123Berita – 10 April 2026 | Bek kiri asal Skotlandia, Andy Robertson, resmi dipastikan akan mengakhiri masa baktinya bersama Liverpool pada akhir musim 2025/2026. Keputusan ini menandai berakhirnya era kepemimpinan sekaligus kebanggaan bagi klub yang telah menjadikan Robertson salah satu pilar pertahanan utama selama hampir satu dekade. Sejak kedatangannya pada 2017, sang pemain tak hanya menjadi figur kunci dalam taktik Jürgen Klopp, tetapi juga simbol dedikasi dan kerja keras yang menginspirasi rekan setim serta para pendukung Anfield.
Robertson, yang bergabung dari Hull City pada Januari 2017, dengan cepat menancapkan dirinya sebagai starter utama. Kecepatan, kemampuan menekan lawan, serta akurasi umpan silang membuatnya menjadi ancaman konstan di sisi kiri lapangan. Selama masa tinggalnya, Liverpool berhasil mengangkat trofi bergengsi seperti Liga Champions 2019, Premier League 2020, serta beberapa piala domestik lainnya. Statistik menunjukkan bahwa sejak 2017, Robertson mencatat lebih dari 150 penampilan di semua kompetisi, dengan rata-rata 2,3 intersepsi per pertandingan dan rata-rata 1,1 assist per musim.
Pengumuman bahwa musim 2025/2026 akan menjadi musim terakhirnya menimbulkan spekulasi di kalangan pundit dan suporter. Beberapa analis menilai bahwa usia 30 tahun menjadi faktor utama, mengingat tuntutan fisik peran bek kiri di Premier League yang semakin menuntut stamina dan kecepatan. Di sisi lain, kontrak yang akan habis pada musim mendatang memberi klub ruang untuk merencanakan transisi tanpa harus mengorbankan stabilitas lini belakang pada saat-saat krusial kompetisi.
Bagaimana dampak kepergian Robertson terhadap Liverpool? Pertama, kepemimpinan di lapangan akan terasa kosong. Sebagai kapten cadangan sekaligus sosok yang selalu mencontohkan etos kerja, ia menjadi teladan bagi generasi muda. Kedua, aspek taktik. Klopp sangat mengandalkan overlapping full‑back yang dapat memberikan variasi serangan melalui sayap kiri. Tanpa Robertson, opsi pengganti harus mampu menyeimbangkan kemampuan defensif dan kontribusi ofensif. Peluang muncul bagi pemain muda seperti Alisson Tavares atau transfer potensial yang dapat diintegrasikan dalam sistem permainan.
Selain faktor taktik, aspek psikologis tak dapat diabaikan. Liverpool dikenal memiliki atmosfer kebersamaan yang kuat, dan kepergian pemain senior biasanya memicu dinamika baru di dalam kamar ganti. Namun, sejarah klub menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi, terutama setelah kepergian pemain kunci sebelumnya seperti Jordan Henderson atau Roberto Firmino. Manajer Jürgen Klopp diyakini akan memanfaatkan momentum ini untuk menyuntikkan semangat kompetitif baru, sekaligus memberi kesempatan bagi pemain muda menonjol.
Di luar lapangan, Robertson juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan komunitas di Liverpool. Program “Robertson’s Foundation” yang fokus pada pendidikan dan olahraga bagi anak-anak kurang mampu menjadi bagian penting dari citra positif klub. Kepergiannya dapat menimbulkan tantangan bagi komunitas untuk melanjutkan inisiatif tersebut, namun kerja sama dengan organisasi lokal dan sponsor diharapkan dapat menjaga keberlangsungan program.
Secara keseluruhan, kepergian Andy Robertson menandai akhir sebuah babak penting dalam sejarah Liverpool modern. Meski demikian, warisan yang ditinggalkannya—dari konsistensi defensif, kontribusi serangan, hingga kepemimpinan moral—akan terus menjadi acuan bagi generasi berikutnya. Liverpool dipastikan akan menyusun strategi transfer dan pengembangan pemain muda untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan, sambil tetap menjaga ambisi kompetitif di kompetisi domestik dan Eropa. Bagi para pendukung, kenangan akan aksi-aksi menakjubkan Robertson di Anfield akan tetap hidup, menunggu babak baru yang menjanjikan.