut menjadi pupuk organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah.

Bacaan Lainnya

Langkah pertama Onih adalah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh PNM Mekaar, sebuah inisiatif pemerintah yang bertujuan memperkuat kapasitas usaha ultra mikro melalui pendampingan teknis dan akses pembiayaan. Selama pelatihan, ia mempelajari teknik pengomposan, standar kualitas pupuk, serta strategi pemasaran yang tepat. Pengetahuan ini menjadi fondasi penting bagi transformasi usahanya.

Setelah menyelesaikan pelatihan, Onih menginvestasikan modal awal yang diperoleh melalui kredit mikro PNM Mekaar. Dengan modal tersebut, ia membeli peralatan pengomposan sederhana, seperti wadah komposter, alat pencampur, dan timbangan. Proses pengomposan dilakukan secara bertahap, menggabungkan kotoran sapi dengan bahan organik lain seperti dedaunan kering dan jerami. Selama proses, suhu dan kelembaban dipantau secara ketat untuk memastikan terbentuknya kompos yang stabil dan bebas patogen.

Hasil akhir dari proses tersebut adalah pupuk organik cair dan padat yang memiliki kandungan nutrisi tinggi, cocok untuk berbagai jenis tanaman, mulai dari sayuran hingga perkebunan kopi. Produk Onih mendapat sambutan positif dari petani lokal yang mencari alternatif pupuk ramah lingkungan dan lebih terjangkau dibandingkan pupuk kimia impor.

Berikut adalah tahapan utama yang dilakukan Onih dalam mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik:

  • Pengumpulan kotoran sapi segar dari peternakan sekitar.
  • Pencampuran dengan bahan organik sekunder (dedaunan, jerami).
  • Pengomposan selama 4-6 minggu dengan kontrol suhu 55-65°C.
  • Pengujian kualitas pupuk di laboratorium PNM Mekaar.
  • Pengemasan dan distribusi ke pasar lokal.

Keberhasilan Onih tidak terlepas dari sinergi antara pemberdayaan perempuan, dukungan keuangan mikro, dan kebijakan pro‑lingkungan. Melalui program PNM Mekaar, ia tidak hanya memperoleh akses kredit dengan bunga rendah, tetapi juga bimbingan teknis dari tenaga ahli agronomi. Selain itu, jaringan pemasaran yang dibangun bersama kelompok tani setempat memungkinkan produknya mencapai konsumen lebih luas.

Secara ekonomi, usaha Onih telah menghasilkan pendapatan tambahan sekitar Rp 5 juta per bulan, meningkat secara konsisten sejak tahun pertama operasional. Peningkatan ini berdampak pada peningkatan kesejahteraan keluarga, termasuk kemampuan membiayai pendidikan anak dan memperluas usaha ke produk turunan lain, seperti biochar dan bahan bakar biogas.

Di tingkat sosial, keberhasilan Onih menjadi contoh nyata pemberdayaan perempuan dalam sektor agribisnis. Ia kini aktif melatih perempuan lain di desa untuk mengadopsi model usaha serupa, sehingga tercipta efek multiplier dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan rumah tangga.

Melihat potensi yang masih besar, Onih berencana memperluas kapasitas produksi dengan menambah unit pengomposan dan mengembangkan lini produk pupuk organik cair yang dapat dipasarkan ke kota-kota besar. Ia juga menargetkan kerja sama dengan perusahaan pertanian yang membutuhkan pasokan pupuk berkelanjutan dalam skala menengah.

Kesimpulannya, transformasi kotoran sapi menjadi pupuk organik yang dilakukan Onih Suryati tidak hanya menyelesaikan permasalahan limbah ternak, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi komunitas petani dan perempuan di daerah. Dukungan dari program PNM Mekaar terbukti efektif dalam mengakselerasi pertumbuhan usaha ultra mikro, sekaligus mendorong agenda pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Pos terkait