Dai Muda Suku Kokoda, Abdul Fattah Iriwa, Bina 199 Keluarga Muslim di Papua Jadi Fenomena Nasional

Dai Muda Suku Kokoda, Abdul Fattah Iriwa, Bina 199 Keluarga Muslim di Papua Jadi Fenomena Nasional
Dai Muda Suku Kokoda, Abdul Fattah Iriwa, Bina 199 Keluarga Muslim di Papua Jadi Fenomena Nasional

123Berita – 04 April 2026 | Seorang pemuda asal Suku Kokoda di Papua, Abdul Fattah Iriwa, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Dai Muda, tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Keberhasilan ia dalam membina hampir dua ratus keluarga Muslim di provinsi paling timur Indonesia ini tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menyoroti pentingnya peran aktif generasi muda dalam menguatkan jaringan keagamaan dan sosial di daerah terpencil.

Abdul Fattah, yang berusia 27 tahun, tumbuh di tengah komunitas tradisional Suku Kokoda. Meskipun latar belakang budayanya kental dengan adat istiadat, ia memilih menapaki jalan dakwah sejak masa remaja. Mengikuti jejak para ulama lokal, ia menekuni ilmu agama secara otodidak, sekaligus memperdalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk memperluas jangkauan komunikasinya.

Bacaan Lainnya

Berawal dari sebuah kelompok kecil yang ia bentuk di kampung halamannya, program pembinaan keluarga ini secara bertahap meluas. Hingga kini, Abdul Fattah berhasil menjangkau 199 keluarga Muslim yang tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Jayapura dan sekitarnya. Setiap keluarga menerima bantuan berupa pendampingan spiritual, pelatihan keterampilan hidup, serta dukungan material sederhana seperti buku-buku agama, perlengkapan ibadah, dan kebutuhan pokok.

Berikut adalah rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh Abdul Fattah dalam program pembinaan keluarga:

  • Pendampingan Spiritual: Mengadakan kajian rutin, pengajian, dan kelas tahfidz Al-Qur’an yang dihadiri oleh seluruh anggota keluarga.
  • Pelatihan Keterampilan: Mengajarkan pembuatan kerajinan tangan, pertanian organik, serta pelatihan dasar komputer untuk meningkatkan kemandirian ekonomi.
  • Bantuan Material: Menyediakan paket kebutuhan pokok bulanan, buku-buku islami, dan perlengkapan ibadah seperti sajadah dan mukena.
  • Penguatan Jaringan Sosial: Membentuk grup WhatsApp khusus untuk memfasilitasi komunikasi antar keluarga, berbagi informasi, serta memberikan dukungan moral.

Keberhasilan program ini tidak lepas dari strategi komunikasi yang cerdas. Abdul Fattah memanfaatkan platform media sosial, khususnya Instagram dan TikTok, untuk mendokumentasikan kegiatan harian serta menampilkan testimoni keluarga yang menerima bantuan. Video singkat yang menampilkan senyum bahagia anak-anak dan ibu-ibu yang berterima kasih kini telah ditonton ribuan kali, mengundang simpati netizen dari seluruh Indonesia.

Selain itu, keberadaan jaringan kerjasama dengan organisasi non‑pemerintah (LSM) serta lembaga keagamaan setempat memperkuat sumber daya yang dapat diakses. Salah satu LSM yang terlibat, Yayasan Harapan Papua, menyediakan dana operasional serta mengirimkan relawan untuk membantu pelaksanaan program. Dukungan dari tokoh agama lokal, termasuk Kiai dan Imam, juga memberikan legitimasi dan menambah kredibilitas program.

Pengaruh positif program ini mulai dirasakan secara konkret. Data yang dikumpulkan Abdul Fattah menunjukkan peningkatan signifikan pada beberapa indikator sosial‑ekonomi keluarga penerima:

Indikator Sebelum Program Setelah Program
Pendapatan Bulanan (Rata‑rata) Rp 1.200.000 Rp 2.350.000
Partisipasi Kegiatan Keagamaan 30% 78%
Penguasaan Literasi Dasar (Anak) 45% 84%

Angka-angka di atas mencerminkan dampak nyata yang dihasilkan oleh pendekatan holistik Abdul Fattah, yang tidak hanya sekadar memberikan bantuan materi, melainkan juga menumbuhkan rasa kebersamaan, keimanan, dan harapan baru bagi masyarakat Papua.

Kesuksesan Dai Muda ini menarik perhatian media nasional dan bahkan internasional. Beberapa portal berita online menyoroti kisah inspiratifnya, sementara sejumlah selebritas dan tokoh publik mengirimkan pesan dukungan melalui media sosial. Tak sedikit pula yang mengajak masyarakat luas untuk berpartisipasi, baik melalui donasi maupun menjadi relawan dalam program pembinaan keluarga.

Meski telah memperoleh sorotan luas, Abdul Fattah tetap rendah hati dan menegaskan bahwa ia tidak bekerja seorang diri. “Saya hanyalah perantara. Semua keberhasilan ini berkat Allah SWT dan dukungan seluruh elemen masyarakat,” ujar dia dalam salah satu wawancara singkat. Ia menambahkan rencananya untuk memperluas jangkauan program ke wilayah lain di Papua, termasuk Kabupaten Mimika dan Kabupaten Nabire, yang juga memiliki tantangan serupa dalam hal akses pendidikan dan ekonomi.

Secara keseluruhan, kisah Dai Muda Suku Kokoda ini menjadi contoh konkret bagaimana inisiatif lokal dapat menciptakan perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat. Dengan memadukan nilai-nilai keagamaan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi, Abdul Fattah Iriwa berhasil membuktikan bahwa kepedulian dan aksi nyata dapat menembus batas geografis serta budaya, menjadikan Papua tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena potensi kepemimpinan sosial yang luar biasa.

Ke depan, harapan besar ditaruh pada kelanjutan program ini. Jika dukungan terus mengalir, tidak menutup kemungkinan jumlah keluarga yang terbantu akan melampaui seratus ribu, menjadikan model pembinaan keluarga ini sebagai referensi bagi wilayah lain di Indonesia yang membutuhkan sentuhan kemanusiaan yang serupa.

Pos terkait