Gotong Royong di Pante Geulima Percepat Pemulihan Pasca Banjir Sumatra 2026

Gotong Royong di Pante Geulima Percepat Pemulihan Pasca Banjir Sumatra 2026
Gotong Royong di Pante Geulima Percepat Pemulihan Pasca Banjir Sumatra 2026

123Berita – 04 April 2026 | Setelah hujan deras mengguyur wilayah Sumatra pada awal April 2026, banjir melanda sejumlah kecamatan, termasuk daerah Pidie Jaya. Di antara wilayah yang paling terdampak, Dusun Pante Geulima, Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Mereudu, menunjukkan contoh nyata semangat kebersamaan melalui aksi gotong royong yang intensif. Warga setempat bekerja selaras dengan unsur pemerintah, menggerakkan program kerja bakti yang difasilitasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta dukungan dari para perantau yang mengirimkan donasi bahan dan armada pengangkutan.

Pada Kamis, 2 April 2026, lebih dari puluhan relawan warga berkumpul di lapangan desa untuk memulai proses pembersihan kawasan yang masih terendam lumpur dan sampah. Kegiatan dimulai dengan pembagian tugas secara bergilir, sehingga tiap kelompok dapat membersihkan area seluas beberapa ratus meter persegi dalam satu shift. Alat-alat sederhana seperti sapu, sekop, serta truk kecil disediakan oleh BPBD, sementara tambahan armada pengangkut disewa berkat sumbangan dana dari komunitas perantau yang berada di luar provinsi.

Bacaan Lainnya

Koordinasi utama dikelola oleh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra. Satgas tersebut menekankan pentingnya transisi cepat dari fase tanggap darurat ke fase rehabilitasi, sehingga proses pemulihan infrastruktur dan lingkungan dapat berjalan berkesinambungan. Dalam pernyataannya, Satgas PRR menilai bahwa partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan program pemulihan, terutama di daerah-daerah dengan akses logistik terbatas.

Ahlul Fikri, seorang tokoh warga Pante Geulima, menegaskan sinergi antara pemerintah dan masyarakat sebagai kunci utama percepatan pemulihan. “Alhamdulillah, saat ini ada dua bentuk dukungan yang berjalan bersamaan. Pertama dari pemerintah melalui program kerja bakti, dan kedua dari donasi teman‑teman perantauan yang ikut membantu, termasuk untuk penyewaan armada pengangkutan,” ujarnya dalam siaran pers yang dirilis pada Jumat, 3 April 2026. Ia menambahkan bahwa semangat kebersamaan ini tidak hanya mengembalikan kondisi fisik desa, tetapi juga menguatkan rasa solidaritas antarwarga.

  • Pengorganisasian kerja bakti dipimpin oleh ketua RW setempat.
  • Setiap relawan menerima upah harian yang dibayarkan secara transparan melalui rekening desa.
  • Donasi perantau dialokasikan untuk bahan bakar, sewa truk, dan pembelian perlengkapan kebersihan.
  • Satgas PRR memantau progres harian dan menyusun laporan evaluasi tiap minggu.

Program kerja bakti tidak hanya memberikan manfaat sosial, melainkan juga mengangkat ekonomi warga yang masih mengalami penurunan pendapatan akibat banjir. Upah harian yang diberikan kepada setiap pekerja membantu menutupi kebutuhan dasar, seperti pangan, obat‑obatan, dan biaya pendidikan anak. Halimah, salah satu warga yang terlibat, mengungkapkan rasa terima kasihnya. “Alhamdulillah sangat terbantu. Selain bisa ikut membersihkan, kami juga mendapat penghasilan untuk kebutuhan sehari‑hari dan anak‑anak yang masih sekolah,” katanya.

Selain membersihkan jalan utama, para relawan juga menitikberatkan pada fasilitas umum yang terdampak, seperti musala, pos kesehatan, serta saluran sanitasi. Pembersihan musala dilakukan secara khusus karena menjadi tempat ibadah utama warga. Tim kebersihan memastikan bahwa lantai, dinding, dan perabotan dibersihkan dengan disinfektan, sehingga lingkungan tetap higienis dan aman untuk kegiatan keagamaan.

Sanitasi lingkungan menjadi fokus penting mengingat risiko penyebaran penyakit setelah banjir. Relawan menata kembali saluran pembuangan, menghilangkan sampah organik yang dapat menjadi sarang nyamuk, serta memasang papan peringatan tentang pentingnya menjaga kebersihan. Upaya ini mendapat apresiasi dari petugas kesehatan daerah, yang menyatakan bahwa tindakan preventif tersebut dapat mengurangi potensi wabah diare dan demam berdarah.

Secara keseluruhan, puluhan keluarga terlibat dalam rotasi kerja bakti, menciptakan pola kerja yang adil dan merata. Setiap kelompok bekerja selama enam jam, kemudian digantikan oleh kelompok berikutnya. Sistem ini memastikan bahwa tidak ada satu pihak pun yang terlalu terbebani, sekaligus memberi kesempatan bagi lebih banyak warga untuk mendapatkan pendapatan tambahan.

Kolaborasi antara pemerintah, Satgas PRR, BPBD, serta warga dan donor perantau menunjukkan contoh model pemulihan yang inklusif. Dengan dukungan logistik yang memadai, koordinasi yang terstruktur, dan semangat gotong royong yang mengakar, proses rehabilitasi Pante Geulima diproyeksikan dapat selesai dalam waktu tiga bulan ke depan. Meskipun tantangan tetap ada, terutama dalam memperbaiki infrastruktur jalan utama yang rusak parah, warga menegaskan keyakinannya bahwa desa akan kembali pulih seperti sediakala.

“Yang terpenting bagi kami adalah kebersamaan. Dengan dukungan semua pihak, kami yakin Pante Geulima bisa bangkit dan pulih seperti sedia kala,” tutup Ahlul Fikri, menegaskan tekad kolektif untuk menyongsong masa depan yang lebih stabil dan tahan bencana.

Pos terkait