Gunung Dukono di Maluku Utara Kembali Erupsi: Abu Vulkanik Mencapai 3.000 Meter pada Malam 3 April 2026

Gunung Dukono di Maluku Utara Kembali Erupsi: Abu Vulkanik Mencapai 3.000 Meter pada Malam 3 April 2026
Gunung Dukono di Maluku Utara Kembali Erupsi: Abu Vulkanik Mencapai 3.000 Meter pada Malam 3 April 2026

123Berita – 04 April 2026 | Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono yang berada di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, melaporkan bahwa aktivitas letusan gunung berapi ini masih berlanjut pada malam Jumat, 3 April 2026. Menurut pengamatan langsung, kolom abu vulkanik menyembur hingga ketinggian sekitar tiga ribu meter, menimbulkan awan abu tebal yang meliputi wilayah sekitar. Letusan yang terjadi pada jam malam menambah tingkat risiko bagi penduduk setempat, terutama bagi mereka yang tinggal di lereng-lereng gunung dan wilayah pesisir yang rawan terpapar abu.

Letusan ini tidak hanya menghasilkan abu yang melambung tinggi, tetapi juga disertai dengan suara gemuruh, letusan batuan kecil, dan aliran gas panas yang dapat menurunkan kualitas udara. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat segera mengaktifkan prosedur darurat, termasuk evakuasi sementara bagi warga yang berada dalam zona bahaya. Tim SAR dan relawan telah menyiapkan titik-titik penampungan di desa-desa tetangga, lengkap dengan persediaan makanan, air bersih, dan perlengkapan medis dasar.

Bacaan Lainnya

Sejumlah lembaga pemerintah, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terus memantau aktivitas seismik dan tingkat panas di kawah Dukono. Data terbaru menunjukkan peningkatan intensitas gempa mikro yang biasanya menjadi indikator peningkatan tekanan magma di dalam perut gunung. BMKG telah mengeluarkan peringatan dini level tiga, menandakan bahwa letusan dapat berlanjut atau bahkan meningkat dalam beberapa jam ke depan. Warga disarankan untuk tetap waspada, menutup jendela rumah, dan menghindari aktivitas luar ruangan yang tidak penting.

Selain dampak langsung pada penduduk, letusan ini juga menimbulkan gangguan pada transportasi udara. Bandara terdekat, yaitu Bandara Sultan Babullah di Ternate, melaporkan penurunan visibilitas pada jalur penerbangan yang melintasi daerah tersebut. Pihak otoritas penerbangan telah menunda beberapa jadwal penerbangan domestik dan internasional sebagai langkah pencegahan. Pedagang pasar tradisional di sekitar kawasan gunung juga mengalami penurunan aktivitas karena konsumen menghindari area yang berpotensi berbahaya.

Gunung Dukono dikenal sebagai salah satu gunung berapi yang paling aktif di Indonesia, dengan riwayat letusan berulang sejak abad ke-20. Letusan terakhir sebelum insiden kali ini tercatat pada tahun 2025, yang menghasilkan abu setinggi 2.500 meter dan menimbulkan kerusakan terbatas pada infrastruktur pertanian. Para ahli vulkanologi menegaskan bahwa pola letusan berulang ini menunjukkan adanya sistem magma yang stabil namun berpotensi berubah secara tiba-tiba, sehingga pemantauan terus-menerus menjadi sangat penting.

Dalam upaya mengurangi dampak jangka panjang, pemerintah daerah telah mengadakan penyuluhan tentang cara mengatasi paparan abu vulkanik, termasuk penggunaan masker, pembersihan atap rumah, dan prosedur darurat evakuasi. Masyarakat juga diajak untuk melaporkan setiap perubahan aktivitas yang mencurigakan kepada PGA Dukono melalui hotline yang telah disediakan. Dengan koordinasi yang baik antara lembaga penanggulangan bencana, ilmuwan, dan warga, diharapkan risiko kerugian dapat diminimalkan meski gunung terus mengeluarkan material vulkanik.

Secara keseluruhan, letusan Gunung Dukono pada malam 3 April 2026 menegaskan kembali pentingnya kesiapsiagaan wilayah rawan bencana di Indonesia. Meskipun abu vulkanik yang menyembur mencapai tiga ribu meter menimbulkan tantangan signifikan, respons cepat dari otoritas setempat serta partisipasi aktif masyarakat menunjukkan kemampuan kolektif dalam menghadapi ancaman alam. Pengawasan berkelanjutan dan langkah mitigasi yang tepat akan menjadi kunci untuk menjaga keselamatan penduduk serta meminimalisir gangguan pada aktivitas ekonomi regional.

Pos terkait