123Berita – 05 April 2026 | Seorang ibu menyusui dari Jakarta mengungkapkan pengalamannya mencoba es krim beraroma air susu ibu (ASI). Produk yang belum lama ini menghebohkan media sosial ini menimbulkan rasa penasaran sekaligus pro kontra di kalangan orang tua. Bunda yang memilih tetap anonim tersebut bersedia berbagi detail rasa, tekstur, serta reaksi tubuhnya setelah mencicipi es krim yang diklaim mengandung ASI asli.
Bunda yang menjadi narasumber kami, 32 tahun, mengaku pertama kali mengetahui produk ini lewat video TikTok yang menampilkan reaksi orang-orang setelah mencicipi. “Saya sempat ragu, karena mengaitkan ASI dengan makanan manis terdengar aneh,” ujarnya. “Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa takut, apalagi jika ada manfaat tambahan untuk kesehatan anak.”
Setelah memesan satu porsi melalui platform e‑commerce, ia mencatat beberapa hal penting selama proses mencicipi. Pertama, penampilan es krim berwarna putih kemilau dengan lapisan cokelat tipis di atasnya. Kedua, rasa manisnya tidak berlebihan, melainkan seimbang dengan sentuhan lembut yang mengingatkan pada susu ibu segar. “Saya tidak merasakan rasa kimia atau artifisial, melainkan sensasi alami yang cukup menenangkan,” tambahnya.
Namun, bukan hanya rasa yang menjadi fokus. Bunda juga memperhatikan dampak kesehatan setelah mengonsumsi es krim tersebut. Ia melaporkan tidak mengalami gangguan pencernaan, alergi, atau reaksi tidak nyaman lainnya. “Saya memang sensitif terhadap produk susu, jadi saya memantau gejala seperti kembung atau ruam kulit. Semua baik‑baik saja,” jelasnya. Meskipun demikian, ia menekankan pentingnya tidak mengonsumsi es krim ini secara berlebihan, mengingat kandungan gula dan lemak yang tetap ada pada produk es krim pada umumnya.
Berbagai pihak, termasuk pakar gizi dan dokter anak, memberikan pendapat yang beragam. Dr. Rina Suryani, Sp.A, menyatakan, “Jika es krim ini menggunakan bahan baku yang terstandarisasi dan telah melewati proses pasteurisasi, risikonya relatif rendah. Namun, konsumen tetap harus memperhatikan label nutrisi, khususnya kadar gula dan lemak, serta tidak menjadikannya sebagai pengganti ASI asli bagi bayi.”
Berikut adalah rangkuman kelebihan dan kekurangan yang dikumpulkan dari pengalaman Bunda serta opini ahli:
- Kelebihan: Rasa unik yang menarik, potensi nilai gizi tambahan dari kolostrum, serta dapat menjadi alternatif camilan bagi ibu menyusui yang menginginkan sensasi ASI dalam bentuk lain.
- Kekurangan: Kandungan gula dan lemak tinggi seperti es krim pada umumnya, belum ada penelitian jangka panjang tentang manfaat kesehatan, serta kemungkinan menimbulkan harapan keliru bahwa produk ini dapat menggantikan ASI.
Selain itu, Bunda menyoroti aspek emosional. Ia menganggap mencicipi es krim rasa ASI sebagai cara untuk lebih merasakan ikatan batin dengan bayinya, meski secara simbolis. “Saat saya makan es krim ini, rasanya seperti kembali merasakan kehangatan saat menyusui, meski hanya dalam bentuk rasa,” katanya dengan senyum.
Penting untuk dicatat bahwa tidak semua produsen es krim rasa ASI menggunakan ASI asli. Beberapa hanya menambahkan ekstrak atau aroma sintetis yang meniru rasa ASI. Oleh karena itu, konsumen disarankan membaca label dengan teliti, memastikan bahwa bahan yang digunakan memang berasal dari sumber yang terverifikasi.
Dalam konteks pasar makanan inovatif, produk seperti es krim rasa ASI mencerminkan tren konsumen yang semakin mencari pengalaman kuliner yang unik dan bernilai gizi. Namun, keberhasilan produk tersebut tetap tergantung pada edukasi konsumen, transparansi produksi, dan regulasi yang ketat.
Secara keseluruhan, pengalaman Bunda menunjukkan bahwa es krim rasa ASI dapat menjadi camilan yang menyenangkan bagi ibu menyusui, asalkan dikonsumsi dengan bijak. Produk ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti ASI bagi bayi, melainkan sebagai pilihan alternatif yang menambah variasi rasa dan menyalurkan nostalgia kehangatan menyusui. Konsumen diharapkan tetap mengutamakan nutrisi utama bagi bayi, yaitu ASI eksklusif pada enam bulan pertama, serta menjaga pola makan seimbang untuk diri mereka sendiri.