123Berita – 04 April 2026 | Jakarta, 1 April 2026 – Gianliugi Donnarumma, penjaga gawang sekaligus kapten tim nasional Italia, mengungkapkan kepedihan yang mendalam setelah Azzurri gagal menembus Piala Dunia 2026. Kegagalan itu terjadi pada laga final play‑off zona Eropa melawan Bosnia dan Herzegovina, yang berakhir dengan drama adu penalti. Kekalahan tersebut menandai ketiga kali Italia absen secara beruntun dari turnamen dunia, sebuah catatan kelam bagi tim yang pernah mengangkat empat piala dunia.
Dalam unggahan emosional di akun Instagram pribadinya, Donnarumma menuliskan, “Setelah pertandingan, saya menangis karena kekecewaan tidak mampu membawa Italia ke tempat yang seharusnya.” Pernyataan itu mencerminkan beban berat yang ia rasakan sebagai pemimpin di lapangan. Pada usia 27 tahun, sang kiper Manchester City tidak hanya memikul tanggung jawab teknis, melainkan juga harapan jutaan pendukung Azzurri yang selama ini menantikan kebangkitan kembali sepak bola Italia di panggung internasional.
Lebih lanjut, Donnarumma menambahkan, “Saya menangis karena kesedihan yang sangat mendalam yang saya rasakan, bersama seluruh tim Azzurri yang dengan bangga saya pimpin sebagai kapten, dan saya tahu, saat ini, kalian para pendukung kami pun merasakan hal yang sama.” Ungkapan tersebut menegaskan ikatan emosional antara pemain dan suporter, sekaligus menyoroti rasa frustrasi kolektif yang melanda seluruh ekosistem sepak bola Italia.
Meski dilanda kepedihan, Donnarumma tidak tinggal diam. Ia mengajak rekan‑rekan setim untuk bangkit kembali dengan tekad yang lebih kuat. “Setelah kekecewaan sebesar ini, kita harus menemukan keberanian untuk membalik halaman, sekali lagi. Dan untuk melakukannya, dibutuhkan banyak kekuatan, gairah, dan keyakinan. Selalu percaya, itulah mesin untuk terus maju. Karena hidup tahu cara memberi penghargaan kepada mereka yang memberikan segalanya, tanpa menahan diri. Dan dari sinilah kita harus memulai kembali. Bersama‑sama. Sekali lagi. Untuk mengembalikan Italia ke tempat yang pantas didudukinya,” tuturnya.
Kekalahan melawan Bosnia dan Herzegovina, yang berada di peringkat 66 dunia, dianggap sebagai “Kiamat Ketiga” oleh media nasional Italia. Sebelumnya, Italia pernah mengalami kegagalan serupa pada Piala Dunia 2018 dan 2022, menambah beban psikologis pada skuad asuhan pelatih Antonio Gattuso. Tekanan publik, kritik tajam, serta harapan besar yang belum terpenuhi semakin memperumit proses rekonstruksi tim.
- Skor akhir laga final: Italia 0–0 Bosnia (penalti 3–4)
- Posisi peringkat FIFA Italia sebelum laga: 9
- Posisi peringkat FIFA Bosnia dan Herzegovina: 66
- Jumlah penonton di stadion: 20.000 orang
Analisis taktik menunjukkan bahwa Italia gagal memanfaatkan peluang di babak reguler, sementara pertahanan Bosnia tampil disiplin dan agresif dalam situasi bola mati. Kiper Donnarumma, meski berpengalaman, tidak dapat menghentikan tembakan penalti yang pada akhirnya menentukan hasil akhir.
Dalam konteks sejarah, kegagalan tiga kali beruntun ini menandai periode terpanjang tanpa partisipasi Piala Dunia sejak era 1950‑an. Bagi para pengamat, hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang arah pembangunan pemain muda, kebijakan seleksi, serta strategi pelatih. Beberapa pakar menyoroti perlunya pembaruan sistem akademi serta penekanan pada mentalitas kompetitif yang lebih kuat.
Di sisi lain, Donnarumma menegaskan tekadnya untuk tetap berkontribusi dalam proses pemulihan. “Saya tidak akan menyerah pada rasa sakit ini. Kami akan bekerja keras, memperbaiki kesalahan, dan kembali menorehkan kebanggaan bagi Italia,” ujarnya. Pernyataan tersebut menggugah harapan bagi para fans yang selama ini setia menunggu momen kebangkitan Azzurri.
Ke depan, Italia akan menghadapi serangkaian pertandingan persahabatan dan kualifikasi regional sebagai batu loncatan untuk memperbaiki performa. Gattuso diharapkan melakukan penyesuaian taktik, memperkuat lini tengah, dan meninjau opsi pergantian pemain yang dapat menambah dimensi serangan. Sementara itu, Donnarumma diperkirakan akan tetap menjadi figur sentral, tidak hanya sebagai penjaga gawang, tetapi juga sebagai pemimpin yang menginspirasi.
Kesimpulannya, kegagalan Italia pada play‑off 2026 menjadi titik balik yang menuntut introspeksi mendalam, baik di tingkat pemain maupun manajerial. Dengan semangat yang ditunjukkan Donnarumma, harapan tetap hidup bahwa Azzurri dapat bangkit kembali, mengembalikan kejayaan yang dulu pernah diraih, dan menatap Piala Dunia berikutnya dengan keyakinan yang lebih kuat.