123Berita – 07 April 2026 | Jakarta, 7 April 2026 – Sebuah delegasi senior dari Vietnam Electricity (EVN) mengadakan kunjungan kerja ke Hydrogen Center Senayan, Jakarta, pada hari Senin. Kunjungan ini menandai langkah penting dalam mempererat kerja sama regional di bidang energi bersih, khususnya pengembangan hidrogen sebagai komponen kunci transisi energi di Asia Tenggara.
Tim delegasi, yang dipimpin oleh Direktur Utama EVN, Bapak Nguyen Van Quang, dipersilakan oleh Kepala Hydrogen Center, Dr. Hadi Susanto, serta pejabat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia. Selama tiga jam, para tamu mengevaluasi fasilitas riset, laboratorium uji coba, serta prototipe teknologi penyimpanan dan distribusi hidrogen yang sedang dikembangkan di pusat tersebut.
Bapak Nguyen menekankan pentingnya kolaborasi lintas batas dalam menghadapi krisis iklim. Ia menambahkan, “Vietnam sedang mengintensifkan program transisi energi, termasuk rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dan angin yang akan diintegrasikan dengan jaringan hidrogen. Pengalaman Indonesia dalam pengembangan infrastruktur hidrogen dapat menjadi contoh yang berharga bagi kami.”
- Tujuan utama kunjungan: menilai kesiapan teknologi, mengeksplorasi peluang investasi, serta menyusun roadmap kolaborasi riset.
- Fokus teknologi: elektrolisis air berbasis energi terbarukan, penyimpanan hidrogen dalam bentuk cair dan padat, serta aplikasi mobilitas berbasis sel bahan bakar.
- Potensi proyek bersama: pembangunan pilot plant hidrogen hijau di wilayah Jawa Barat, program pertukaran ilmuwan, serta skema pembiayaan bersama melalui bank pembangunan regional.
Kedua pihak sepakat untuk membentuk Working Group bilateral yang akan beroperasi selama dua tahun ke depan. Kelompok kerja ini akan melibatkan lembaga riset, universitas, serta perusahaan swasta dari kedua negara. Agenda utama meliputi penyusunan standar teknis, pengembangan regulasi pasar hidrogen, dan identifikasi lokasi strategis untuk instalasi produksi hidrogen skala komersial.
Selain aspek teknis, kunjungan ini juga menyinggung kebijakan fiskal dan insentif yang dapat mempercepat komersialisasi hidrogen. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian ESDM, menyiapkan paket insentif berupa pengurangan pajak impor peralatan elektroliser, serta kredit pajak untuk proyek energi bersih. Sementara itu, Vietnam sedang menyusun kerangka regulasi yang mendukung investasi asing di sektor energi terbarukan, termasuk skema feed-in tariff khusus untuk hidrogen hijau.
Para pengamat menilai bahwa kolaborasi ini dapat membuka pasar regional yang lebih luas. Hidrogen, sebagai energi penyimpanan bersih, memiliki potensi untuk menghubungkan sumber energi terbarukan yang bersifat intermiten (seperti surya dan angin) dengan kebutuhan industri yang stabil. Dengan jaringan distribusi lintas negara, Asia Tenggara dapat menciptakan ekosistem energi yang lebih resilient dan berkelanjutan.
Secara ekonomi, investasi pada hidrogen diperkirakan akan menciptakan ribuan lapangan kerja baru, baik di sektor manufaktur peralatan elektroliser maupun di bidang layanan teknis dan operasional. Analisis awal menunjukkan bahwa setiap 1 GW kapasitas produksi hidrogen dapat menghasilkan hingga 5.000 pekerjaan langsung, serta mendukung lebih dari 10.000 pekerjaan tidak langsung di sektor terkait.
Dalam penutupannya, Dr. Hadi menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi pusat inovasi hidrogen di kawasan. “Kami siap menjadi tuan rumah bagi proyek percontohan regional, sekaligus membuka pintu bagi investor yang ingin berpartisipasi dalam ekonomi hidrogen masa depan,” ujarnya.
Delegasi Vietnam Electricity mengakhiri kunjungan dengan menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang mencakup poin-poin kerjasama riset, pertukaran tenaga ahli, serta studi kelayakan bersama. Kedepannya, kedua negara akan menyusun jadwal kunjungan lanjutan, termasuk kunjungan ke fasilitas produksi energi terbarukan di Vietnam serta ke proyek pilot hidrogen di Indonesia.
Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional masing-masing, tetapi juga berkontribusi pada agenda global untuk menurunkan emisi karbon. Dengan menggabungkan sumber daya manusia, teknologi, dan kebijakan yang progresif, Indonesia dan Vietnam berupaya menjadikan hidrogen sebagai tulang punggung transisi energi di Asia Tenggara.
Kesimpulannya, kunjungan delegasi Vietnam Electricity ke Hydrogen Center Senayan menandai babak baru dalam kerjasama regional di bidang energi bersih. Melalui sinergi riset, investasi, dan kebijakan yang terkoordinasi, kedua negara berada pada posisi strategis untuk mempercepat adopsi hidrogen hijau, memperluas pasar energi bersih, dan menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.