123Berita – 22 April 2026 | Jumat, 19 April 2026 – Insiden yang sempat menggemparkan kompetisi Elite Pro Academy (EPA) U-20, yang dikenal dengan sebutan “tendangan kungfu”, kini menemukan titik akhir yang damai setelah Fadly Alberto, pemain muda berbakat Dewa United, dipanggil ke markas klub untuk klarifikasi. Kejadian yang awalnya menimbulkan keraguan dan spekulasi di kalangan penggemar serta pihak terkait, berhasil diselesaikan tanpa tindakan disiplin berat, menandai langkah positif bagi perkembangan sepak bola usia dini di Indonesia.
Insiden tersebut terjadi pada laga semifinal EPA U-20 antara Dewa United U-20 melawan rivalnya, Persija Jakarta U-20, pada 12 April 2026. Dalam menit-menit akhir pertandingan, Fadly Alberto terlihat melakukan aksi tendangan yang dianggap tidak sportif oleh ofisial pertandingan, yang kemudian dijuluki “tendangan kungfu” oleh beberapa media sosial. Aksi tersebut memicu protes dari pelatih tim lawan serta sorotan tajam dari penonton yang menyaksikan langsung.
Setelah pertandingan berakhir, komite disiplin EPA segera membuka penyelidikan. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada 14 April, komite menegaskan bahwa mereka akan menilai tindakan tersebut berdasarkan video rekaman, laporan wasit, dan kesaksian pemain. Sementara itu, Dewa United mengirimkan pernyataan singkat yang menegaskan komitmen klub terhadap sportivitas dan menunggu hasil penyelidikan.
Berikut rangkaian kronologis yang menuntun pada penyelesaian damai:
- 12 April 2026 – Insiden tendangan terjadi dalam laga semifinal EPA U-20.
- 13 April 2026 – Wasit mengeluarkan kartu kuning kepada Fadly Alberto, namun tidak ada keputusan penalti tambahan.
- 14 April 2026 – Komite disiplin EPA mengumumkan penyelidikan resmi.
- 15 April 2026 – Dewa United menghubungi orang tua Fadly Alberto serta mengatur pertemuan internal.
- 17 April 2026 – Fadly Alberto dipanggil ke markas Dewa United untuk memberikan klarifikasi dan permohonan maaf.
- 19 April 2026 – Komite disiplin EPA mengeluarkan keputusan akhir: peringatan tertulis dan sesi edukasi sportivitas bagi Fadly Alberto.
Pada 17 April, Fadly Alberto bersama orang tuanya, pelatih kepala Dewa United U-20, dan perwakilan komite disiplin bertemu di markas klub. Dalam pertemuan tersebut, Fadly menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, menjelaskan bahwa aksi tendangan tersebut bukanlah tindakan sengaja melukai lawan, melainkan reaksi emosional di tengah tekanan pertandingan. Ia menambahkan bahwa dirinya belum sepenuhnya memahami batasan teknik yang dapat dianggap melanggar aturan.
Pelatih kepala Dewa United, Budi Santoso, menegaskan bahwa klub memberikan bimbingan tambahan bagi Fadly Alberto, termasuk sesi psikologis dan pelatihan teknik yang menekankan etika bermain. “Kami melihat potensi besar pada Fadly, dan insiden ini menjadi pelajaran penting bagi semua pemain muda,” ujarnya.
Komite disiplin EPA, yang dipimpin oleh Ketua Komite Rudi Hartono, menyatakan keputusan akhir berupa peringatan tertulis serta kewajiban mengikuti workshop sportivitas yang akan dilaksanakan pada akhir bulan ini. Tidak ada sanksi pertandingan atau skorsing yang dijatuhkan, menandakan bahwa komite menilai tindakan tersebut tidak melanggar aturan secara serius, namun tetap memerlukan edukasi.
Keputusan ini mendapat sambutan positif dari komunitas sepak bola. Beberapa komentator menilai bahwa penyelesaian damai memperlihatkan kedewasaan institusi dalam menangani konflik di level akademi. “Ini contoh bagaimana klub dan asosiasi dapat bekerja sama untuk membimbing pemain muda, bukan sekadar menghukum,” kata analis sepak bola, Andi Prasetyo.
Sementara itu, reaksi dari Persija Jakarta U-20 menekankan pentingnya keadilan. Kapten tim lawan, Rian Maulana, mengungkapkan rasa lega bahwa kasus ini tidak berlarut-larut dan mengharapkan semua pihak tetap fokus pada pengembangan bakat muda.
Kasus “tendangan kungfu” ini juga menjadi momentum bagi EPA untuk meninjau kembali regulasi terkait tindakan tidak sportif pada kompetisi junior. Dalam rapat evaluasi yang dijadwalkan pada akhir Mei 2026, komite berencana menambahkan modul edukasi khusus mengenai kontrol emosi dan teknik legal dalam kurikulum pelatihan.
Fadly Alberto, yang berusia 17 tahun dan telah menonjol dalam beberapa turnamen junior, kini kembali berlatih bersama rekan-rekannya. Ia menegaskan tekadnya untuk memperbaiki diri dan berkontribusi lebih baik bagi Dewa United. “Saya berterima kasih atas kesempatan kedua yang diberikan. Saya akan belajar dari kesalahan ini dan kembali bermain dengan hati yang bersih,” ujar Fadly dalam wawancara singkat setelah pertemuan.
Dengan berakhirnya kasus ini secara damai, harapan muncul bahwa kompetisi EPA U-20 dapat kembali fokus pada pengembangan talenta tanpa gangguan insiden serupa. Semua pihak sepakat bahwa pendidikan sportivitas harus menjadi landasan utama dalam membentuk generasi pemain sepak bola Indonesia yang profesional dan berintegritas.
Secara keseluruhan, penyelesaian damai kasus tendangan kungfu menegaskan komitmen Dewa United, EPA, dan seluruh ekosistem sepak bola junior untuk menumbuhkan lingkungan kompetitif yang sehat. Diharapkan, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi pemain muda lainnya, sekaligus memperkuat citra sepak bola Indonesia di kancah internasional.





