123Berita – 05 April 2026 | Seorang ayah sekaligus selebriti Indonesia, Atalarik Syach, baru-baru ini mengungkapkan kekhawatirannya terkait putra sulungnya yang kini memasuki masa remaja. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Atalarik menekankan pentingnya menyeimbangkan tanggung jawab dengan kebebasan dalam pola asuh, serta mengingatkan agar anak tidak dipaksa terlalu cepat untuk menjadi dewasa.
Atalarik, yang dikenal melalui penampilan di layar kaca dan media sosial, mengakui bahwa melihat anaknya mulai bertransformasi menjadi remaja menimbulkan perasaan campur aduk. “Saya merasa khawatir, karena usia remaja adalah masa yang sensitif. Anak saya mulai menunjukkan tanda‑tanda perubahan fisik dan emosional, dan saya ingin memastikan dia mendapat pendampingan yang tepat,” ujarnya.
Dalam konteks pola asuh modern, Atalarik menyoroti dua prinsip utama yang ia anggap krusial: tanggung jawab dan kebebasan. Pada satu sisi, ia menegaskan pentingnya menanamkan rasa tanggung jawab sejak dini, seperti mengatur waktu belajar, membantu pekerjaan rumah, dan berpartisipasi dalam kegiatan keluarga. Pada sisi lain, ia menekankan perlunya memberi kebebasan yang terukur, memungkinkan anak mengembangkan minat pribadi, berinteraksi dengan teman sebaya, serta belajar dari pengalaman kegagalan.
Berikut poin‑poin kunci yang disampaikan Atalarik dalam mengatur pola asuh pada masa remaja:
- Komunikasi terbuka: Menjaga dialog dua arah yang jujur, sehingga anak merasa nyaman menyampaikan perasaan dan masalahnya.
- Pengawasan yang tidak mengontrol: Memantau aktivitas tanpa mengekang, memberikan ruang untuk mengambil keputusan sendiri.
- Penetapan batasan yang jelas: Menetapkan aturan rumah yang konsisten, namun fleksibel menyesuaikan dengan tingkat kedewasaan anak.
- Penghargaan atas usaha: Mengakui pencapaian kecil untuk membangun rasa percaya diri.
- Pendidikan nilai moral: Menanamkan nilai kejujuran, empati, dan rasa hormat sebagai landasan karakter.
Atalarik juga mengingatkan pentingnya peran lingkungan sosial di luar rumah. “Teman sebaya, guru, bahkan komunitas digital dapat menjadi sumber belajar yang signifikan. Namun, kita harus tetap waspada terhadap pengaruh negatif yang mungkin muncul,” ujar dia.
Menanggapi pertanyaan tentang bagaimana cara mengatasi tekanan akademis yang sering dirasakan remaja, Atalarik menekankan pentingnya mengatur beban belajar secara realistis. Ia menyarankan agar orang tua bekerja sama dengan sekolah untuk menyesuaikan target belajar yang tidak memberatkan, serta memberi ruang bagi anak untuk mengejar hobi atau kegiatan ekstrakurikuler yang mereka sukai.
Selain itu, Atalarik mengungkapkan kebiasaannya menghabiskan waktu bersama putra sulungnya pada akhir pekan, melakukan aktivitas sederhana seperti bersepeda, memasak bersama, atau sekadar menonton film keluarga. “Kegiatan seperti ini bukan hanya mempererat ikatan, tapi juga memberi kesempatan bagi anak melihat sisi lain dari orang tua yang biasanya tersembunyi di balik kesibukan pekerjaan,” katanya.
Para ahli psikologi perkembangan anak pun sependapat dengan pandangan Atalarik. Dr. Maya Lestari, psikolog anak, menegaskan bahwa tekanan untuk cepat dewasa dapat menimbulkan stres dan menurunkan rasa percaya diri. “Orang tua yang memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh sesuai dengan ritmenya akan membantu mereka mengembangkan identitas yang sehat dan stabil,” jelasnya.
Tak sedikit pula netizen yang memberikan respon positif terhadap pernyataan Atalarik. Banyak yang mengapresiasi sikap realistis dan empatik sang ayah, serta menganggap pesan “jangan buru‑buru gede” relevan bagi banyak keluarga di era digital ini. Beberapa komentar menambahkan, “Kita semua butuh pengingat bahwa masa remaja bukanlah perlombaan, melainkan proses belajar yang berharga,” tulis seorang pengguna.
Dalam menutup pembicaraan, Atalarik menegaskan kembali komitmennya untuk menjadi pendukung utama dalam perjalanan putra sulungnya menuju kedewasaan. “Saya ingin menjadi figur yang dapat dia andalkan, bukan hanya sebagai pemberi perintah. Jika dia merasa aman dan dihargai, saya yakin ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan bahagia,” tutupnya dengan harapan.
Pesan Atalarik Syach ini menjadi contoh penting bagi orang tua, terutama di kalangan selebriti, untuk menyeimbangkan ekspektasi publik dengan kebutuhan emosional anak. Dengan pendekatan yang penuh perhatian, terbuka, dan tidak memaksa, diharapkan generasi remaja Indonesia dapat melewati masa transisi ini dengan lebih tenang dan terarah.