123Berita – 07 April 2026 | Ben Kasyafani kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan cara ia membesarkan putrinya, Sienna Ameerah Kasyafani, yang kini menginjak usia remaja. Di tengah dinamika kehidupan selebriti yang penuh tekanan, sang ayah menegaskan bahwa peran utama yang ia pilih adalah menjadi sahabat sekaligus pembimbing bagi anaknya. Pendekatan ini menekankan pentingnya komunikasi terbuka, empati, dan kepercayaan dalam membentuk karakter remaja yang sehat.
Berbagai langkah konkret yang diterapkan Ben dalam pola asuhnya dapat dirangkum dalam beberapa poin berikut:
- Mendengarkan tanpa menghakimi: Ben selalu meluangkan waktu untuk mendengar curahan hati Sienna, baik tentang masalah sekolah, persahabatan, maupun perasaan pribadi. Ia menekankan pentingnya memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi.
- Mengajarkan kebebasan bertanggung jawab: Alih-alih melarang atau melarang total, Ben memberi kebebasan pada Sienna untuk membuat keputusan, sekaligus mengingatkannya akan konsekuensi yang mungkin timbul. Pendekatan ini bertujuan menumbuhkan rasa tanggung jawab sejak dini.
- Menjaga konsistensi aturan: Meskipun bersikap ramah, Ben tidak mengabaikan aturan rumah. Ia memastikan bahwa batasan seperti waktu penggunaan gadget, jam belajar, dan kegiatan ekstrakurikuler tetap konsisten, sehingga Sienna tahu apa yang diharapkan darinya.
- Berbagi kegiatan bersama: Aktivitas bersama seperti berolahraga, menonton film, atau sekadar jalan-jalan menjadi momen penting bagi keduanya. Kegiatan ini tidak hanya mempererat ikatan emosional, tetapi juga menciptakan ruang alami untuk diskusi terbuka.
- Memanfaatkan teknologi secara positif: Ben tidak melarang penggunaan media sosial, melainkan membimbing Sienna untuk menggunakan platform tersebut secara bijak. Ia menekankan pentingnya etika digital, privasi, serta cara menghindari konten negatif.
Selain strategi di atas, Ben juga menyoroti peran contoh pribadi dalam pola asuh. Ia berusaha menjadi teladan dalam hal disiplin, etos kerja, dan sikap menghargai orang lain. “Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang kami lakukan daripada apa yang kami katakan,” tuturnya. Dengan menampilkan perilaku yang konsisten, Ben berharap Sienna dapat meniru nilai-nilai positif yang ia pegang.
Pentingnya komunikasi tidak hanya terletak pada penyampaian pesan, melainkan juga pada kemampuan membaca bahasa tubuh dan emosi non‑verbal. Ben menjelaskan bahwa ia sering memperhatikan perubahan ekspresi wajah atau nada suara Sienna sebagai indikator adanya masalah yang belum terungkap secara verbal. Pendekatan ini memungkinkan intervensi dini sebelum situasi menjadi lebih rumit.
Tak kalah penting, Ben mengakui bahwa menjadi sahabat sekaligus orang tua bukan berarti menghilangkan otoritas. Ia menyeimbangkan peran tersebut dengan menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada pada orang tua, terutama dalam hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan dan kesejahteraan jangka panjang. Keseimbangan ini, menurutnya, membantu Sienna mengembangkan rasa percaya diri tanpa kehilangan rasa hormat pada batasan yang ada.
Dalam era digital yang semakin kompleks, Ben juga menekankan perlunya edukasi literasi media bagi remaja. Ia mengajak Sienna untuk bersama-sama menelusuri informasi, memeriksa sumber, dan mengkritisi konten yang beredar. Dengan cara ini, Sienna diharapkan dapat menjadi konsumen informasi yang cerdas dan tidak mudah terjebak hoaks atau propaganda.
Secara keseluruhan, pendekatan Ben Kasyafani menyoroti pentingnya membangun hubungan yang didasarkan pada rasa saling menghargai, kepercayaan, dan keterbukaan. Ia percaya bahwa pola asuh yang menempatkan komunikasi sebagai inti dapat membantu remaja menghadapi tantangan kehidupan dengan lebih kuat dan mandiri. Dengan menjadi sahabat bagi Sienna, Ben tidak hanya menyediakan dukungan emosional, tetapi juga menyiapkan landasan yang solid untuk masa depan yang lebih cerah.
Kesimpulannya, strategi komunikasi yang dipilih Ben Kasyafani menunjukkan bahwa peran orang tua dapat bertransformasi menjadi lebih kolaboratif tanpa mengorbankan otoritas. Melalui pendengaran aktif, pemberian kebebasan yang bertanggung jawab, dan contoh perilaku positif, Ben berhasil menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang mendukung kesejahteraan emosional dan sosial Sienna di masa remaja. Pendekatan ini dapat menjadi referensi berharga bagi orang tua lain yang ingin menyeimbangkan kedekatan emosional dengan tanggung jawab parental.