Bandara Kertajati Capai 2,5 Juta Penumpang per Tahun, Bebas Dari Bantuan Keuangan Negara

123Berita – 09 April 2026 | Bandara Internasional Kertajati, yang terletak di Majalengka, Jawa Barat, telah menjadi sorotan publik setelah muncul pernyataan hipotetik bahwa jika bandara tersebut berhasil menarik 2,5 juta penumpang setiap tahunnya, maka tidak lagi memerlukan suntikan dana dari pemerintah. Ide ini menimbulkan diskusi hangat mengenai potensi ekonomi bandara, strategi pemasaran, serta implikasi fiskal bagi daerah dan negara.

Sejak resmi dibuka pada tahun 2018, Bandara Kertajati diharapkan menjadi gerbang utama penerbangan internasional dan domestik di wilayah Barat Jawa. Namun, realitas operasional selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa jumlah penumpang masih jauh di bawah target yang ditetapkan. Pada 2023, total penumpang yang melewati terminal Kertajati masih berada di angka ratusan ribu, bukan jutaan seperti yang diharapkan. Kondisi ini memaksa pengelola bandara, PT Angkasa Pura II, untuk mengajukan permohonan dana bantuan kepada pemerintah pusat guna menutupi defisit operasional.

Bacaan Lainnya

Hipotesis bahwa pencapaian 2,5 juta penumpang dapat menutup kebutuhan anggaran bukan sekadar spekulasi; angka tersebut didasarkan pada perhitungan proyeksi pendapatan dari layanan terminal, parkir, retail, serta biaya aeronautika. Dengan rata-rata pengeluaran per penumpang diperkirakan mencapai Rp150.000, total pendapatan tahunan dapat mendekati Rp375 miliar, yang secara signifikan menutup biaya operasional dan pemeliharaan fasilitas.

Berbagai pihak menyambut gagasan ini dengan optimisme, namun sekaligus menekankan tantangan yang harus diatasi. Berikut beberapa faktor kunci yang harus diperhatikan untuk mencapai target 2,5 juta penumpang:

  • Konektivitas transportasi darat: Aksesibilitas ke bandara masih terbatas. Pengembangan jalan tol, jalur kereta api, dan layanan bus shuttle yang terintegrasi menjadi faktor penentu kenyamanan penumpang.
  • Jaringan penerbangan: Maskapai penerbangan harus meningkatkan frekuensi dan variasi rute, terutama penerbangan langsung ke kota-kota besar serta destinasi internasional yang diminati.
  • Pemasaran destinasi wisata: Jawa Barat memiliki potensi wisata alam dan budaya yang melimpah. Kolaborasi antara otoritas bandara, Dinas Pariwisata, dan industri travel dapat mendorong paket wisata yang memanfaatkan Kertajati sebagai pintu gerbang.
  • Fasilitas dan layanan: Standar layanan terminal, keamanan, dan kenyamanan harus bersaing dengan bandara lain di Indonesia. Penambahan fasilitas seperti lounge, ruang usaha, serta teknologi digital dapat meningkatkan kepuasan penumpang.

Selain faktor-faktor operasional, kebijakan fiskal dan regulasi juga memainkan peran penting. Pemerintah pusat dan daerah perlu menyelaraskan kebijakan pajak, insentif investasi, serta dukungan infrastruktur guna menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan penumpang.

Jika target tercapai, dampak ekonomi tidak hanya terbatas pada pengurangan beban keuangan bandara. Penambahan 2,5 juta penumpang akan merangsang pertumbuhan sektor pariwisata, perdagangan, dan logistik di wilayah sekitarnya. Bisnis lokal, seperti hotel, restoran, dan penyedia transportasi, akan merasakan peningkatan permintaan yang signifikan. Pada gilirannya, pendapatan pajak daerah dapat meningkat, memungkinkan pemerintah daerah untuk berinvestasi lebih banyak dalam pembangunan infrastruktur publik.

Namun, realitas menunjukkan bahwa mencapai angka tersebut bukanlah tugas yang mudah. Selama masa pandemi COVID-19, industri penerbangan mengalami penurunan drastis, dan pemulihan penuh masih memerlukan waktu. Selain itu, persaingan dengan bandara lain, seperti Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta dan Bandara Internasional Ahmad Yani di Semarang, menambah tekanan pada Kertajati untuk menawarkan nilai lebih.

Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) dapat membantu mengidentifikasi langkah strategis. Kekuatan Kertajati terletak pada lokasi strategis di tengah Jawa Barat, lahan luas untuk ekspansi, dan dukungan pemerintah. Kelemahan utama adalah keterbatasan akses transportasi dan volume penumpang yang masih rendah. Peluang muncul dari pertumbuhan pariwisata domestik, kebijakan liberalisasi penerbangan, serta potensi menjadi hub cargo. Ancaman meliputi kompetisi ketat, fluktuasi ekonomi global, dan kebijakan lingkungan yang semakin ketat.

Untuk mewujudkan visi tersebut, rekomendasi konkret meliputi:

  1. Meningkatkan konektivitas jalan tol dan mempercepat pembangunan kereta cepat Jakarta‑Bandung yang akan terhubung ke Kertajati.
  2. Menjalin kerjasama eksklusif dengan maskapai low‑cost dan full‑service untuk membuka rute baru, termasuk penerbangan internasional ke Asia Tenggara.
  3. Meluncurkan kampanye promosi bersama Dinas Pariwisata Jawa Barat, menonjolkan destinasi wisata seperti Gunung Ciremai, Curug Cimahi, dan budaya Sunda.
  4. Menambah fasilitas digital self‑service, seperti check‑in otomatis, e‑boarding pass, dan aplikasi mobile untuk memudahkan perjalanan penumpang.
  5. Memberikan insentif pajak bagi investor yang ingin mengembangkan area komersial di dalam wilayah bandara.

Jika langkah‑langkah ini dijalankan secara terintegrasi, tidak menutup kemungkinan Bandara Kertajati dapat melampaui target 2,5 juta penumpang dalam jangka menengah. Keberhasilan tersebut tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada dana negara, tetapi juga memperkuat posisi Jawa Barat sebagai pusat mobilitas dan pertumbuhan ekonomi.

Secara keseluruhan, pernyataan hipotetik tersebut menjadi panggilan bagi semua pemangku kepentingan—pemerintah, operator bandara, maskapai, serta pelaku industri pariwisata—untuk bersama-sama mengoptimalkan potensi Kertajati. Dengan sinergi yang kuat, bandara ini dapat bertransformasi menjadi aset produktif yang berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional tanpa harus terus mengandalkan bantuan fiskal.

Pos terkait