Harga Pakan Naik Tajam, Peternak Ayam Terpaksa Jual Telur Hanya Rp21.000 per Kg

Harga Pakan Naik Tajam, Peternak Ayam Terpaksa Jual Telur Hanya Rp21.000 per Kg
Harga Pakan Naik Tajam, Peternak Ayam Terpaksa Jual Telur Hanya Rp21.000 per Kg

123Berita – 07 April 2026 | Harga pakan ternak yang terus melambung menjadi beban berat bagi peternak ayam di seluruh Indonesia. Kenaikan biaya pakan yang mencapai lebih dari 30 persen dalam enam bulan terakhir memaksa para peternak menurunkan harga jual telur secara drastis, bahkan sampai hanya Rp21.000 per kilogram. Penurunan harga ini terjadi pada saat biaya produksi justru semakin tinggi, menimbulkan tekanan finansial yang signifikan bagi industri telur nasional.

Para peternak di sentra produksi utama, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara, melaporkan bahwa biaya pakan – yang terdiri atas jagung, kedelai, dan konsentrat lain – naik tajam akibat fluktuasi pasar global, gangguan logistik, serta kebijakan ekspor bahan pangan utama di negara produsen. Menurut data Kementerian Pertanian, harga jagung impor pada kuartal pertama 2026 mencatat kenaikan sebesar 38 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Bacaan Lainnya

Akibatnya, margin keuntungan peternak menyusut drastis. Sebelum kenaikan pakan, peternak dapat menjual telur dengan harga rata-rata Rp30.000 per kilogram dan masih mencatat keuntungan bersih sekitar 10-12 persen. Kini, dengan harga jual turun menjadi Rp21.000, margin sudah terbalik menjadi negatif, menandakan kerugian pada setiap kilogram telur yang diproduksi.

  • Harga pakan naik 30-40 persen.
  • Harga jual telur turun 30 persen, dari Rp30.000 menjadi Rp21.000 per kg.
  • Margin keuntungan beralih menjadi kerugian.
  • Beberapa peternak kecil terpaksa menutup operasional atau mengalihkan usaha ke sektor lain.

Penurunan harga telur tidak hanya memengaruhi peternak, tetapi juga konsumen akhir. Harga telur di pasar tradisional dan swalayan kini berada pada level terendah dalam lima tahun terakhir. Meskipun konsumen menikmati harga lebih murah, keberlanjutan pasokan telur dalam jangka panjang menjadi pertanyaan besar.

Berbagai pihak, termasuk Asosiasi Peternak Ayam Ras Nasional (APARN), mengajukan beberapa langkah penanggulangan. Di antaranya adalah permohonan subsidi pakan langsung kepada peternak kecil, pembentukan dana darurat untuk industri unggas, serta peningkatan produksi pakan dalam negeri melalui investasi pada bibit jagung dan kedelai yang tahan iklim. APARN juga menekankan pentingnya stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dolar, karena sebagian besar bahan baku pakan diimpor.

Pemerintah menanggapi melalui Kementerian Pertanian dengan mengumumkan rencana pengembangan industri pakan lokal. Program “Pakan Nasional” dijadwalkan melibatkan kerja sama dengan perusahaan swasta untuk membangun pabrik pakan di beberapa provinsi, serta memberikan insentif pajak bagi produsen pakan yang menyalurkan produk ke peternak kecil.

Namun, para analis ekonomi memperingatkan bahwa solusi jangka pendek saja tidak cukup. Dr. Budi Santoso, pakar ekonomi pertanian dari Universitas Gadjah Mada, mencatat bahwa ketergantungan pada impor pakan membuat industri unggas rentan terhadap gejolak pasar internasional. “Diversifikasi sumber bahan baku, peningkatan produktivitas lahan padi dan jagung dalam negeri, serta adopsi teknologi pakan alternatif seperti fermentasi mikroba dapat menjadi kunci ketahanan pangan jangka panjang,” ujarnya.

Selain itu, perubahan pola konsumsi juga menjadi faktor. Selama pandemi COVID-19, permintaan telur meningkat karena konsumen beralih ke protein hewani yang lebih terjangkau. Kini, dengan pemulihan ekonomi, permintaan beralih ke produk olahan dan daging, menurunkan tekanan pada pasar telur. Kombinasi antara penurunan permintaan dan kenaikan biaya produksi menciptakan situasi yang menantang bagi peternak.

Di lapangan, peternak mencoba bertahan dengan inovasi kecil. Beberapa mengoptimalkan manajemen kandang, mengurangi kepadatan ayam, dan meningkatkan efisiensi pakan lewat pelatihan penggunaan feeder otomatis. Lainnya mencoba menambah nilai jual dengan memproduksi telur organik atau telur kampung yang biasanya dapat dipasarkan dengan harga premium.

Secara keseluruhan, dinamika harga pakan dan telur menegaskan perlunya kebijakan terintegrasi yang melibatkan pemerintah, pelaku industri, dan lembaga penelitian. Tanpa langkah-langkah strategis, risiko penurunan produksi telur dalam negeri dapat mengancam ketahanan pangan nasional.

Peternak, konsumen, dan pembuat kebijakan kini berada di persimpangan penting. Upaya bersama untuk menstabilkan harga pakan, mendukung peternak kecil, serta mengembangkan inovasi produksi menjadi kunci untuk memastikan pasokan telur tetap terjaga tanpa mengorbankan kesejahteraan peternak.

Pos terkait