123Berita – 07 April 2026 | Aris Indarto, mantan bek timnas Indonesia yang pernah mengisi lini pertahanan Garuda, kembali menampakkan suaranya lewat media sosial. Ia menyoroti risiko taktis yang muncul bila pelatih kepala Timnas Indonesia, John Herdman, tetap mengandalkan duet bek tengah Jay Idzes dan Elkan Baggott secara konsisten dalam pertandingan internasional.
“Saya rasa John Herdman perlu mengevaluasi kembali formasi dan pilihan pemain di lini belakang. Jika terus menumpuk Idzes dan Baggot, kita akan mudah terjebak dalam situasi satu‑dimensi yang lawan bisa antisipasi,” ujar Indarto dalam sebuah unggahan yang kemudian menjadi perbincangan luas di kalangan pecinta sepak bola Indonesia.
Indarto tidak hanya mengkritik, tetapi juga memberikan alternatif taktis yang menurutnya lebih realistis untuk memperkuat pertahanan Timnas Indonesia. Berikut beberapa poin utama yang ia sampaikan:
- Variasi Bek Sayap: Mengintegrasikan pemain seperti Ryuji Utomo atau Rizky Dwi Pangestu yang memiliki kecepatan dan kemampuan crossing dapat menambah dimensi baru pada serangan balik, sekaligus menurunkan beban Idzes di sisi kanan.
- Bek Tengah Alternatif: Memanfaatkan bek tengah senior seperti Andritany Ardhiyasa atau menurunkan pemain muda berbakat seperti Alfeandra Dewangga dapat memberikan keseimbangan antara pengalaman dan energi muda.
- Skema Formasi Fleksibel: Mengadopsi formasi 3‑5‑2 atau 4‑3‑3 dalam beberapa laga penting untuk menyesuaikan dengan karakteristik lawan, sehingga pertahanan tidak terlalu terpusat pada dua pemain saja.
Selain itu, Indarto menyoroti pentingnya kerja sama antara lini pertahanan dan lini tengah. Ia menilai bahwa gelandang bertahan seperti Rizal Fatali atau Pratama Arhan harus lebih aktif menutup ruang serta membantu menutup celah ketika bek tengah terdesak. “Jika gelandang dapat menekan di zona tengah, tekanan pada Idzes dan Baggott akan berkurang secara signifikan,” jelasnya.
John Herdman, pelatih asal Inggris yang sejak 2023 memimpin Timnas Indonesia, diketahui memiliki filosofi permainan menyerang yang menekankan transisi cepat. Namun, kritik Indarto mengingatkan bahwa filosofi ofensif harus seimbang dengan soliditas pertahanan, terutama pada fase-fase krusial seperti laga kualifikasi Piala Dunia atau turnamen regional SEA Games.
Berbagai analis sepak bola Indonesia juga sejalan dengan pendapat Indarto. Mereka menilai bahwa Idzes, yang memiliki postur tinggi dan kemampuan duel udara, memang cocok melawan tim yang mengandalkan crossing atau bola set‑piece. Namun, kecepatan dan mobilitasnya yang relatif lebih rendah dibandingkan Baggott membuat kombinasi keduanya menjadi rentan terhadap penyerang yang suka melakukan pergerakan diagonal atau serangan balik cepat.
Di sisi lain, Elkan Baggott, pemain keturunan Inggris‑Indonesia yang menancapkan kaki di liga Inggris, memiliki kecepatan dan kemampuan mengantisipasi serangan lawan yang baik. Namun, konsistensinya dalam menjaga posisi dan koordinasi dengan rekan setim belum sepenuhnya teruji pada level internasional. Kombinasi keduanya, bila tidak diimbangi dengan pemain pendukung yang tepat, dapat menjadi titik lemah yang dieksploitasi.
Menanggapi kritik ini, Herdman belum memberikan pernyataan resmi. Namun, dalam beberapa sesi latihan terakhir, terlihat adanya rotasi pemain di lini belakang, termasuk pemberian kesempatan kepada pemain muda untuk menguji diri. Ini menjadi indikator bahwa pelatih mungkin sudah mempertimbangkan masukan dari mantan pemain serta analis lokal.
Keputusan strategis John Herdman ke depan akan sangat menentukan performa Timnas Indonesia di ajang internasional mendatang. Jika ia mampu mengoptimalkan kombinasi bek, mengintegrasikan variasi pemain, serta menyesuaikan taktik dengan lawan, potensi Garuda untuk melaju lebih jauh dalam kompetisi besar akan semakin besar.
Kesimpulannya, peringatan yang disampaikan Aris Indarto bukan sekadar kritik pribadi, melainkan seruan bagi manajemen tim untuk meninjau kembali kebijakan seleksi pemain di lini belakang. Dengan mengadopsi saran taktis yang lebih beragam, Timnas Indonesia dapat mengurangi risiko kebobolan dan meningkatkan kepercayaan diri pemain dalam menghadapi tantangan internasional.