123Berita – 02 April 2026 | Jumat, 2 April 2026 – Pemerintahan Indonesia menyuarakan kemarahan dan keprihatinan mendalam setelah tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) gugur dan lima lainnya terluka dalam serangkaian insiden yang terjadi di wilayah Lebanon Selatan pada akhir Maret 2026. Insiden tersebut melibatkan serangan artileri dan ledakan yang diduga berasal dari tank milik Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di zona konflik yang menjadi bagian dari misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menegaskan, “Kami sangat marah!” dan menuntut penyelidikan internasional yang transparan.
Korban TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda UNIFIL terdiri dari delapan personel. Tiga di antaranya tewas dalam dua hari berturut‑turut, sementara lima lainnya mengalami luka ringan hingga berat. Nama-nama korban adalah sebagai berikut:
- Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar (gugur pada 30 Maret 2026 di Bani Haiyyan)
- Sertu Muhammad Nur Ichwan (gugur pada 30 Maret 2026, rekan satu kendaraan dengan Kapten Zulmi)
- Praka Farizal Rhomadhon (gugur pada 29 Maret 2026 di Desa Adchit Al Qusayr akibat tembakan artileri)
- Lettu Sulthan Wirdean Maulana (luka berat)
- Praka Rico Pramudia (luka berat)
- Praka Deni Rianto (luka berat)
- Praka Bayu Prakoso (luka ringan)
- Praka Arif Kurniawan (luka ringan)
Menurut laporan investigasi sementara yang dilakukan oleh tim PBB di lokasi kejadian, serpihan proyektil yang ditemukan di titik ledakan mengindikasikan penggunaan amunisi tank dengan karakteristik yang konsisten dengan persenjataan militer Israel. Bukti material ini memperkuat dugaan bahwa serangan tersebut bukan sekadar tembakan lintas‑batas yang tidak disengaja, melainkan tindakan yang sengaja diarahkan ke area penempatan pasukan perdamaian.
Pernyataan resmi IDF menolak sepenuhnya tanggung jawab penuh atas tragedi tersebut. Pihak militer Israel menegaskan bahwa insiden terjadi di zona pertempuran aktif, dimana risiko cedera bagi semua pihak, termasuk pasukan PBB, sangat tinggi. Mereka menolak tuduhan langsung tanpa penyelidikan komprehensif, mengingat kompleksitas medan perang yang melibatkan kelompok Hizbullah dan elemen lain.
Sementara itu, Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB, Umar Hadi, menuntut penyelidikan independen oleh Dewan Keamanan PBB. “Kami menuntut investigasi oleh PBB, bukan alasan‑alasan sepihak dari Israel,” ujar Hadi pada sidang darurat PBB tanggal 31 Maret 2026. Ia menambahkan bahwa setiap pihak yang berkonflik wajib menjamin keselamatan personel PBB, sesuai mandat UNIFIL.
Gubernur Anies Baswedan, yang mewakili kepedulian publik, mengeluarkan pernyataan emosional di kantor gubernur. Ia menekankan rasa marah dan duka mendalam atas kehilangan prajurit Indonesia di medan internasional. “Mereka berkorban demi perdamaian dunia, dan kita tidak akan tinggal diam. Pemerintah harus menuntut pertanggungjawaban yang tegas,” kata Anies dalam konferensi pers singkat. Ia juga menyerukan dukungan moral bagi keluarga korban dan menegaskan komitmen Indonesia dalam menjaga integritas misi perdamaian PBB.
Reaksi domestik turut menguatkan desakan Indonesia kepada komunitas internasional. Berbagai organisasi veteran, LSM hak asasi manusia, dan tokoh masyarakat mengirimkan surat terbuka yang menuntut aksi konkrit. Mereka menekankan pentingnya penegakan hukum internasional dan menolak segala bentuk impunitas terhadap tindakan yang menargetkan personel penjaga perdamaian.
Sejak insiden, UNIFIL telah meningkatkan prosedur keamanan di pos‑posnya dan berkoordinasi dengan semua pihak yang terlibat untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Namun, situasi di perbatasan Lebanon‑Israel tetap tegang, dengan laporan sporadis tentang tembakan artileri, roket, dan pertempuran darat yang melibatkan Hizbullah.
Dengan tiga prajurit TNI yang telah gugur dan lima lainnya yang masih menjalani perawatan medis, pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan kasus ini secara intensif. Pemerintah berjanji akan terus menuntut keadilan bagi para korban melalui jalur diplomatik dan hukum internasional.
Kesimpulannya, serangkaian serangan di Lebanon Selatan pada akhir Maret 2026 telah menelan korban jiwa dan luka pada personel TNI yang menjalankan misi damai UNIFIL. Reaksi keras dari Anies Baswedan mencerminkan sentimen nasional yang menuntut akuntabilitas penuh dari pihak yang bertanggung jawab. Indonesia kini berada di jalur diplomatik yang tegas, menuntut penyelidikan PBB yang transparan dan menegakkan prinsip perlindungan terhadap personel perdamaian di medan konflik global.


