123Berita – 06 April 2026 | Jakarta, 6 April 2026 – Harga avtur (aviation turbine fuel) yang dipasok oleh Pertamina melonjak drastis mencapai 70 persen pada bulan April 2026. Kenaikan tajam ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan maskapai penerbangan domestik dan internasional yang beroperasi di Indonesia. Menanggapi situasi tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa meskipun terjadi peningkatan harga, avtur Indonesia masih berada pada tingkat yang kompetitif bila dibandingkan dengan pasar regional.
Data resmi yang dirilis oleh Pertamina menunjukkan bahwa harga avtur pada akhir Maret 2026 berada pada kisaran Rp 9.800 per liter. Pada bulan April, harga tersebut naik menjadi sekitar Rp 16.660 per liter, menandakan peningkatan sebesar 70 persen dalam rentang waktu satu bulan. Kenaikan tersebut dipicu oleh kombinasi faktor internasional, termasuk kenaikan harga minyak mentah Brent dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta penyesuaian tarif transportasi laut dan darat yang turut menambah beban biaya logistik.
“Kami menyadari dampak signifikan yang ditimbulkan oleh lonjakan harga avtur bagi industri penerbangan nasional. Namun, perlu dipahami bahwa harga avtur Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan negara‑negara tetangga di Asia Tenggara,” ujar Bahlil dalam konferensi pers yang digelar di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (5/4/2026). “Komparatifnya, Indonesia masih menawarkan harga yang kompetitif, sehingga tidak mengganggu daya saing maskapai dalam menyeimbangkan biaya operasional dan tarif tiket penumpang.”
Para pengamat ekonomi menilai bahwa lonjakan harga avtur tidak lepas dari dinamika pasar energi global. Sejak awal tahun 2026, harga minyak mentah Brent telah mengalami peningkatan hampir 45 persen akibat gangguan pasokan di wilayah Timur Tengah serta kebijakan penurunan produksi oleh OPEC+. Kenaikan tersebut secara langsung memengaruhi harga bahan bakar avtur, yang diproduksi dari minyak mentah. Selain itu, nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS selama tiga kuartal terakhir menambah beban impor bahan baku dan komponen pendukung produksi avtur.
Berikut rangkuman utama faktor-faktor yang memengaruhi kenaikan harga avtur pada April 2026:
- Kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 45% sejak Januari 2026.
- Penurunan nilai tukar rupiah sebesar 12% terhadap dolar AS pada kuartal pertama 2026.
- Peningkatan biaya logistik, termasuk tarif angkutan laut dan darat.
- Penyesuaian tarif pajak energi yang diberlakukan pada akhir Maret 2026.
Masalah tersebut juga menimbulkan tantangan bagi maskapai penerbangan. Sebagian maskapai mengumumkan penyesuaian tarif penumpang guna menutupi biaya bahan bakar yang lebih tinggi. Namun, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tengah melakukan koordinasi intensif dengan Pertamina dan regulator untuk menstabilkan harga avtur dalam jangka menengah.
“Kami terus berupaya memastikan pasokan avtur tetap mencukupi dan stabil, sambil menjaga agar harga tidak melampaui batas yang wajar,” tambahnya. “Upaya tersebut meliputi optimalisasi rantai pasok, peningkatan efisiensi produksi, serta pengembangan alternatif energi yang dapat mengurangi ketergantungan pada avtur konvensional di masa depan.”
Selain itu, Menteri ESDM menyoroti kebijakan strategis pemerintah dalam memperkuat sektor energi domestik. Salah satu langkah utama adalah mempercepat pembangunan kilang minyak baru dan fasilitas produksi avtur di wilayah barat Indonesia, yang diharapkan dapat menurunkan biaya transportasi dan memperpendek rantai pasok.
Para analis menilai bahwa meskipun harga avtur naik, Indonesia masih berada dalam posisi yang relatif menguntungkan bila dibandingkan dengan negara‑negara seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam, yang mencatat harga avtur rata‑rata lebih tinggi pada kuartal pertama 2026. Namun, mereka memperingatkan bahwa volatilitas harga global tetap menjadi risiko utama bagi stabilitas biaya operasional maskapai.
Dalam konteks ekonomi makro, kenaikan harga avtur dapat memengaruhi sektor pariwisata dan logistik. Biaya transportasi udara yang lebih tinggi berpotensi menurunkan permintaan penumpang domestik dan internasional, terutama pada rute‑rute pendek yang sensitif terhadap perubahan tarif. Pemerintah diharapkan akan mempertimbangkan kebijakan subsidi atau insentif bagi maskapai yang mengadopsi teknologi bahan bakar alternatif, seperti bio‑avtur, guna meredam dampak kenaikan harga.
Secara keseluruhan, situasi harga avtur yang melambung menuntut sinergi antara pemerintah, BUMN, dan pelaku industri penerbangan. Langkah-langkah mitigasi yang diambil saat ini akan menentukan sejauh mana sektor aviasi dapat tetap kompetitif di pasar global yang semakin menuntut efisiensi biaya dan keberlanjutan lingkungan.
Dengan komitmen kuat dari Kementerian ESDM serta dukungan kebijakan yang adaptif, diharapkan harga avtur dapat kembali ke level yang lebih stabil dalam beberapa bulan ke depan, menjaga agar industri penerbangan Indonesia tetap berperan sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional.